Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Wujud, Mengapa Tuhan Harus Ada?

Wujud, Mengapa Tuhan Harus Ada?

Pertanyaan filosofis ini tidak pernah lekang oleh waktu. Perdebatan pemikiran sampai sekarang masih kerap terjadi, dan hingga saat ini pula masih terdapat orang-orang yang sama sekali mengingkari eksistensi Tuhan yang kerap disebut ateis. Dalam terma keyakinan Islam pembahasan eksistensi Tuhan dibahas secara cukup komprehensif dalam ilmu akidah, bab sifat nafsiyah atau kerap disebut wujud. Selain sifat nafsiyah tadi, para ulama akidah juga membagi sifat Tuhan pada sifat salbiyyat dan ma’any. Akan tetapi karena keterbatasan kesempatan pada ulasan singkat ini penulis hanya akan membahas sifat wujud yang menjadi landasan dari sifat Tuhan lainnya.

Wujud secara bahasa berarti eksistensi sesuatu. Atau secara istilah dapat difahami bahwa eksistensi tuhan ada karena dzatnya yang abadi, azali dan tidak disebabkan oleh sesuatu. Eksistensi tuhan berbeda dengan eksistensi dari makhluknya yang ‘ada karena sesuatu yang menciptakan.’ Ialah sumber dari segala penciptaan, dan tidak akan ada ciptaan tanpa seorang pencipta, maka dari itu eksistensinya harus ada karena ciptaannya saat ini secara zahir jelas dapat dideteksi dari panca indera manusia dan akalnya. Untuk membuktikan eksistensi atau wujud dari Tuhan, para ulama akidah umumnya memberikan tiga jenis bukti: Bukti Pemeliharaan dan Penciptaan, Bukti Hudus, dan Bukti Wajib.

Detail bukti dari wujud (eksistensi) Tuhan

–          Bukti pemeliharaan dan penciptaan

Bukti ini sebenarnya amatlah sederhana dan amat mudah difahami. Tuhan dalam hal ini Allah Swt telah memelihara manusia dan menciptakan segala hal di muka bumi ini demi kelangsungan hidupnya. Segala hal esensial disediakan untuk manusia, penciptaan siang dan malam, air, tanah, tumbuhan dan hewan seluruhnya menyatakan bahwa hal itu diperuntukan bagi manusia dan diciptakan oleh Allah yang Mahamampu.

Banyak Ayat Al Quran yang turut menyinggung permasalahan ini di antaranya adalah Q.S An Naba ayat 6-16:

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (7) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12) وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا (13) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا (16)

  1. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, 7. dan gunung-gunung sebagai pasak?, 8. dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, 9. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, 10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, 11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, 12. dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, 13. dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), 14. dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, 15. supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, 16. dan kebun-kebun yang lebat?

Ayat-ayat seperti yang disebutkan di atas amatlah banyak jumlahnya di dalam Al Quran. Secara langsung ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa untuk hidup telah Tuhan sediakan apapun yang dibutuhkan oleh manusia.

Install Takwa App

–          bukti Hudus (eksistensi berawal dari pencipta)

Dalam pengaplikasiannya para ulama menyatakan bahwa segala hal di dunia ini fana dan berubah dan setiap yang berubah ini tanda dari hudus, yaitu memerlukan entitas lainnya yang kekal untuk menjadikannya eksis. Lantas, para ulama mencoba membuat tabel logis sederhana yang menyatakan kaidah tersebut. Kurang lebih argumen itu tercermin dalam rumusan berikut:

  •         Dunia ini dipenuhi dengan segala yang berubah eksistensinya.
  •         Dan segala yang berubah eksistensinya memerlukan entitas yang menciptakannya.
  •         Maka dunia ini ada yang menciptakannya.

Jika dilihat dengan pandangan yang lebih sederhana seuatu entitas di muka bumi apabila eksis tanpa pencipta, maka lazimnya adalah kita membenarkan ada sesuatu di muka bumi ini tanpa adanya pencipta, dan hal tersebut mustahil. Karena realita yang diketahui manusia setiap apa yang ada di bumi ini lahir oleh sesuatu yang mendahuluinya.

–          Bukti Wajib

Jika melihat hukum akal, eksistensi tuhan akan terbagi menjadi 3 perkara: mustahil, mungkin dan wajib. Pertama Tuhan tidak mungkin disifati dengan mustahil, karena segala hal yang mustahil tidak ada sama sekali entitasnya dari sisi logika, maka mustahil pula Ia dapat menciptakan segala hal di bumi ini. Begitupun Tuhan tidak dapat disifati dengan mungkin. Hal ini karena sebuah entitas yang mungkin ada lazimnya memiliki sesuatu yang menjadikannya ada, dan wujudnya ada karena wujud lainnya, proses ini dalam ilmu akidah dinamakan daur wa tasalsul, yang tidak lain adalah sebuah cacat logis.   

Jika Tuhan tidak mustahil dan tidak pula mungkin, maka tidak ada pilihan lainnya kecuali eksistensi Tuhan itu wajib. Ia adalah yang menciptakan segala hal dari jagat raya ini. Semua butuh pada-Nya dan Ia tidak butuh pada siapapun untuk mentasbihkan wujudnya. Selain dalil yang disebutkan tadi para ulama akidah banyak menyebutkan bukti lainnya tentang keeksistensian Tuhan, hanya saja kesempatan untuk memaparkannya terbatas.

baca juga:Detik-detik Penyerahan Catatan Amal Manusia

Dan untuk mengakhiri catatan singkat ini penulis akan menyisipkan sebuah hikayat masyhur di kalangan para ulama akidah. Dalam sebuah riwayat disebutkan suatu saat Imam Fakhrudin Ar Razi tiba di suatu daerah untuk menyelenggarakan sebuah pengajian tentang akidah. Lantas masyarakat pun berimbun menghampirinya, sementara itu di sebuah sudut kota ada masyarakat biasa yang bertanya, “siapa gerangan yang hadir ke tempat ini?” lantas dijawab, “benarkah kau tidak tahu siapa dia? Dia Adalah Ar Razi yang dapat membuktikan wujud Tuhan dengan 1000 bukti.” Lantas ia menjawab, “Sungguh sulit hidupnya, aku tidak memerlukan bukti apapun untuk menyatakan keberadaan Tuhan.”

Wallaua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *