Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Wahdaniyah, Dia Adalah Satu dalam Dzat, Sifat dan Perbuatan

Wahdaniyah, Dia Adalah Satu dalam Dzat, Sifat dan Perbuatan

Tidak sulit untuk mencerna bahwa hakikat pengatur dunia ini satu. Dzat yang satu ini adalah yang menciptakan langit, bumi dan seisinya. Dia pula yang mengawali dan mengakhiri ciptaan-ciptaannya. Semua tunduk pada yang Satu. Dia pengatur semua alam dan penjaganya sekaligus. Semua berhak meminta apapun pada yang Satu ini. Dia pemberi rizki dan Dia juga yang tidak memberikan rizki. Dia yang menghidupkan makhluk, dan Dia juga yang mematikannya. Dalam terma akidah, pembahasan ini dikenal dengan Wahdaniyah, yaitu Dia yang satu tiada duanya, baik dzat, sifat maupun perbuatan.

Sebaliknya, permasalahan akan muncul di saat logika dipaksa untuk memahami bahwa Pencipta bumi ini berjumlah lebih dari satu, akan timbul beribu pertanyaan yang mengiringi seperti bagaimana jika Tuhan A, misalnya menghendaki hujan dan Tuhan B, menghendaki cerah. Maka kedua Tuhan tadi hanya memiliki dua kemungkinan; Pertama, keduanya memiliki superioritas atas lainnya, yang menyebabkan satu unggul atas lainnya. Itu tidak mungkin karena sebagaimana diketahui kuasa Tuhan umum, meliputi segala.  Kedua, mungkin adanya dua hal bertentangan, dalam pembahasan ilmu akidah ini disebut dalil ikhtilaf, yaitu apabila mungkin untuk dua Tuhan sepakat untuk menjadikan hujan, maka mungkin juga untuk terjadinya cerah. Hal ini batal dan menyelisihi logika, bagaimana bisa ada dua eksistensi dalam satu tempat dan waktu, Ada hujan dan tiada hujan?

Bukti sifat wahdaniyah dan aplikasinya dalam kehidupan

Tentunya masing-masing muslim telah hafal ayat-ayat yang menyatakan keesaan Allah Swt, seperti kedua ayat berikut ini, QS Al Ikhlas ayat 1 dan QS Al Baqarah 163.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

 “katakan lah Dia adalah Allah yang Satu”

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ 

“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang Satu, tiada tuhan selain dia yang maha pengasih lagi maha penyayang”

Install Takwa App

Kedua ayat tadi menyatakan bahwa Allah Swt adalah entitas tunggal baik dari sisi dzat-Nya yang mulia, dan selain dari dzat-Nya yang menyerupai. Maksudnya, dari sisi dzat-Nya Tuhan tidak seperti manusia yang terdiri dari partikel-partikel yang saling bersusun. Ia merupakan entitas sempurna berbeda dari dzat makhluk-makhluknya dan tiada yang menyerupainya, laisa kamislihi syai’un. Begitu pula tiada entitas lain menjadi tandingan, pembanding, walaupun semua dapat mencipta dan berbuat sesuatu, ciptaan Allah Swt dan perbuatan Allah Swt berbeda dari makhluk-makhluk-Nya.

Imam Iiji, seorang pembesar Ilmu Kalam, dalam Al Mawaqif berpendapat bahwa tiada seorang pun menyelisihi pendapat ini kecuali yang meyakini dua tuhan; Mereka berpendapat di dunia ini kita melihat dua perkara kebaikan dan keburukan.  Dan seorang yang berbuat baik dan buruk tidak melakukan perbuatan tersebut begitu saja, masing-masing ada yang menciptakan dan berbuat untuknya. Tampaknya, mereka memaksudkan yang berbuat baik ini adalah yang mayoritas terdapat sisi baik dalam dirinya jauh dari keburukan, begitupun sebaliknya seperti difahami dalam konteks bahasa. Dan hal tersebut tidak dapat dipungkiri.

Imam Iiji melanjutkan, mungkin saja dikatakan kepada mereka bahwa yang baik apabila tidak dapat menghentikan kejahatan, maka ia adalah seorang yang jahat, begitupun sebaliknya. Jika ia tidak dapat menghentikan keburukan atau kebaikan maka Ia bisa dikatakan memiliki kelemahan. Dengan ini pendapat mereka dapat dipatahkan sendiri oleh kenyataan yang lebih realistis. Pendapat Imam Iiji ini sekaligus menafikan kalangan yang meyakini entitas Tuhan yang lebih beragam, sebagaimana kepercayaan kuno bangsa Yunani, Mesir dan peradaban kuno lainnya.

Baca juga: Wujud, Mengapa Tuhan Harus Ada?

Sampai sini timbul pertanyaan sejauh mana pengaplikasian makna tauhid ini di dalam diri kita? Untuk menjawabnya hendaknya kita berkaca, setelah menyadari bahwa sumber dari segala kebaikan dan keburukan adalah satu, apakah pantas bagi seorang muslim berputus asa? Bukan kah Dia sendiri pemilik segala yang ada di dunia ini? Mengapa perlu berharap pada selain dari pada Dia? Jika Dia-lah satu-satunya penolong yang tiada berkhianat. Secara tidak langsung sifat wahdaniyah ini memberikan spirit tersendiri kepada umat muslim untuk selalu memaksimalkan usaha dan melapangkan dada untuk bertakwakkal karena semua bersumber dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya, Ridha-Nya adalah tujuan dari kehidupan.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *