Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Umar Bin Khattab, Shahabat Lambang Keadilan Islam

Umar Bin Khattab, Shahabat Lambang Keadilan Islam

Siapa yang tidak mengenali Umar bin Khattab? Beliau adalah orang yang mendapatkan julukan Abi hafsh dari Rasulullah Saw. Arti dari Abi Hafsh bukan hanya berarti ayahnya Hafshah (salah satu anaknya sayyidina Umar sekaligus Istri Rasulullah Saw) tapi ia juga berarti “sang singa” karena kegarangannya. Kegagahan dan keperkasaannya sudah nampak sejak muda, itu terbukti karena ia adalah juara bertahan pada pertandingan gulat yang diselenggarakan setiap tahun di pasar ‘Ukaz (salah satu pasar yang terkenal di kota mekah).

Bahkan Michael Hart dalam bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History  memasukan nama Umar bin Khattab ke dalam deretan nama besar yang paling berpengaruh di sejarah kemanusiaan bersama nabi Muhammad Saw dan lainnya. Michael Hart menuliskan bahwa Umar telah berjasa untuk memperluas pengaruh Islam ke berbagai wilayah dengan waktu yang relatif singkat.  

Keislaman Umar bin Khattab

Umar bin khattab baru masuk Islam pada tahun keenam setelah nabi Muhammad Saw diangkat menjadi rasul.

Pada awalnya, beliau termasuk orang yang menentang keras agama Islam. Bahkan jika ada salah seorang budaknya yang ketahuan masuk Islam, maka ia akan menyiksanya tanpa ampun. Namun Pada suatu hari beliau mendapat kabar bahwa Fathimah binti Khattab (adik perempuannya Umar) dan suaminya masuk Islam. Seketika itu juga ia menjadi marah dan geram karenanya.

Umar segera menuju rumah adiknya itu. Sesampainya di sana sayup-sayup ia mendengar seperti ada seseorang yang sedang membaca sesuatu dan benarlah saat ia masuk, ia melihat adiknya Fathimah dan suaminya sedang memegang lembaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat suci Al-Qur’an. Menurut sebagian riwayat, ayat itu adalah permulaan surah Taha. Tanpa berpikir panjang ia lantas memukul Sa’id (suaminya Fathimah) dan adiknya sendiri sampai wajah mereka berdarah-darah.

Umar kemudian mengambil lembaran tersebut dan membacanya. Setelah membacanya, Umar Radhiyalahu ‘an pun merasakan damai dan ketenangan di hatinya. Ia merasa penasaran sekaligus takjub akan keindahan ayat-ayat Al-Qur’an yang tertulis di lembaran tersebut. Dengan membawa rasa penasaran tersebut, kemudian ia pergi mencari nabi Saw. yang saat itu sedang berada di rumahnya Al-Arqam.

Pada saat itu, Rasulullah Saw masih  menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi di rumah sahabat Al-Arqam bin Abil Arqam karena jumlah umat Islam yang masih sedikit. Sampailah Umar di rumah Al-Arqam dan sontak para sahabat gemetar ketakutan ketika mendengar kabar datangnya Umar, kecuali Hamzah bin Abdul Muthalib, paman nabi Muhammad Saw. Hamzah berdiri menyambut kedatangan Umar sambil berkata: “Kalau kau datang dengan maksud baik kami terima engkau, tapi jika kau kemari untuk membunuh Muhammad maka kami akan membunuhmu dengan pedangmu sendiri.”

Install Takwa App

Namun, dengan tenang dan kewibawaannya Rasulullah Saw. membiarkan Umar masuk. Setelah masuk kemudian nabi bertanya: “Apa yang membuatmu datang kemari, wahai Umar?”. Umar menjawab: “Aku datang untuk beriman kepada Allah. Aku datang untuk beriman bahwa engkaulah utusan Allah, dan aku datang untuk beriman pada apa yang diturunkan kepadamu yang telah aku baca di rumah adikku tadi (Al-Qur’an)”.

Lalu ia bersyahadat di depan nabi Muhammad Saw. para sahabat yang menyaksikannya pun langsung merasa senang gembira karena pada akhirnya terkabul lah doa nabi Saw. yang sangat menginginkan masuk Islamnya salah seorang dari dua Umar. Karena pada saat itu ada dua Umar yang terkenal sangat kuat di kota mekah. Yaitu, Umar bin Khattab dan Umar bin Hisyam (Abu jahal). Doanya nabi adalah:

اللّهُمَّ أعِزَّ الْإسْلَامَ بِأحَدِ الْعُمَرَيْنِ 

“Ya Allah, perkuatlah agama Islam ini dengan masuk Islamnya salah satu dari dua Umar”

Setelah masuknya Umar bin khattab ke dalam Islam, ia seperti memberi nafas baru ke agama ini karena orang-orang muslim merasa ada dua singa yang berada di pihak mereka. yaitu, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Lalu ia terus menjaga Islam dan menjadi muslim yang sangat taat. Kecerdasan dan keberaniannya untuk menegakkan kebenaran membuatnya mendapatkan julukan baru dari Rasulullah Saw. yaitu, Al-Faruq. Artinya “sang pembeda” Karena ia dapat dengan jelas bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil dan dengan lantang ia berani menyuarakannya.

Ketika Rasulullah Saw. meninggal, dan sahabat Abu Bakar Ash-shiddiq menggantikan kepemimpinan rasul Umar radhiyalahu’an menjadi orang pertama di dalam Islam yang menjabat sebagai Qadhi (hakim). Setelah wafatnya Abu bakar kemudian ia terpilih untuk menjadi khalifah selanjutnya dan orang pertama sebagai khalifah yang mendapat julukan Amirul mu’minin yang berarti pemimpin orang-orang beriman. Cerita tentang kecerdasannya dan keadilannya ketika memimpin banyak ditulis dengan tinta emas oleh para sejarawan.

Wilayah kekuasaan Islam meluas dibawah kepemimpinannya bahkan sampai ke mesir. Lalu Umar bin khattab mengutus Amr bin Ash untuk menjadi gubernur di sana. Pada suatu hari anaknya Amr bin Ash melakukan lomba balap kuda dengan salah seorang Kristen koptik di Mesir namun kemudian ia kalah. Tak terima dengan kekalahannya ia pun mencambuk kristen koptik itu sambil berkata “berani-beraninya kamu mengalahkanku, aku adalah keturunan orang mulia. Ayahku adalah gubernur disini!”

Baca juga: Keteladanan Sahabat Rasul, Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq

Tidak terima dengan perlakuan anak dari Amru bin Ash, lantas ia mendatangi Umar bin Khattab di Madinah dan menceritakan kejadian yang dialami. Ketika mendengar ceritanya, Umar langsung memerintahkan Amr bin Ash dan anaknya untuk berhadapan dengannya. Setelah mereka berdua sampai di Madinah Umar langsung memerintahkan kristen koptik untuk melakukan qishas kepada anaknya Amr bin Ash. Ketika ia selesai melakukan Qishas, Umar menyuruhnya untuk melakukannya kepada Amr bin Ash juga.

Mendengar itu, lelaki Qibthy asal Mesir menjadi bingung seraya bertanya, “wahai amirul mu’minin. Urusanku dengan anaknya gubernur sudah selesai, mengapa engkau menyuruhku untuk melakukannya juga kepada Amr bin Ash?” Umar pun menjawab “Anaknya Amru bin Ash ini berani mencambukmu karena kekuasaan ayahnya, karena itu ia pun bertanggung jawab atas hal itu” kemudian Umar mengatakan sesuatu yang oleh para sejarawan ditulis dengan tinta emas. Ia berkata:

مَتَى اسْتَبْعَدْتُمُ النَّاسَ وَ قَدْ وَلَدَتْهُمْ أمَّهَاتُهُمْ أحْرَارًا

“Sejak kapan kamu menjadikan manusia sebagai budak? Padahal ibu mereka telah melahirkannya dalam keadaan merdeka”

Sebuah ucapan yang selalu dijadikan landasan kesetaraan derajat manusia. Inilah sekelumit cerita tentang Umar bin Khattab. Ia mengakkan keadilan tanpa pandang bulu. Tidak peduli entah orang itu muslim atau non muslim, anak bangsawan atau orang biasa. Karena baginya yang benar adalah benar, yang salah adalah salah.

Wallahu a’lam bishawab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *