Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Tawakal Adalah Cerminan Keimanan

Tawakal Adalah Cerminan Keimanan

Di antara cerminan keimanan adalah memasrahkan hasil dari usaha hanya ke pada Allah Swt. Sifat ini dinamakan tawakal di dalam Islam. Seorang muslim perlu terus melatih diri agar melimpahkan seluruh kondisi dalam hidupnya ke pada Allah Swt, dalam rangka meningkatkan kualitas keimanannya. Seorang ulama kharismatik asal Mesir yang dijuluki imam para dai, Syeikh Mutawally Sya’rawy mendefinisikan tawakal dengan mewakilkan segala perkara ke pada yang dipercayainya tentang seluruh perkara dan kemaslahatannya.

Dalam pengamalannya beliau menjelaskan sebuah kalimat yang memiliki makna dalam; Al Jawaarihu ta’mal, wal qulub tatawakkal. Artinya anggota badan berupaya dan hati bertawakal. Beliau menjelaskan tawakkal adalah perbuatan hati yang pengetahuannya terbatas antara seorang hamba dan Tuhannya. Pada akhirnya tawakal lah yang akan menguatkan manusia untuk tidak menyerah atas segala kondisi, di saat seorang hamba berhasil atas sebuah pencapaian maka ia akan bersyukur dan di saat ia gagal maka hamba ini akan bersabar.

Syeikh Muhammad Abdullah Darraz dalam Dustur Akhlak Fil Quran, mengkategorikan sikap tawakal sebagai cerminan dari pengharapan dan kepercayaan hanya kepada-Nya. Banyak ayat di dalam Al Quran menjelaskan perkara tawakal di antaranya adalah Qs. Ali Imran, 160,

إِن يَنصُرْكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا ٱلَّذِى يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعْدِهِۦ ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

Dan Qs Az Zumar, 38.

قُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ

Install Takwa App

Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

Hal yang perlu difahami dalam dalam tawakal

Dr Maher Mahran Usman, seorang ulama asal Sudan menjelaskan tiga hal yang perlu difahami seorang muslim dalam bertawakal hingga ia tidak terjebak dalam hidupnya. Pertama, tawakal tidak menafikan bagi kita untuk akhdhul asbab atau melaksanakan usaha untuk sebuah tujuan. Dari Anas bin Malik Ra, ia berkata, telah berkata seorang lelaki kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah aku mengikatnya (unta) dan bertawakal, atau aku bebaskan ia dari tali dan kemudian bertawakal?, Rasulullah Saw berkata, “ikat lah ia kemudian bertawakal lah.” Sunan Tirmidzi.

Sebuah hadis dalam Shahih Bukhari dari periwayatan Ibnu Abbas Ra, ia berkata dulu penduduk Yaman berhaji dan tidak berbekal, dan mereka berkata “kami adalah orang-orang yang bertawakal. Dan di saat mereka sampai Mekkah mereka meminta pada orang-orang. Maka turunlah ayat Al Baqarah, 197. wa tazawwaduu fainna khaira zaadi at taqwa. “maka berbekal lah, maka sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah ketakwaan.” Demikian tadi adalah tuntunan dari Rasulullah tentang keharusan seseorang untuk berupaya terlebih dahulu sebelum bertawakal.

Kedua, berbuat lah sesuatu walaupun hal itu kecil dan terbilang remeh. Kisah Sayyidah Maryam dengan bayinya nabi Isa As. di dalam Al Quran adalah sebaik-baik bukti dalam perkara ini. Allah Swt tetap memerintahkan Sayyidah Maryam untuk menggetarkan pohon kurma untuk “pasokan logistik” ia dan anaknya. Padahal, pohon kurma adalah jenis pohon yang amat besar, berdiameter dua sampai tiga kali lipat dari pohon kelapa, dengan tinggi yang menjulang. Mungkin kah seorang ibu menyusui untuk meraih kurma langsung dari pohonnya hanya dengan menggetarkannya? Jawabannya adalah mungkin, karena hasil adalah perkara Allah Swt, Sayyidah Maryam hanya dituntut perkara mudah untuk menyatakan kuasa Allah Swt.

Ketiga, jangan lah bertopang pada usaha, tapi bertopang dan bersandar lah pada Allah Swt. Setelah menunaikan upaya dengan maksimal, seorang muslim hanya perlu untuk bersabar atas segala ketetapan Allah Swt. Karena Dia-lah yang menentukan semua, bagi-Nya segala hal yang mustahil di mata manusia mudah untuk-Nya. Lihat lah bagaimana Dia melindungi nabi Ibrahim As dari api raja Namrud. Dan lihat lah bagaimana Allah menjaga nyawa dari nabi Ismail As saat nabi Ibrahim As menyembelihnya.

Baca juga: Seni dalam Islam, Problematika & Jawaban

Demikian lah tawakal adalah tujuan dan penuntas sebuah usaha dari seorang muslim. Ia menjadi semacam kekuatan cadangan yang Allah Swt persiapkan bagi hamba-hambanya yang beriman. Apabila seseorang telah pasrah pada ketetapan Allah maka tiada baginya waktu untuk menyesali segala perkara, ia akan tetap semangat dan berbuat hal yang lebih baik lagi sesuai tuntunan yang berlaku.

Wallahua’lam bishowab.

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *