Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Sunnah-Sunnah di Bulan Ramadhan

Sunnah-Sunnah di Bulan Ramadhan

Sunnah secara bahasa berarti jalan. Definisinya semakin spesifik dalam penggunaannya selepas turunnya syariat Islam. Pengartiannya kini mencakup segala hal yang berasal dari Rasul baik itu berupa perkataan, perbuatan maupun keputusan. Tadi itu adalah pengertian sunnah dari perspektif ulama hadis, sementara bagi ulama fikih sunnah berarti perbuatan yang bila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapatkan konsekuensi apapun. Dalam catatan singkat kali ini, penulis akan menjabarkan beberapa  sunnah di bulan Ramadhan yang tentunya dapat kita amalkan.

Sunnah di bulan Ramadhan beserta dalil

–          Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka

Sahur sendiri merupakan sunnah dari Rasulullah SAW, berarti andaikan seorang muslim berpuasa tidak melaksanakan sahur dengan alasan apapun tidak menjadikan puasa seseorang tidak sah. Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Imam Muslim:

“تسحروا فإن في السحور بركة”

“bersahurlah, maka sesungguhnya di dalam sahur ada keberkahan.”

Secara lebih spesifik, Rasulullah SAW juga menghimbau umatnya untuk mengakhirkan sahur, yaitu mengakhirkannya hingga mendekati waktu fajar. Imam Ahmad juga mengabarkan bahwa di antara maksud dari perintah Rasul ini adalah untuk menyelisihi kaum Yahudi yang kerap mengawalkan sahur.

Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk menyegerakan berbuka. Sesuai dari hadis Imam Bukhari:

Install Takwa App

لايزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Umatku berada dalam kebaikan selama mereka bergegas untuk berbuka.” Penyegeraan berbuka ini tentu selain berkaitan dengan kesehatan, juga berkaitan dengan dua kebahagiaan yang perlu umat muslim dapatkan selama bulan puasa yaitu nikmat berbuka dan nikmat untuk melihat Tuhannya di akhirat.

–          Memberikan makanan untuk berbuka

Bulan ramadhan adalah bulan kebaikan, setiap kebaikan di dalamnya akan bernilai besar. Karena itu Rasulullah SAW menghimbau agar umat muslim lebih dermawan di bulan ini, salah satu jalannya adalah dengan memberikan makanan bagi umat muslim untuk berbuka. Sesuai dengan hadi dari Imam An Nasai:

“من فطر صائماً كتب له مثل أجره إلا أنه لا ينقص من أجر الصائم شيء” رواه النسائي

–          Berbuka dengan kurma atau air

Selain dasar syariat yang menjadikan kurma sebagai makanan anjuran untuk berbuka puasa, secara klinis kurma juga memiliki kandungan yang memang dibutuhkan tubuh terutama ketika berbuka. Di antara khasiat kesehatan yang dimiliki kurma adalah; kurma mengandung glukosa yang dapat mengembalikan tenaga sesaat setelah berbuka, kalium yang baik untuk jantung dan magnesium yang berguna untuk peredaran darah.

Sementara dalil agama dari penggunaan kurma saat berbuka adalah sebagai berikut:

عن سلمان بن عامر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا كان أحدكم صائماً فليفطر على التمر، فإن لم يجد التمر فعلى الماء، فإن الماء طهور” رواه الخمسة

Dari Salman bin ‘Amir RA ia berkata, Rasulullah SAW berkaata: “apabila seorang dari kalian berpuasa hendaklah ia berbuka dengan kurma, apabila ia tidak memilikinya maka dengan air, karena air dapat menyucikan.”

–          Qiyam Ramadhan

Ramadhan identik dengan shalat Tarawih yang dilaksanakan dengan berjamaah. Hal ini di dalam hadis Rasulullah SAW disebut dengan Qiyam Ramadhan, atau mengerjakan salat malam di saat bulan Ramadhan. Waktu pelaksanaannya terbentang dari selepas shalat Isya hingga menjelang fajar.

قيام رمضان، وقد روى أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه”، رواه البخاري ومسلم.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW berkata: “barang siapa melakukan qiyam (shalat) pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala maka diampuni apa yang telah lalu dari dosanya.”

–          I’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan maksud beribadah sesuai dengan syarat dan ketentuannya. Secara mutlak hukum i’tikaf adalah sunnah. Akan tetapi Rasul menjadikan i’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagai sunnah di bulan Ramadhan tersendiri yang bernilai besar. Di hari-hari terakhir ini Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk memanfaatkan sebesar-besarnya kesempatan ibadah dan peluang untuk meraih lailatul Qadar yang kebaikannya setara dengan 1000 bulan.   

 قال ابن عمر رضي الله عنهما: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان” رواه البخاري،

Ibnu Umar berkata: “Rasulullah SAW melakukan i’tikaf di 10 hari akhir di bulan Ramadhan.” HR Bukhari.

Baca juga: Landasan Dilipatgandakannya Pahala di Bulan Ramadhan

Hal di atas adalah sebagian kecil dari sunnah di bulan Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Masih banyak hal lainnya yang perlu umat muslim lakukan untuk menyempurnakan kegiatan bulan Ramadhannya. Namun yang terpenting dari semua amalan tadi adalah keistiqamahan umatnya untuk berbuat kebaikan dan taat beribadah ke pada Allah SWT. baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya. Semoga kita selalu diberkahi istiqamah dalam beramal.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *