Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Seperti Apa Telaga Rasulullah?

Seperti Apa Telaga Rasulullah?

Rangkaian peristiwa setelah kehidupan dunia atau dalam bahasa aqidah dinamakan sam’iyyat selalu menarik untuk dibahas. Fase kehidupan itu tidak dapat diakses secara luas, ia hanya didapat dari teks keagamaan semacam Al Quran dan Al Hadis. Di antara pokok pembahasan terpenting di dalamnya adalah Telaga Rasulullah. Telaga Rasulullah atau yang dalam bahasa arab disebut dengan Al haudh, ini jika dipandang dari sudut ilmu hadis merupakan sebuah kabar yang banyak disaksikan dan diriwayatkan oleh para sahabat sehingga persen dusta di dalamnya hampir tidak mungkin, dari sini seorang muslim wajib untuk mengimani wujud dari Telaga Rasulullah.

Al Quran sendiri tidak menyebutkan secara eksplisit tentang telaga rasulullah, meskipun sebagian ulama menganggap jika telaga yang dimaksud di sini adalah apa yang Al Quran jelaskan dalam surat Al Kautsar, ayat 1. Namun, riwayat hadis yang menafsirkan ayat tersebut justru mengabarkan bahwa yang dimaksud dari Al Kautsar dalam surat tersebut berada di dalam surga, sementara hadis-hadis tentang telaga Rasulullah menyatakan bahwa ia berada sebelum Shirath, yaitu sebuah jembatan yang dijanjikan kepada seluruh umat muslim untuk melaluinya. Pendapat ini dikutip dari imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Lantas seperti apa sebenarnya telaga Rasulullah?

Beberapa sifat dari telaga Rasulullah Saw

Banyak hadis yang mengutip tentang topik telaga Rasulullah, kualitas keshahihannya juga berbeda-beda. Namun dalam rangka mengenal sifat-sifatnya marilah kita sejenak kesampingkan kualitas hadir dan fokus pada informasi yang disampaikan, Penulis akan merangkum beberapa informasi tersebut sesuai dengan hadis-hadis yang akan disebutkan berikut ini:

– أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ: «إِنَّ قَدْرَ حَوْضِي كَمَا بَيْنَ أَيْلَةَ وَصَنْعَاءَ مِنَ اليَمَنِ، وَإِنَّ فِيهِ مِنَ الأَبَارِيقِ كَعَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ»

“Rasulullah Saw bersabda sesungguhnya besaran telagaku seperti (jarak) antara Aylah dan Shan’a di Yaman. Dan di dalamnya terdapat wadah-wadah yang jumlahnya seperti jumlah bintang di langit.”HR Bukhari. Hadis ini mengabarkan bahwa besaran luas dari telaga Rasulullah Saw berkisar antara kota Ayla dan Shan’a di Yaman. Dalam hadis lain, disebutkan juga daerah lain yaitu ‘Adn ke Oman.

– عن عبدالله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:حوضي مسيرة شهر، ماؤه أبيض من اللبن، وريحه أطيب من المسك وكيزانه كنجوم السماء، من شرب منها فلا يظمأ أبداً

“Dari Abdullah bin Amru, Nabi Saw berkata: (panjang) telagaku adalah perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari susu, harumnya melebihi minyak misk, dan (jumlah) wadahnya seperti bintang di langit, barang siapa yang minum darinya maka ia tidak akan haus selamanya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim). Mengenai keterangan luas dan besaran telaga memang banyak riwayat hadis mengisahkannya. Tentunya, hakikat yang sebenarnya hanyalah Allah Swt dan Rasulnya yang tahu. Perihal sifat lainnya seperti disebutkan dalam hadis menjelaskan betapa beruntungnya umat Rasulullah Saw yang dapat merasakannya.

Install Takwa App

أنا فَرَطُكُمْ علَى الحَوْضِ، فمَن ورَدَهُ شَرِبَ منه، ومَن شَرِبَ منه لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أبَدًا، لَيَرِدُ عَلَيَّ أقْوامٌ أعْرِفُهُمْ ويَعْرِفُونِي، ثُمَّ يُحالُ بَيْنِي وبيْنَهُمْ

“Aku akan mendahului kalian menuju telaga, barang siapa mendatanginya ia akan minum darinya dan barang siapa yang minum dari padanya maka ia tidak akan pernah haus selamanya. Dan akan datang kepadaku banyak kaum yang aku mengenal mereka dan mereka mengenalku kemudian dibatasi antara aku dan mereka.” Dari hadis ini Rasulullah terlihat mendahului umatnya untuk tiba di Telaganya. Para ahli hadis menjelaskan, Rasulullah tiba terlebih dahulu yaitu untuk mempersiapkan telaga tersebut untuk umatnya.

Akan tetapi sebagaimana tercatat dalam riwayat lain bahwa keadaan saat itu manusia amatlah merasa kehausan. Mereka kebingungan mencari air untuk melepas dahaga. Akan sebagian dari mereka mengenal dan mengetahui serta mengimani Rasulullah Saw lantas mereka dapat meminum air daripadanya. Sebaliknya, terdapat pula yang memang melihat akan tetapi mereka tidak dapat meminumnya karena mereka terhalang oleh dosa-dosa yang telah mereka lakukan selama masa kehidupan di dunia.

Baca juga:Malaikat Munkar dan Nakir, Apa Saja Pertanyaanya

Demikian tadi adalah uraian singkat tentang Al Haudh, atau yang oleh umat Islam di Indonesia dikenal dengan sebutan telaga Rasulullah Saw. Kewajiban pertama bagi umat Islam adalah mengimani wujud dan peristiwa apa yang akan terjadi pada saat itu. Kemudian, mengimplementasinya kedalam amalan salih di dunia. Sebagai umat Rasulullah Saw hendaknya kita memperbanyak bersalawat dan mendalami kisah dan sirahnya, agar hari perjumpaan di sana tidak seperti perjumpaan antara satu dan lainnya di stasiun atau tempat lainnya tanpa saling mengenali, melainkan perjumpaan penuh cinta dan harap akan syafaatnya.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *