Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Sekilas tentang Imam Muslim dan karangannya: Shahih Muslim

Sekilas tentang Imam Muslim dan karangannya: Shahih Muslim

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa beliau meninggalkan dua perkara yang umatnya tidak akan tersesat sepeninggalnya, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Al Quran sudah terjamin otentitasnya secara konsensus oleh para ulama dulu dan kini, sementara hadis nabi SAW masih perlu perangkat ilmiah untuk menguji keshahihannya. Di antara ulama terbaik umat Islam dalam ilmu hadis adalah Imam Muslim.

Nama lengkapnya adalah Abu Al Husein, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kawsyadz Al Qusyairy An Naisabury. Beliau lahir pada tahun 206 H dan wafat pada tahun 261 H. Nisbat keturunannya adalah kabilah Qusyair, salah satu kabilah arab yang masyhur. Sementara Naisabur adalah kota kelahiran juga kota akhir hayatnya, dari sana ia memulai pembelajaran hadis dengan para ulama zamannya.

Kini Naisabur, adalah salah satu kota yang terletak di kawasan Iran. Saat itu, kota ini dikenal dipenuhi dengan para ulama hadis dengan sanad tertinggi. Maka dari itu Muslim kecil yang kebetulan diberkahi lahir dari keluarga yang mencintai ilmu memulai pengembaraan ilmu hadis sejak berusia 12 tahun pada para guru di kotanya. Diriwayatkan Muslim bin Hajjaj mulai merantau menimba ilmu hadis pada umur 14 tahun.

Selain sebagai pelajar dalam ilmu hadis, Imam Muslim juga nyambi dengan berdagang. Hal itu dibuktikan tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu. Dengan wasilah berdagang juga ia berhasil merantau hingga berbagai tempat dalam rangka mengumpulkan periwayatan hadis nabi.

Di antara kota-kota yang dikunjungi oleh Imam Muslim adalah: Hijaz (Mekah dan Madinah), Bashrah, Kuffah, Mesir, dan Baghdad. Dari perjalanan jauh ke daerah yang dipenuhi peradaban keilmuan itu beliau berhasil menemui para ulama besar dalam Ilmu Hadis seperti: Imam Bukhari, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih, dan Abu Zur’ah Ar Razy. Jika dijumlah guru dari Imam Muslim mencapai lebih dari 200 orang.

Shahih Muslim dan Imam Muslim

Pengembaraan ilmiah itu pada akhirnya membuahkan hasil. Atas dasar permintaan dari berbagai kalangan ia menulis sebuah kitab yang hanya berisi hadis shahih di dalamnya. Imam Muslim menyebutnya dengan Al Musnad Ash Shahih, yang berarti hadis bersanad yang shahih.Hadits Shahih adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi saw yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh (perawi) yang adil dan dhabit hingga sampai akhir sanad, tidak ada kejanggalan dan tidak ber’illat.

Periwayatan jenis ini pada pertengahan abad ke dua urgensinya semakin meningkat karena banyaknya para pengarang hadis beserta sanadnya. Dalam menulis kitabnya, sang Imam “memeras” 300 ribu hadis yang ada dalam hafalannya. Jumlah hadis yang tertulis dalam kitab ini sendiri totalnya adalah 3033 hadis tanpa pengulangan. Ini berarti beliau hanya menuliskan 1 persen dari apa yang dihafalnya dari hadis Rasulullah SAW. Dalam hal ini beliau memang mengakui bahwa tidak semua hadis shahih beliau tulis ke dalam shahihnya.

Install Takwa App

 “Tidak semua yang aku ketahui shahih ku tulis di sini, akan tetapi yang aku tulis di sini adalah apa yang oleh para ulama sepakati shahih.” Bisa jadi apa yang dilakukan oleh sang Imam ini mengikuti jejak gurunya, Imam Bukhari yang juga berkata dengan nada serupa, “Aku tidak memasukkan segala yang ada di kitab Al Jami (shahih Bukhari) kecuali dia Shahih. Terkadang ku tinggalakan juga hadis shahih karena takut akan memanjang.”

Terkait metode yang digunakan oleh Imam Muslim dalam merangkai Shahihnya sebagaimana yang diutarakan oleb Ibnu Thahir: “ketahuilah sesungguhnya syarat yang digunakan oleh Bukhari dan Muslim ia men-takhrij hadis yang disepakati (tsiqah) terpercaya, yang menyambung hingga shahabat yang masyhur tanpa ada perselisihan tentang keterpercayaannya,”

“Sanadnya menyambung tanpa terputus, apabila di derajat shahabat terdapat dua orang maka itu bagus, apabila hanya teradapat seorang sahabat keduanya tetap menuliskannya jika thariq-nya (jalur periwayatannya). Akan tetapi Muslim (juga) menuliskan hadis-hadis dari kaum yang ditinggalkan oleh Bukhari karena syubhat yang ada dalam dirinya, ia (Muslim) menuliskannya dengan menghilangkan syubhat tersebut, seperti Hamad bin Salamah, Suhail bin Abi Shalih, Dawud bin Abi Hind, Abi Zubair, ‘Ala bin ‘Abdurrahman dll”  

Karena kualifikasi hadis yang baik ini, tidak jarang para ulama memberikan apresiasi, hingga menggelarinya sebagai “kitab ter-shahih setelah Al Quran dan Shahih Bukhari.” Imam Nawawy mengatakan, “umat secara keseluruhannya telah menyaksikan keshahihahn ini (Shahih Bukhari dan Muslim), dan wajib bagi umat untuk beramal dengan hadis-hadis di dalamnya.

Para ulama setelah Imam Muslim pun menyadari kedudukan dari Shahih Muslim. Mereka berbondong-bondong mengkaji shahih Muslim dari berbagai aspek. Imam Nawawy misalnya, beliau memberikan penjelasan perbab, dari Shahih Muslim, dan menulis penjelasan mendetail atas shahih Muslim. Ulama lainnya ada yang mengutip hadis-hadis lain yang sesuai persyaratan beliau, yang dinamakan hadis Mustadrak, juga ada yang menuliskan hadis shahih sesuai periwayatan beliau dengan jalur lain yang dinamakan hadis Mu’laqat dlsb.

Baca juga:Hakikat Kemuliaan Wanita dalam Islam

Demikian sekilas tentang Imam Muslim dan Shahih Muslim yang beliau tulis. Perjuangan yang tiada akhir hingga akhir hayat Imam Muslim demi untuk menjaga periwayatan hadis perlu untuk dijadikan panutan bagi umat muslim kekinian. Semangatnya yang besar untuk mencari ilmu meski harus berganti tempat adalah lain hal yang perlu ditiru oleh para tholibul ilm saat ini.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *