Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Sedekah Apa yang Paling Utama?

Sedekah Apa yang Paling Utama?

Sedekah adalah salah satu cara bagi seorang muslim untuk menguji keimanannya. Tentu setiap orang dapat melakukan ibadah yang tidak membutuhkan “modal” dalam melaksanakannya, seperti shalat sunnah, zikir dan bershalawat. Namun tidak semua muslim dapat melakukan sedekah, terlebih bagi ia yang memang hidup sederhana bahkan cenderung kurang. Maka jaminan Rasulullah SAW bahwa, “tidak akan berkurang harta seorang yang bersedekah” adalah ujian keimanan yang nyata.

Di antara keutamaan sedekah lainnya adalah dapat menggugurkan dosa, mempermudah rezeki dan melunakkan hati. Dari itu para sahabat Rasulullah SAW berlomba-lomba untuk mendermakan hartanya di jalan Allah SWT, bahkan ada yang menghabiskan hartanya untuk sedekah seperti Abu Bakar RA. Lantas, Rasulullah SAW juga menjelaskan kepada umatnya bagaimana cara agar sedekah kita nampak istimewa di hadapan Allah SWT.

Bagaimana cara mendapatkan keutamaan dalam bersedekah?

Dalam Shahih Bukhari, dituliskan:

: قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ، تَأْمُلُ الغِنَى، وَتَخْشَى الفَقْرَ، وَلاَ تُمْهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ، قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

“Telah datang seseorang ke pada Nabi SAW kemudian berkata: Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama? Beliau berkata: engkau bersedekah saat diri mu sehat dan bersemangat, mengharapkan kekayaan dan takut kemiskinan, dan jangan lah engkau tunda-tunda hingga tiba masa ajal mu dan engkau berkata ‘untuk fulan ini, dan untuk fulan ini, dan telah ada untuk fulan ini”

Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat mulia, Abu Hurairah RA yang bernama asli Abdurrahman Ad Duusy. Beliau pernah didoakan oleh Rasulullah SAW agar hafalan hadisnya tidak akan hilang. Benar saja, beliau adalah salah satu dari para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW. Semasa hidupnya Abu Hurairah telah membersamai Rasul di banyak kesempatan, dan beliau merupakan salah satu dari Ahlu Shuffah, yaitu umat Rasulullah yang menjadikan masjid Rasulullah naungan sehari-hari bagi mereka.

Begitulah para sahabat Rasulullah SAW, mereka selalu mengupayakan amalan sempurna dan utama untuk mereka kerjakan. Hal ini sekaligus membuka tuntunan amalan bagi umat muslim generasi selanjutnya. Dikatakan di dalam hadis, bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah di kala tubuh masih sehat dan bugar. Biasanya keadaan ini dirasakan saat masih muda, dengan semangat menggelora, penuh tekad untuk mengumpulkan harta dan terdapat perasaan takut akan kefakiran.

Install Takwa App

Gaadurrab Amin, Profesor Hadis dari Al Azhar menjelaskan, Perasaan takut akan kefakiran tidak dapat diartikan sebagai penyebab dari bersedekah. Akan tetapi maksudnya adalah melatih diri untuk mengalahkan cintanya pada harta. Hal ini lah yang membuat ganjaran dari bersedekah bertambah. Karena disebutkan dalam sebuah kaidah, “ganjaran sesuai dengan kesulitan. Semakin sulit kesulitan, maka semakin besar ganjaran.”

Selanjutnya, Rasul menghimbau agar amalan kebaikan ini jangan diundur-undur. Masa muda adalah satu masa yang tidak akan kembali; kekuatan, tekad dan ambisi yang ada pada masa muda menurut beliau SAW perlu dilatih untuk bermurah hati dan berempati dengan bersedekah. Tentu, di masa muda harta yang dimiliki tidak lah berlimpah, akan tetapi secara tidak langsung Rasul SAW seakan hendak mendidik bahwa untuk menjadi dermawan seseoang perlu membiasakan diri sejak muda.

Rasulullah SAW tidak menyinggung akan nominal harta yang didermakan. Beliau justru menekankan keutamaan ini tidak semata-mata baik di mata Allah SWT, akan tetapi juga bagus untuk pembiasaan dan melatih diri yang cinta pada dunia. Sebaliknya, Rasulullah SAW menghimbau bahwa harta di masa senja, di kala ambisi sudah menyusut adalah hak dan peruntukan bagi ahli waris. Rasulullah menggunakan majas “ini untuk fulan dan ini untuk fulan” untuk mengisyaratkan kondisi pembagian harta bagi ahli waris.

Di masa senja seseorang cenderung pasif dan tidak lagi memiliki gairah hidup. Harta yang dimiliki walaupun berlimpah sudah selayaknya diturunkan bagi ahli waris. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah menyeru bahwa dengan meninggalkan keturunan kaya lebih baik dari pada meninggalkan mereka dalam kondisi miskin dan meminta pada manusia. Maka tidak elok bagi seorang muslim untuk bersedekah di waktu senja. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah, keutamaan sedekahnya akan berkurang.  

Baca juga: Bagaimana Cara Menghitung Zakat Penghasilan Kita?

Dalam konteks berbeda Rasulullah SAW seakan berkata pada umatnya agar maksimal dalam menjalani kehidupan dan membiasakan diri untuk ringan tangan sejak masa muda. Pembiasaan ini yang akan bernilai berbeda di hadapan Allah SWT, dengan pengibaratan sedekah yang lebih utama. Selain itu, hadis ini juga menyeru umat Islam untuk tidak segan mengumpulkan harta untuk kemudian dapat melaksanakan sedekah dan menebar manfaat bagi saudara muslimnya.

Wallahua’alam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *