Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Sahabat Nabi SAW, Generasi Umat dari Masa Terbaik

Sahabat Nabi SAW, Generasi Umat dari Masa Terbaik

Dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw beliau tidak melakukannya sendiri. Ada para sahabat yang selalu membersamai beliau dalam suka dan duka. Berbagai siksaan, celaan dan cemoohan dari para musuh Islam saat itu tak jarang turut dirasakan oleh mereka. Karena peran besar itu lah masa di mana mereka hidup oleh Rasulullah dilabeli dengan yang terbaik dari masa lainnya.

Dalam Shahih Bukhari, Imam Bukhari Abdullah meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud RA:

خيرُ النَّاسِ قَرْني ثمَّ الَّذينَ يلونَهم ثمَّ الَّذينَ يلونَهم ثمَّ الَّذينَ يلونَهم

“Khairu-n-Naasi Qarnii tsumma-l-ladziina yaluunahum tsumma-l-ladziina yaluunahum tsumma-l-ladziina yaluunahum.”

Artinya: Sebaik-baik manusia (umat) adalah masa ku, kemudian masa setelahnya, kemudian masa setelahnya.

Selain masuk dalam kategori hadis Shahih, hadis tersebut diriwayatkan oleh banyak periwayat lainnya seperti Imam Tirmidzi, Imam Muslim, dan Imam Ibnu Hibban. Dengan ini hadis ini terbilang mutawatir, karena berasal dari banyak jalur periwayatan dan dengan berbagai lafal.

Memahami lebih mendalam masa sahabat Rasulullah SAW

Masa atau Qarn sebagaimna yang disebutkan dalam hadis ini adalah masa waktu berkisar 10 hingga 100 tahun sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Akan tetapi yang masyhur dari kalangan ulama adalah masa 100 tahun. Sementara Qarn yang dimaksud dalam hadis ini adalah masyarakat/umat di masa nabi, yaitu para sahabat Nabi SAW. 

Install Takwa App

Mereka yang hidup bersama nabi dan membantu dan mengimaninya seperti mutiara dari bebatuan masyarakat di masa Jahiliah. Di mana nilai kehidupan mulia terbilang nadir. Masa itu dipenuhi kegelapan berbentuk peperangan, pembunuhan, diskriminasi ras seperti perbudakan, zina dan lain sebagainya. Maka dengan demikian Rasulullah SAW telah dianugerahi oleh Allah SWT para sahabat terbaik yang tulus untuk menyokong dakwahnya.  

Setelahnya, mari kita mengenal makna dari sahabat menurut keilmuan Islam. Sahabat dalam konotasi tulisan ini adalah siapapun yang berjumpa dengan nabi Muhammad Saw dan wafat dalam keadaan Islam. Jumlahnya ditaksir oleh para ulama berkisar 114 ribu orang. Tentu dari jumlah sebesar ini tidak seluruh dari mereka membersamai Rasulullah Saw, bahkan ada dari kalangan sahabat yang hanya melihat Rasulullah SAW sekali seumur hidupnya.

Karena itu, Dr Gaadurrab Amin Abdul Majid, guru besar Ilmu Hadis dari Al Azhar, Mesir mengurutkan 12 tingkatan kemuliaan sahabat nabi Muhammad Saw. dengan berbagai kriteria. Di urutan pertama, kalangan pertama yang masuk Islam seperti Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Bilal bin Rabbah. Ke dua, mereka yang turut serta dalam peristiwa Darun Nadwah, peristiwa ini amat masyhur karena tepat di sini Umar bin Khattab memproklamirkan keislamannya, dan para sahabat di situ berbaiat ke pada nabi.

Ke tiga, mereka yang turut serta dalam hijrah ke Habasyah (Yaman), peristiwa ini dikenal dengan hijrah pertama sahabat. Ke empat, sahabat yang turut serta dalam peristiwa Baiat Aqabah Pertama. Baiat Aqabah adalah janji sumpah setia oleh warga Yasrib untuk tidak menyukutukan Allah SWT dan melaksanakan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT.

Ke lima, adalah mereka yang turut serta dalam Baiat Aqabah ke dua yang kebanyakannnya merupakan kalangn Anshor, penduduk kota Madinah. Ke enam, kaum muhajirin pertama yang menyusul Rasulullah yang saat itu tiba di Quba sebelum sampai Madinah. Ke tujuh, mereka yang turut serta dalam perang Badar. Ke delapan, mereka yang berhijrah di masa antara peristiwa Badar dan Hudaibiyah.

Ke sembilan, adalah mereka yang turut serta dalam peristiwa Baiat Ridhwan. Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah SAW dilarang untuk berumroh pada tahun kedatangannya, dan diundur untuk melaksanakannya pada tahun setelahnya.  Ke sepuluh,  adalah para sahabat yang hijrah di fase antara Hudaibiyah dan Fathu Makkah. Ke sebelas, mereka yang berislam di saat Fathu Makkah. Dan terakhir adalah para anak yang melihat Rasul di saat Fathu Makkah dan Haji Wada.

Klasifikasi dan pengelompokan ini tentu bukan tanpa dasar, secara garis besar Allah SWT juga membedakan para sahabat antara satu dan yang lainnya. Salah satunya adalah apa yang terdapat di Surat Al Hadid, 10:

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ ٱلْفَتْحِ وَقَٰتَلَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُوا۟ مِنۢ بَعْدُ وَقَٰتَلُوا۟ ۚ وَكُلًّا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Imam Al Baghawy menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun berkaitan tentang status para sahabat nabi SAW bagi yang telah berjuang jiwa dan harta sebelum dan setelah Fathu Makkah. Dan beliau, Al Baghawy melanjutkan secara spesifik riwayat lain menjelaskan bahwa yang dimaksud di sini adalah Abu Bakar, yang telah mendermakan harta sebelum peristiwa tersebut dan menjadi miskin karenanya.

Dengan adanya pengkhususan masa sahabat yang disebutkan oleh nabi SAW tidak menafikan wujud kebaikan di era-era setelahnya. Karena kita tentu mengenal para ulama yang sifatnya menyerupai para sahabat, berani bagai Umar, dermawan bagai Abu Bakar, lembut bagai Usman dan cerdas bagai Ali. Sebut saja para ulama semacam Imam Ghazali, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Syafii, sirah telah menjelaskan bagaimana mulianya perangai mereka bak para sahabat.

Maka hadis ini dapat difahami dengan cara, kemuliaan umat nabi SAW akan semakin pudar karena semakin banyak dosa dan maksiat di atas bumi. Dengan semakin jauhnya manusia dari nabi SAW dan para ulamanya, maka umat pun akan semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Maka kemuliaan dan keutamaan semakin pudar dari masa ke masa. Selain itu, secara tidak langsung hadis ini mengajarkan kita untuk menjadikan para sahabat sebagai contoh dalam menjalani kehidupan.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis berpesan, bahwa para sahabatnya bagaikan bintang-bintang di langit. Dari bintang mana saja umat Islam melihat maka ia akan mendapatkan petunjuk. Contohnya, Jika hendak menjadi panglima perang tangguh maka contoh lah Khalid bin Walid, dalam perkara bisnis contoh lah Abdurrahman bin Auf, dan jika hendak memahami Al Quran maka Abdullah bin Abbas adalah imamnya.

Baca juga: 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW

Di era kekinian moral dan akhlak sudah banyak merosot karena banyak hal. Maka sudah semestinya generasi umat Islam untuk kembali mengenal para sahabat nabi SAW, mencontoh dan menjadikan mereka tauladan kehidupan. Hal tersebut dapat dimulai dengan mengenalkan sosok-sosok mulia tersebut ke pada anak-anak di rumah dengan membacakan kisah atau mencontohkan langsung di hadapan mereka.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *