Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Qiyamuhu Binafsihi, Dia Yang Tidak Membutuhkan Tempat

Qiyamuhu Binafsihi, Dia Yang Tidak Membutuhkan Tempat

Masih dalam pembahasan perihal akidah ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu satu di antara lima sifat salbiyyah dalam pembahasan bab Ilahiyyat (ketuhanan), Qiyamuhu binafsihi. Sebagaimana diketahui dalam beberapa pembahasan sebelumnya ketetapan wujud Allah Swt., serta Dia yang tidak berawal dan tidak berakhir, kali ini penulis akan memaparkan tentang Allah Swt yang tidak membutuhkan ruang, tidak bergerak dan juga tidak dapat dilihat di dunia.

Sebelum pembahasan lebih melebar, dalam kesempatan singkat ini hanya akan dipaparkan ketetapan sifat ini sesuai teks Al Quran dan Hadis Nabi dan beberapa bukti yang logis yang sesuai untuk memperkuat pemahaman. Qiyamuhu binafsihi jika diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia bermakna “Berdirinya (Eksistensinya) Dia dengan dzat-Nya”. Kata Nafs sendiri kerap disematkan untuk menjadi kata ganti dari dzat Allah Swt, sebagai contoh QS Al Qiyamah ayat 116:

تَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِى وَلَآ أَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِكَ

“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada dzat-Mu.”

Menurut Dr Murad Abdullah Jinani, qiyamuhu binafsihi dimaknai dengan dua arti: Pertama, Dia Swt yang tidak membutuhkan ruang. Maksudnya Dia, Allah Swt tidak membutuhkan tempat untuk bersemayam di dalamnya. Sementara  yang ke dua, Ia yang tidak membutuhkan mukhashis atau suatu dza yang menciptanya. Dan telah ditetapkan sebelumnya bahwa seluruh alam ini membutuhkan Dia, dan Dia tidak membutuhkan siapapun di atas muka bumi ini, atau di ruangan manapun yang menjadi ciptaannya-Nya.

Allah Swt berfirman dalam QS Al Ankabut ayat 6:

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

Install Takwa App

 

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Bagaimana memahami sifat Qiyamuhu binafsihi?

Banyak yang mungkin bertanya-tanya tentang bagaimana cara untuk menggambarkan suatu hal yang eksis tanpa kecenderungan dzat tersebut pada sebuah pola khusus yang menjadi tempat yang melingkupinya. Hal ini wajar, karena manusia sendiri tidak mungkin hidup tanpa ruang, dan memang bumi ini didesain sebagai ruang lingkup manusia yang paling tepat untuk didiami. Walau telah banyak penelitian yang membahas kemungkinan kehidupan di luar bumi, kenyataannya sampai saat ini bumi masih menjadi satu-satunya tempat bernaung manusia.

Akan tetapi tatacara silogisme atau perkiyasan dengan cara seperti di atas nyatanya tidak benar jika diterapkan kepada entitas Allah Swt. Hal itu karena akal manusia terbatas pada banyak hal, pengetahuannya juga amatlah sedikit jika dibandingkan seisi bumi ini. Dan tabiatnya, sebagaimana dijelaskan di atas, akal manusia akan menghukumi sesuatu yang memang berada di sekitarnya dan dapat dirasakan secara langsung. Karena itu, jika akal manusia saja terbatas untuk memahami banyak perkara di sekitarnya, bagaimana ia bisa memahami bahwa Dia berada tidak dalam tempat? Dengan bukti nyata wujudnya, dan ketidak mampuan manusia untuk menggambarkan dan memahami esensinya.

Dr Ali Jum’ah mantan mufti negara Mesir pernah menuturkan kisah Imam Malik Ra, seorang ulama besar pencetus mazhab Maliki yang kini penganutnya banyak berada di kawasan Afrika Utara. Bahwa telah hadir seseorang ke hadapan Imam Malik dan menanyakan tentang suatu perkara, “wahai Imam Malik, Ar Rahmaanu ‘alal Arsy istawa, bagaimana dia bersemayam” dia mengutip QS  Thaha ayat 5. Imam Malik lantas menjawab, “Bersemayam dapat difahami (secara bahasa), bagaimana, tidak dapat diketahui, dan mempertanyakan tentangnya adalah sebuah perbuatan bid’ah.”

Baca juga: Hakikat Mizan, Timbangan Amal di Hari Akhir

Sebuah periwayatan singkat tadi memperjelas pemahaman tentang hakikat dari sifat qiyamuhu binafsihi. Intisarinya adalah sifat ini menafikan keberadaan Allah Swt pada sebuah ruang, tidak di kanan, kiri, barat, timur atau arah mana pun. Karena kenyataannya segala hal yang menyangkut tempat pastinya diliputi oleh sesuatu, dan Allah Swt tidak diliputi oleh sesuatu. Karena yang diliputi sesuatu berarti membutuhkan sesuatu, dan Allah Swt tidak membutuh kan apapun.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *