Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Pengingkaran Maulid Nabi Sama dengan Pengingkaran Fitrah Manusia

Pengingkaran Maulid Nabi Sama dengan Pengingkaran Fitrah Manusia

Kegembiraan merupakan reaksi naluriah yang telah Allah SWT tanamkan pada setiap umat manusia, bahkan setiap makhluk hidup di kala mendapati sebuah hal menyenangkan. Reaksi masing-masing makhluk hidup berbeda saat mendapati sebuah momen menggembirakan datang menghampirinya, ada yang tertawa, menangis, berteriak dlsb. Kegembiraan ini tercermin pada seluruh alam di momen maulid nabi SAW.

Rasa gembira akan lahirnya nabi Muhammad SAW ini merupakan fitrah yang telah Allah SWT tanamkan terhadap umat manusia. Allah SWT berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ  

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS Ar Rum, 30)

Para mufassir melihat fitrah di sini berarti Islam. Yaitu Islam yang telah Allah SWT tanamkan dalam diri setiap makhluk hidup. Akan tetapi fitrah itu tidak begitu saja tumbuh, ia bagaikan biji dalam tanah yang belum disirami, alih-alih disirami air ada yang lebih memilih menyiraminya dengan minyak sehingga fitrah tidak pernah tumbuh. Dialah Rasulullah SAW, hari dilahirkannya beliau merupakan sebuah cahaya di tengah gelap gulita.

Maulid nabi SAW dan sekitarnya yang bahagia

ولدتك أمك يابن آدم باكياً والناس حولك يضحكون سرورا

“Ibu mu melahirkan mu wahai anak Adam kau menangis, dan manusia di sekitar mu tertawa karena bahagia.” Syair ini dikatakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib RA, yang menggambarkan bahwa seluruh keadaan anak manusia serupa. Sebagai manusia biasa, saat beliau SAW lahir keluarga yang telah menantikan kelahirannya begitu gembira. Sang cucu kesayangan, dari anak kesayangan, dari kakek pembesar bangsa telah lahir.

Install Takwa App

Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf seorang tetua kabilah Quraisy bersorak gembira. Cucu dari anak kesayangannya Abdullah telah lahir. Saking gembiranya ia berkata, “sesungguhnya dia akan menjadi ‘seseorang’.” Lain lagi pamannya, Abu Lahab, ia memerdekakan seorang budak karena saking gembiranya akan kelahiran keponakan kebanggan. Dia tidak pernah tahu suatu hari nanti, keponakannya ini akan menjatuhkannya hingga jurang terdalam.

Anak kecil tampan ini merupakan anak dari Abdullah, anak kesayangan Abdul Muthallib. Sayang, ia tidak berumur panjang, di umur 18 tahun ia meninggal dalam sebuah perjalanan dagang di sebuah daerah dekat dengan kota Yatsrib. Meski yatim, Rasulullah tidak pernah kehilangan kasih sayang. Ada sang Bunda yang menjaganya hingga berusia 6 tahun, dan sang Kakek hingga berusia 8 tahun. Selepas itu ia diasuh oleh Abu Thalib saudara kandung sang Ayah.

Saat itu dunia tidak pernah menyadari bahwa anak kecil ini akan menjadi seorang nabi pembawa cahaya keimanan, cahaya yang sungguh dinanti dunia yang saat itu berada dalam kegelapan. Bangsa arab, tempat ia dilahirkan sungguh tanah yang tiada mengenal nilai mulia. Keburukan-keburukan dikatakan oleh Ja’far bin Abi Thalib saat ditanya oleh raja Najasyi, raja Ethiopia saat itu.

“Wahai raja, kami sebelumnya adalah bangsa jahiliah, kami menyembah patung, mengerjakan kekejian, memutus silaturahi, berlaku buruk pada tetanggga. Orang kuat dari kami ‘memakan’ yang lemah. Kami terus berada dalam kondisi itu, hingga Allah mengutus seorang Rasul dari kami, kami ketahui nasab dan kejujurannya, amanah dan kesuciannya, ia menyeru kami pada Allah untuk meng-esa-kan dan menyembah-Nya, dan melepaskan apa yang telah kami sembah kami dan ayah-ayah kami dari patung-patung.”

“Ia menyeru kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanah, menyambung silaturahim, dan berbuat baik pada tetangga, serta berhenti melakukan yang haram dan pembunuhan. Ia melarang kami berbuat keji, janji palu, memakan harta anak yatim, dan menuduh tuhan palsu. Ia menyeru kami untuk sholat, zakat dan berpuasa. Maka kami mempercayainya, dan mengimaninya, dan mengikuti apa yang telah datang padanya dari Allah SWT.”

Kehidupan bangsa di luar semenanjung Arab sekali tiga uang. Dunia saat itu terbagi menjadi dua kekuatan besar, bangsa Persia dan Romawi. Bangsa Persia dikuasai oleh peribadatan majusi yang menyembah api, mereka meyakini bahwa dunia memiliki dua tuhan, tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan. Mereka pun terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang saling bermusuhan.

Sementara bangsa Romawi juga serupa tak berbeda. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok, perpecahan merupakan suatu hal biasa, ada Romawi Timur dan Barat yang sama-sama memiliki kekuatan. Kezaliman dan kejahatan para penguasa juga tidak terlekan dari kedua bangsa besar ini. Hal ini terbukti saat Islam berekspansi dengan ajaran baru, tidak begitu sulit bagi umat manusia menerimanya, karena Islam menjamin keadilan, keamanan, dan kebebasan.

Dengan demikian Maulid nabi SAW adalah sebuah pembeda, batas dari hitamnya dunia. Selepas kelahirannya, dunia dipersiapkan oleh Allah SWT untuk kembali pada aturan-Nya, menyembah yang satu, melaksanakan nilai-nilai mulia, dan mengubur dalam-dalam ajaran sesat dan keji. Maka tidak berlebihan rasanya Al Quran menyebutnya sebagai “cahaya”, karena hakikatnya dengan hadirnya beliau SAW, umat manusia kembali pada jalan yang lurus.

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“telah datang kepada kalian dari Allah, cahaya dan kitab yang nyata” (QS Al Maidah, 15)

Kembali ke pembahasan awal, bahwa rasa gembira akan lahirnya nabi Muhammad SAW adalah bentuk kegembiraan alam seluruhnya. Banyak riwayat mengisahkan keadaan alam saat nabi SAW lahir, mulai dari padamnya api majusi, cerahnya langit, kicauan burung dll. Keluarga serta kerabat nabi pun tidak kalah bahagia, karena telah lahir seorang anak laki-laki dari nasab termulia, dan keluarga terhormat.

Baca juga: Begini 5 Cara Warga Mesir Memperingati Peristiwa Tahun Baru Islam

Kita, umatnya saat ini, setelah melihat dunia dengan cahaya ilmu dan iman dari lebih dari 1400 tahun yang lalu apakah tidak bergembira dengan lahirnya sang manusia terbaik? Bukan kah hakikatnya, beliau SAW ialah fitrah hakiki umat manusia? Dari itu marilah bersama kita bermuhasabah, menilai lebih jauh makna maulid nabi sebenarnya, tidak terbatas dari halal-haram hukum perayaan, lebih jauh lagi yaitu memaknai kisah heroik yang telah dilakukannya SAW selama hidupnya.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *