Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Pengertian Aqidah, Ruang Lingkup Aqidah, Dalil Aqidah

Pengertian Aqidah, Ruang Lingkup Aqidah, Dalil Aqidah

Untuk memahami pengertian aqidah dan peranannya dalam kehidupan, kita bisa menganalogikannya dengan sebatang pohon yang sehat. Untuk bisa bertahan dalam berbagai kondisi cuaca, sebatang pohon haruslah tumbuh dengan keadaan yang sempurna, di antaranya adalah keadaan akar yang kuat untuk menjadi penopang dari seluruh komponen lainnya. Darinya akan tumbuh batang, dahan, daun, bunga dan buah. Tanpa akar yang kuat dan sehat, pohon apapun tidak mungkin bisa hidup.

Seperti itulah pengertian aqidah dan perannya dalam kehidupan. Ia bagaikan akar yang menancap ke bumi, kadang ia tidak terlihat, bahkan cenderung terabaikan oleh kasat mata. Akan tetapi, ia menjadi komponen utama dalam kehidupan yang tidak mungkin seorang muslim hidup tanpanya. Sebagaimana akar yang menjadi topangan kala dihempa angin dan benda-benda lainnya, aqidah juga menjadi landasan kekuatan manusia dalam kehidupan. Ia berisi nilai-nilai utama seperti ketuhanan, kenabian dan  segala hal yang dikabarkan oleh nabi perihal penjabaran segala hal yang tidak dapat disaksikan oleh mata.

Begitulah pengertian aqidah yang dimisalkan dengan akar. Permisalan tentang akar ini nyatanya telah termaktub dalam Al Quran, Surat Ibrahim, ayat 24:

 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

tidak kah engkau tidak melihat permisalan yang Allah Swt dari “Kalimat Thayyibah” seperti “syajarah thayyibah” pohon yang asal (akar)nya tetap dan cabangnya di langit.”

Para ulama tafsir berpendapat bahwa Syajarah Thayyibah adalah seorang yang beriman dan Kalimat Thayyibah adalah iman, kepercayaan atau aqidah itu sendiri. Jadi permisalan seorang mukmin yang baik adalah yang memiliki aqidah dan keimanannya tegas dan kuat selayaknya akar pohon yang tetap menancap ke tanah, menjaganya dari hantaman panas dan dingin berupa syirik dan menduakan Allah Swt.

Secara bahasa, iman berarti tasdiq, atau membenarkan. Maksudnya, yaitu membenarkan dengan tegas segala hal yang dikabarkan oleh Rasulullah dari Tuhannya. Kabar tersebut berkenaan dengan tiga perkara yaitu Ilahiyat atau ketuhanan, nubuat atau kenabian dan sam’iyyat atau hal immaterialistis yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad Saw. contohnya adalah hari kiamat, hari pembangkitan, surga dan neraka. Dari ke tiga hal ini kita diwajibkan untuk mengerti apa saja yang absolut ada pada Tuhan, mungkin ada pada Tuhan dan mustahil ada pada Tuhan. Pembahasan kemudian meluas ke permasalahan kenabian dan kabar-kabar yang dibawa oleh para Nabi dari Tuhan mereka.

Install Takwa App

Permasalahan aqidah adalah perkara mendasar yang menjadi syarat dari keimanan seseorang. Saat awal mula diutus Nabi Muhammad Saw telah ditugaskan untuk mengumumkan bahwa hanyalah Tuhan yang Esa yang berhak untuk disembah, dan apa yang telah dilakukan oleh kaumnya saat itu dari praktik-praktik paganisme tidaklah memberikan manfaat bagi mereka. Dan untuk menguatkan dakwah kenabian tersebut, Allah Swt menguatkan nabi dengan surat-surat yang dikenal dengan surat Makkiyah atau surat yang turun di saat periode kenabian sebelum hijrah ke Madinah yang berisi pokok-pokok aqidah dan kepercayaan pada yang Esa.

Marilah kita ambil contoh salah satu surat Makkiyah yang amat dekat dan hampir setiap muslim menghafalanya, adalah surat Al Ikhlas, ayat 1-4.

 Katakanlah dialah Allah Yang Esa قل هو الله أحد

 Dialah Tempat bergantung الله الصمد  

Yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan  لم يلد ولم يولد 

Dan tidak ada yang suatu pun yang  setara dengannyaولم يكن له كفوا أحد

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’b, bahwa kaum musyrik arab bertanya tentang “nisbat” atau kadar dan keutamaan Tuhan Muhammad. Maka diturunkan lah surat ini sebagai jawaban atas pertanyaan mereka. Dengan mengetahui hakikat aqidah  dari apa yang perlu difahamai tentang Tuhan dan seluruh sifat-sifat-Nya, manusia akan dapat merasakan ketenangan dan ketetapan hati untuk berusaha, berserah dan bertawakal atas apapun yang mereka lakukan.

Jadi, salah satu tugas dan hikmah dari diutusnya Nabi Muhammad Saw dan para Rasul dan Nabi sebelumnya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memurnikan keesaan Allah dan menjadikannya hanya satu-satunya orang yang berhak untuk disembah, serta menafikan segala hal yang disembah oleh kaum mereka selain Allah. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surat Anbiya ayat 25:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُون (25)

Dan tidaklah kami utus Rasul sebelummu (wahai Muhammad) kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa dialah Yang tiada Tuhan kecuali Aku maka sembahlah aku.  Wallahua’lam bishowab.

 

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *