Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Pahlawan dalam Islam, Apakah Selalu Berkaitan dengan Perang?

Pahlawan dalam Islam, Apakah Selalu Berkaitan dengan Perang?

Berbicara tentang tema Pahlawan dalam Islam tentu tidak akan terlepas dari pada para pejuang Islam yang telah berkorban jiwa raga untuk menyebarkan agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. Hal ini sesuai dengan term dari kamus besar bahasa Indonesia yang mengartikan pahlawan sebagai  orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero. Senada dengan pengertian dalam bahasa Indonesia, Ibnu Manzur dalam Lisanul ‘Arab juga mengartikan pahlawan atau dalam bahasa Arab disebut Bathal adalah seorang pemberani, atau dia yang membedakan antara kebodohan dan kepahlawanan.  

Masyarakat Indonesia sendiri sering mengartikan seorang pahlawan sebagai seorang pejuang di medan perang. Hal tersebut tidak salah, namun tidak dapat dipungkiri dengan pendefinisian tadi makna pahlawan sendiri telah dipersempit. Terlebih jika makna ini dibawa ke ranah keislaman, maka perspektif Islam hanya mengenal pahlawan dari para pejuang yang telah gugur di medan perang akan kembali merebak, dan dakwaan kuno “Islam menyebar dengan pedang” akan kembali mendapatkan lahannya kembali.

Dari itu mari kembali memahami pahlawan dari makna yang lebih pure dan sesuai dengan pemahaman bahasa yang asli. Pahlawan dialah yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam kebenaran, ditambah tambahan poin definisi dari bahasa Arab, dialah pembeda antara kebodohan dan kepahlawanan. Jika dilihat dari sisi ini maka Rasulullah Muhammad Saw adalah pahlawan sejati, panutan dan teladan umat Islam seluruhnya dalam seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali sebagai pahlawan.

Bagaimana menemukan jiwa pahlawan dalam Islam versi Rasulullah Saw?

Tidak seperti budaya barat yang mengartikan pahlawan atau hero dengan penokohan seseorang yang memiliki kemampuan supranatural, penumpas kejahatan seperti tokoh-tokoh dalam film marvel. Hal ini tentunya berakar dari kepercayaan utopis mereka pada dewa-dewa masa Yunani kuno yang memiliki kemampuan super dalam membela kaum tertindas. Berkebalikan dengan budaya Islam, Islam justru melihat ciri-ciri pahlawan justru dari sisi kemanusiaan, maksudnya Islam datang bukan dengan kekuatan ajaib yang dapat mengubah peradaban dengan instan, Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat yang fundamental untuk menjadi manhaj hidup penganutnya.

Rasulullah Muhammad Saw adalah aktor utamanya. Darinya seluruh nilai-nilai luhur kepahlawanan lahir. Beliau dilahirkan dalam era lingkungan yang tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Era jahiliyyah sebutannya. Para ulama Islam mengartikannya sebagai era kebodohan dari prinsip ketuhanan yang lahir dari sana jalan hidup. Rasulullah Saw mendobrak budaya kebodohan tersebut dengan cahaya ketuhanan. Dengan akhlak luhurnya beliau menyerukan tauhid. Yaitu sebuah kepercayaan bahwa manusia hanya diperintahkan untuk menyembah Dia yang Esa. Sepuluh tahun beliau menanamkan nilai-nilai ketuhanan yang orisinil dan mudah difahami dan meninggalkan kesyirikan berbentuk memuja patung-patung yang tidak dapat memberikan manfaat bagi mereka walau sedikit pun.

Setelah era sepuluh tahun yang melelahkan, Rasulullah Saw pun hijrah dengan sedikit pengikutnya. Madinah adalah tujuannya. Di sana telah menunggu sahabat dari umatnya yang telah beriman untuk membangun sebuah peradaban baru berlandaskan keyakinan ke pada Yang Maha Esa. Di Madinah Rasulullah Saq mengajarkan keadilan, kesetaraan, kedamaian dan penghormatan bagi orang lain yang berbeda keyakinan dengan seorang Muslim. Selain itu Rasulullah Saw juga mengajarkan bagaimana mengelola negara dengan kesejahteraan di dalamnya, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun pendidikan.

Dalam ranah sosial beliau Saw mengajarkan solidaritas dan kebersamaan  dan kesetaraan antar umat, tidak hanya umat Islam namun seluruh penghuni negara.

Install Takwa App

 لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Dan dari sisi ekonomi, Rasulullah Saw memberlakukan zakat bagi umat muslim dan jizyah bagi non muslim. Selain itu untuk menopang ekonomi yang sehat dan kuat tata cara berniaga yang berasaskan kejujuran, keadilan, keridaan juga diatur. Bahkan Rasulullah Saw menjanjikan surga bagi seorang pedagang yang jujur bersama dengan orang-orang para nabi, shidiiqin dan syuhada.

ما رواه الترمذي بسند حسن عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: “التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء”.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Ra dari Abu Said Al Khudri Ra dari Nabi Saw “seorang pedadang yang jujur lagi dapat dipercaya bersama para nabi, orang-orang shiddiq dan para Syuhada.”

Sementara dari sisi pendidikan beliau telah menyatakan dalam banyak hadis bahwa seorang yang berilmu memiliki derajat yang lebih tinggi dari yang lainnya. Mereka bagaikan gemintang di tengah gelapnya malam. Pernah pula Rasulullah Saw mendoakan sahabatnya Ibnu Abbas, di saat beliau membawakan air wudhu untuk Rasulullah “Ya Allah faqih-kan lah Ia dalam agama dan ajarkan lah ia takwil.” Dan demikian sepeninggal Rasulullah Saw sektor pendidikan menjadi salah satu faktor utama dari para pemimpin setelahnya.

Baca juga: Motif Perang dalam Islam

Demikianlah para pembaca, dari sudut pandang Islam, Rasulullah Saw adalah teladan dalam kepahlawanan. Beliau Saw selalu berada dalam garda terdepan dalam menyatakan kebenaran. Dengan akhlak mulianya beliau mengajarkan ke pada umatnya bahwa tiada seorang pun unggul dari lainnya karena hal semacam warna kulit, ras atau golongan tertentu yang menjadi patokan superioritas. Bukan pula keunggulan dalam suatu pertempuran atau peperangan. Beliau menyatakan bahwa superioritas ada dan didasari dari hati dan diterjemahkan ke dalam ketakwaan. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Ra:

 إن الله لا ينظر إلى أجسادكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم

“sesungguhnya Allah tidak melihat pada jasad kalian, akan tetapi ia melihat pada hati kalian.”

Wallahual’alam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *