Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Muslim Wajib Tahu! Dalil Jujur, Pengertian dan Derajat Kejujuran

Muslim Wajib Tahu! Dalil Jujur, Pengertian dan Derajat Kejujuran

Kejujuran adalah salah satu sifat yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang muslim, karena kepentingannya, para ulama mengambil kesimpulan bahwa para Nabi memiliki 4 sifat wajib, yang dimana salah satunya adalah jujur. Dijadikannya kejujuran sebagai sifat wajib bagi para Nabi harusnya sudah menjadi jawaban untuk yang mempertanyakan dalil jujur. Selain itu Rasulullah juga menunjukkan pentingnya kejujuran, yang dimana kejujuran ini akan membawa manusia menuju surga, sebagaimana dalil jujur yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

قَالَ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ

Rasulullah bersabda : “sesungguhnya kejujuran adalah jalan menuju kebaikan dan kebaikan adalah jalan menuju surga”

Dalil jujur ini menjelaskan bahwa proses untuk menuju surga diawali dari kejujuran, karena orang yang terbiasa jujur dalam hal kecil akan selalu jujur bahkan dalam hal-hal besar.

Baca juga : Pengertian Akhlak dalam Islam, Dalil-dalilnya, dan Ruang Lingkupnya

Pengertian Jujur Dalam Islam dan Derajatnya

Jujur sendiri dalam islam dimaknai sebagai kesamaan antara zohir anggota tubuh kita dengan batin hati kita, apabila yang dihati sama dengan apa yang dilakukan, maka ia adalah orang jujur, sebaliknya, apabila yang ada di hati berbeda dengan apa yang dilakukan atau kerjakan, maka ia bukanlah seorang yang jujur.

Kalimat jujur dalam Bahasa Indonesia lebih identik dengan perkataan, sementara dalam islam, jujur bukan hanya berlaku dalam perkataan, tapi juga perbuatan, bahkan dalam niat. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Muhammad Jamaluddin Al Qosimi, dalam kitab  mau’idzhotul mu’minin min ihya ulumiddin, beliau menuturkan 6 tingkatan kejujuran, yang ternyata kejujuran dalam perkataan adalah tingkat pemula, lebih jelasnya kita lihat uraian ini :

  1.       Jujur dalam perkataan : wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisannya dari kebohongan, namun ada beberapa hal yang dimana islam membolehkan untuk berbohong, diantaranya :
  2.       Menjaga nyawa seorang muslim dari pembunuhan secara zalim.
  3.       Sebagai taktik perang.
  4.       Menjaga hubungan suami istri, yang dimana tidak ada jalan lain selain berbohong.

Harus diperhatikan, bahwa berbohong seperti 3 contoh di atas dilakukan dalam keadaan darurat, dan melakukan hal yang asalnya haram dalam keadaan darurat dibatasi hanya untuk menyelesaikan keadaan tersebut, selebihnya, hukumnya Kembali ke asal, yaitu haram.

Install Takwa App
  1.       Derajat yang lebih tinggi, kejujuran dalam niat. Keikhlasan lah yang menjadi pondasi untuk membangun kejujuran dalam  niat, karena jujur dalam niat berarti ia niatkan perbuatannya untuk Allah semata, karena ia menyadari bahwa hanya Allah yang membalas perbuatannya.
  2.       Jujur dalam rencana dan planningnya, seorang yang jujur dalam rencananya adalah ia yang merencanakan perbuatan baik tanpa ada keraguan dan ia berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Dijadikan jujur dalam rencana lebih tinggi dari niat, karena niat dalam islam harus berbarengan dengan pekerjaan, maka jelas apa yang dikerjakan, sementara rencana atau azimah bisa berjarak sangat jauh dengan apa yang ingin kita kerjakan, sehingga butuh kejujuran lebih, karena perbuatannya masih sekedar wacana.
  3.       Jujur dalam melaksanakan rencana, karena membuat rencana lebih mudah dari mengerjakannya, maka jujur dalam melaksanakan rencana berada di posisi lebih tinggi. Terkadang sudah membuat rencana baik, tapi ketika berada di posisi yang baik, kita kalah dengan nafsu dan godaan setan.
  4.       Jujur dalam pekerjaan dan ini adalah derajat tertinggi, kejujuran dalam pekerjaan terlihat dari amalnya yang tidak menunjukan hal-hal yang berlawanan. Seperti seorang yang sholat dengan khusyu’, seorang yang jujur dalam pekerjaannya, tidak akan membuat orang berpikir bahwa ia shalat karena riya’, karena aura positif pada dirinya membuat orang sulit untuk berpikiran negatif, kecuali mereka yang hatinya terlampau kotor.

Kejujuran akan membawa kita ke surga, kata Rasulullah, ternyata buah dari kejujuran bukan hanya kita temukan di surga, buah dari kejujuran akan lebih dulu kita temukan di dunia ini, baik dalam bentuk materi maupun kebahagiaan dalam hati. Teringat kisah 3 orang yang terjebak di dalam goa, yang akhirnya kejujuran menjadi penyelamat mereka dengan melakukan introspeksi atas dirinya dan menyebutkan kesalahannya seraya beristighfar. Sebagaimana mereka diselamatkan dari goa dengan kejujuran, begitupun kita yang senantiasa jujur, Allah akan membiarkan kita memanen buah kejujuran kita 2 kali, di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishowab

_

Penulis:
Fikri Hakim,
Alumni Fakultas Ushuluddin Program Studi Tafsir, Al-Azhar – Kairo.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *