Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mukhalafatul lil hawadist, Dia Yang Berbeda dari Seluruh Makhluk

Mukhalafatul lil hawadist, Dia Yang Berbeda dari Seluruh Makhluk

Mungkin hanya Islam saja agama di muka bumi ini yang tidak memvisualkan Tuhannya. Dalam ranah akidah hal itu disebut dengan sifat Mukhalafatul lil Hawadist, Dia yang berbeda dari segala makhluk ciptaan. Perbedaan ini menurut para ulama merupakan bagian dari salah satu sifat salbiyah, yaitu sifat-sifat yang dimaknai dengan ketiadaan, dalam konteks pembahasan tulisan ini, Tuhan disifati dengan ketiadaan penyerupaan Allah Swt dengan segala makhluknya sama sekali.

Ketiadaan sama sekali keserupaan Allah Swt adalah bagian dari kesempurnaannya. Ia tidak bersemayam dalam sebuah materi, atau bukan juga sebuah dzat yang berada mengiringi sebuah materi, dan bukan pula sesuatu yang disifati kulli atau universal yang kerap berkaitan dengan kebesaran, juga bukan sesuatu yang juz’i atau parsial yang kerap berkaitan dengan sesuatu yang kecil. Keseluruhan sifat tersebut adalah sifat-sifat yang membangun dan mendefinisikan makhluk, sementara Dia adalah mukhalafatul lil hawadist, berbeda dari seluruh ciptaannya.

Al Quran menjelaskan sifat ini dalam banyak ayat, salah satunya adalh QS Asy Syurra 11: ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير  “Dialah yang tidak menyerupai sesuatu dan Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Imam Al Qurthubi mengutip perkataan Al Wasithy dalam tafsirnya berkata tentang ayat ini: “Dia yang tidak ada serupa dengan dzat-Nya, dzat mana pun, tidak serupa dengan nama-Nya, nama mana pun, tidak dengan perbuatan-Nya, perbuatan siapa pun, kecuali dari sisi lafaz. Dan maha mulia  Dzat-Nya yang Qadim memiliki sifat hadis, sebagaimana mustahil bagi dzat yang hadis memiliki sifat Qadim. Ini adalah mazhab ahlul haq, ahlus sunnah wal jama’ah.”

Bangunan bukti/dalil logis Mukhalafatul lil Hawadist dari para ulama

Selain mengutip pendapat mereka berdasarkan pemaparan dari Al Quran dan As Sunnah, para ulama juga mengutip banyak bukti logis untuk menjelaskan sifat mukhalafatul lil hawadist berikut adalah beberapa contohnya:

  •         Apabila Allah Swt tidak memiliki sifat mukhalfah lil hawadist maka ia serupa dengan ciptaan-Nya, jika serupa dengan ciptaan-Nya maka ia membutuhkan dzat lainnya untuk menjadikannya eksis, dan seterusnya Dia akan membutuhkan pencipta lainnya, hingga tidak terputus. Dan ini adalah kesalahan berlogika, atau yang dalam bahasa akidah dikenal dengan daur dan tasalsul.
  •         Sebagaimana pembahasan sebelumnya, Dia, Allah Swt bersifat Qidam maka mustahil baginya ketiadaan, dan seluruh dari hawadis (ciptaan) pasti fana dan tidak ada seorang pun yang qidam, maka jelas seluruhnya berbeda dengan esensi Allah Swt.
  •         Wajib bagi Allah Swt berbeda dari seluruh makhluknya, jikalau Dia sama dengan makhluknya maka boleh baginya hal-hal yang dimungkinkan bagi makhluknya dan mustahil bagi Allah Swt serupa dengan makhluknya dalam sifat. Dan sebagaimana sifat-sifat makhluk, terkadang ia bersifat kurang, dan hal tersebut mustahil bagi Allah Swt, karena Allah Swt berbeda dari makhluknya.

Setelah penjabaran dalil logis tadi, sifat mukhalafatul lil hawadist ini juga berdampak pada perkara lainnya, di antaranya adalah:

  • Dia bukanlah ‘Aradh (sesuatu yang mengiringi materi) ataupun Jauhar. Dengan ini Dia tidak bisa disifati dalam gambar, bau, jasad, kecil, besar atau warna dan materi pengiring lainnya. Sebagaimana permisalannya yaitu sebuah kapur, ia berwarna putih karena ada bersama sebuah materi (yaitu kapur) dan berwarna putih. Warna putih ini tidak mungkin dapat berdiri sendiri, ia butuh materi/Jauhar, dalam hal ini adalah materi kapur itu sendiri. Dia bukan Jauhar, karena Jauhar sendiri membutuhkan ‘aradh untuk dapat eksis. Segala bentuk kebutuhan dan kebergantungan adalah sifat dari ciptaan, dan Allah Swt berbeda dari ciptaan-Nya.
  • Dia tidak bertempat. karena tempat adalah ciptaan-Nya, Dia telah wujud/ada sebelum ada tempat.
  • Dia tidak berarah. Karena arah adalah ciptaan-Nya, arah ada seperti terciptanya manusia. Arah adalah sebuah ciptaan yang ada untuk kebutuhan manusia, sebagaimana manusia membutuhkan arah untuk mengetahui suatu posisi.

Baca juga: Tahukah Anda Fadhilah-fadhilah dari Surah Al Mulk?

Demikian sedikit penjabaran tentang sifat mukhalafatul lil hawadist, hikmah dari pada mengetahui sifat ini adalah: ketenangan batin dan rohani, bahwa Allah Swt tidak lah sebagaimana bayangan hamba-Nya, Dia lebih kuat dari yang terkuat sekalipun, dan Dia lebih mengetahui dari yang paling mengetahui di atas muka bumi ini. Maka kembalilah kepada-Nya dalam suka dan duka, karena hanyalah Dia yang dapat membersamai tanpa jarak, waktu, dan pemisah antara diri mu dan Dzat-Nya.

Install Takwa App

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *