Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Meresapi Makna Ikhlas Demi Kelapangan Hati

Meresapi Makna Ikhlas Demi Kelapangan Hati

Islam adalah agama yang memandang juga perkata intuisi dengan sangat detail. Seperti niat yang hampir menjadi rukun dari setiap ritual peribadatan. Selain niat ada ikhlas yang menjadi pelengkap dari sebuah amalan. Ikhlas adalah memperuntukan amalan untuk dekat dengan Allah Swt dari segala niatan busuk. Definisi tersebut diutarakan oleh Al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin. Al Ghazali menggunakan padanan kata  tajrid dalam teks aslinya, yang berarti mengkhususkan dan mengesampingkan hal lain dari esensi sebuah materi, dalam hal ini amalan perbuatan hanya demi sang Pencipta, Allah Swt.

Ikhlas sungguh erat kaitannya dengan kelapangan hati. Bagaimana tidak, seorang manusia kerap kali dililit oleh lawan sifat dari pada ikhlas yaitu perasaan riya, atau ingin memperlihatkan amalan pada seseorang dengan berbagai tendensi. Hal inilah yang menyebabkan ruang hati sesak, ketidak tenangan, hingga berujung pada inkonsistensi amalan kebaikan. Dari sini para ulama menitik beratkan perkara ikhlas sebagai syarat tidak tertulis atas diterimanya sebuah amalan kebaikan.

Mengutamakan sifat ikhlas dalam beribadah amatlah penting. Karena umat Islam dihimbau untuk mengkhususkan ibadah dan perbuatan dengan niat hanya untuk Allah Swt. Dalam doa iftitah yang dibaca selepas takbiratul ihram disebutkan ”sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan mati ku hanya untuk Allah semata.” Hanya dengan ikhlas manusia dapat dengan lapang dada melaksanakan segala kewajibannya di dunia ini dengan maksimal, tanpa terbebani hal lain yang justru akan mengkeruhkan hubungannya dengan Sang Pencipta.

Bagaimana Al Quran dan Al Hadis menerangkan tentang Ikhlas?  

QS Al Bayyinah, 5 

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

QS Az Zumar, 2

Install Takwa App

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Para ulama berpendapat ikhlas adalah perpanjangan dari niat yang tulus dari seorang hamba dalam setiap ibadah dan amalan kebaikan. Dengan demikian ikhlas adalah cabang dari niat yang tulus tadi. Dalam penerapannya, seorang hamba bisa saja mengawali sebuah perbuatan baik dengan niatan yang benar, akan tetapi dalam pelaksanaannya kerap kali ada kendala yang mempengaruhi perbuatan tersebut, bisa dikarenakan perbuatan itu amatlah sulit dan rumit untuk dikerjakan, padahal upah atau bayarannya tidak seberapa. Hal ini menyebabkan timbul sifat tidak ikhlas dan tulus untuk berbuat.

Karena beratnya perbuatan ini Allah pun menggaransikan bahwa yang dapat melakukannya maka ia tidak akan diberikan jalan bagi setan untuk menggodanya, sebagaimana tertera dalam QS Al Hijr, 39.

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ0 إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوا۟ دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

Simaklah bagaimana Rasulullah Saw menjawab pertanyaan tentang seseorang yang berperang demi namanya harum dan disebut oleh orang-orang:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ، مَالَهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا شَيْءَ لَهُ» فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا شَيْءَ لَهُ» ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ»

Dari Abu Umamah Al Bahily ia berkata: datang seorang lelaki ke pada nabi Saw, ia berkata: “bagaimana engkau memandang seorang yang berperang hendak untuk mendapatkan upah dan sebutan (dari orang lain)?” maka Rasulullah berkata: “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian ia mengajukan pertanyaan tersebut tiga kali dan Rasul Saw masih menjawab “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian nabi Saw berkata: “sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali dengan ikhlas dan mengharap hanya pada-Nya.” HR An Nasai

Dari hadis di atas tentu dapat difahami seorang yang berperang tadi mungkin saja ia mendapatkan upah dan kemasyhuran karena ketangkasannya dalam berperang, Namun kenyataannya Rasulullah Saw tidak menganggap bahwa hal tersebut adalah sebuah pencapaian, beliau Saw justru melihat niatan tulus untuk mengharap Allah Swt adalah barometer utama dari sebuah pencapaian. Dari sini kita dapat mengambil sebuah pelajaran bahwa ikhlas tidak berkaitan dengan hal materil yang didapatkan seseorang atas jerih payahnya dalam beramal, akan tetapi ikhlas berkaitan dengan suatu yang kasat mata antara dirinnya dengan Allah Swt.

Baca juga: Urgensi Refleksi Akhir Tahun bagi Seorang Muslim

Lebih jauh lagi tentunya keikhlasan ini tidak dapat kita tafsirkan berbuat semata-mata hanya untuk Allah Swt dengan mengesampingkan hal duniawi. Islam tetap menghimbau umat muslim untuk memiliki sifat cerdas dan profesional dalam menuntaskan sebuah pekerjaan, sehingga hasil yang didapakdan memuaskan. Akan tetapi itu bukanlah gol akhir dari sebuah amalan, karena tujuan utama dari setiap perbuatan adalah keridaann dan balasan hakiki dari Allah Swt.

Walllahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *