Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Menyingkap Hikmah Larangan Terorisme dalam Islam

Menyingkap Hikmah Larangan Terorisme dalam Islam

Menurut KBBI, terorisme adalah sebuah faham penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan. Tujuannya sendiri terbilang bermacam-macam, dari mulai hanya untuk memunculkan rasa cemas, takut dan khawatir di masyarakat hingga keinginan untuk mengkudeta sebuah pemerintahan yang sah. Untuk menanggulanginya, larangan terorisme digaungkan di mana-mana, setiap civitas sosial, agama, dan bangsa sepakat bahwa terorisme dilarang tumbuh.

Islam sebagai salah satu agama dengan penganut terbesar di dunia juga bersikap sejalan. Agama yang namanya mengandung asal kata as silm yang berarti ‘damai’ ini jelas menentang praktek teror yang bermaksud menjadikan masyarakat berada dalam ketakutan. Pelarangan ini jelas tertulis dari dua sumber utama ajarannya, Al Quran dan As Sunnah. Lantas bagaimana Islam memandu umatnya untuk menaati larangan terorisme?

Ajaran damai X larangan terorisme

Mudah saja bagi seorang yang adil dalam hati, akal dan fikirannya untuk menerima bahwa Islam menyeru pada kedamaian. Seruan itu jelas bertolak belakang dengan terorisme yang dasarnya adalah menyebarkan ketakukan di lingkungan. Belum lagi praktek terorisme kekinian tidak lagi sebatas hanya menyebarkan ketakukan, akan tetapi hingga merenggut nyawa orang tidak bersalah.

Untuk itu para ulama menggolongkan keselamatan jiwa adalah prioritas utama dari syariat Islam. Maka segala bentuk perintah dan larangan agama dibentuk demi untuk menjaga kelangsungan hidup manusia di dunia. Hal ini jelas termaktub dalam QS Al Maidah, 32:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”

Ayat tersebut menjadi penegas bahwa jiwa manusia amat lah mahal harganya, dikiaskan dengan ‘menjaga satu jiwa sama dengan menjaga semua dan membunuh satu jiwa sama dengan membunuh semua.’ Akan tetapi perlu diketahui juga pada hakikatnya ayat di atas tidak serta merta meniadakan sama sekali pembunuhan dalam Islam. Islam sendiri memperbolehkan hukuman mati bagi seseorang dengan syarat-syarat tertentu. Tentang ayat ini Imam As Sa’dy dalam tafsirnya berpendapat:

Install Takwa App

 “Ayat ini menjelaskan bahwa pembunuhan diperbolehkan dalam dua perkara: pertama, sebagai balasan atau hukuman atas pembunuhan seseorang dengan sengaja tanpa alasan syar’i, kedua apabila pelaku melakukan kerusakan di dunia bagi agama, jiwa dan harta orang lain. Selayaknya para kafir, pemberontak dan penyeru pada kerusakan yang tidak dapat ditanggulangi kecuali dengan membunuhnya.”

Penulis pada kesempatan ini tidak akan menjelaskan tentang pembunuhan yang dibenarkan oleh Islam karena pembahasan akan memanjang. Pada intinya, ayat di atas menjelaskan bahwa jiwa seseorang dinilai amat lah besar. Dalam ayat lain bahkan dijelaskan barang siapa yang membunuh seorang beriman maka hukumannya adalah neraka jahannam, kekal di dalamnya, Allah marah dan murka atasnya, dan untuknya telah disiapkan azab yang besar (QS An Nisa 93)

Untuk itu Rasulullah SAW menjelaskan makna-makna yang lebih detail tentang keselamatan jiwa, pentingnya untuk menjaga koeksistensi bermasyarakat dan menutup segala kemungkinan bagi umatnya untuk terjerumus dalam lubang terorisme atau bahkan pembunuhan. Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah RA meriwayatkan:

مَن أشارَ إلى أخِيهِ بحَدِيدَةٍ، فإنَّ المَلائِكَةَ تَلْعَنُهُ، حتَّى يَدَعَهُ، وإنْ كانَ أخاهُ لأَبِيهِ وأُمِّهِ.

“barang siapa yang mengacungkan pedang pada saudaranya maka malaikat melaknatnya hingga ia melepasnya, walaupun hal itu dilakukan kepada saudara sebapa atau seibu.”

Dalam hadis lain disebutkan:

أنَّهم كانوا يسيرون مع النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فنام رجلٌ منهم فانطلق بعضُهم إلى حبلٍ معه فأخذه ففزِع فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لا يحِلُّ لمسلمٍ أن يُروِّعَ مسلمًا

“Bahwa mereka (sahabat Rasulullah SAW) berjalan bersama nabi SAW, maka seseorang dari mereka tertidur kemudian seseorang membawa tali (untuk mengagetkannya) maka ia ketakukan karenanya, maka Rasululah SAW berkata ‘tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti seorang muslim lainnya.’” (Targhib wa Tarhib, Karya Al Mundziri)

Imam nawawi menjelaskan tentang hadis ini menjadi sebuah pengharaman dan larangan tegas untuk menakut-nakuti atau melakukan canda yang mungkin dapat menyakiti seseorang. Rasulullah menambahkan ‘walau kepada saudara sebapa dan seibu’ maksudnya adalah penekanan generalisasi hukum pelarangan; baik itu dituduh atau tertuduh, atau dalam konteks bercanda maupun serius.

Kedua hadis di atas dan tentunya masih banyak hadis bernada serupa menjelaskan secara gamblang dan jelas bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menakuti, meneror dan semacamnya dilarang dalam Islam. Perkara alat yang digunakan tentu menyesuaikan zaman. Di zaman ini orang tidak lagi menggunakan pedang, sekarang untuk meneror seseorang bahkan dapat menggunakan banyak alat seperti senjata api, bahkan melalui pesan-pesan singkat di media sosial.

Baca juga Kelembutan Sebagai Pilar Islam

Perlu diingat pelarangan itu tentu demi terciptanya lingkungan hidup yang kondusif dan aman bagi umat manusia. Karena hanya dengan kondisi yang aman suatu masyarakat baru dapat membangun peradaban kemanusiaan yang maju. Sudah banyak contoh bangsa yang setiap hari dirundung teror, pendidikan tidak maju, ekonomi menyempit dan pada akhirnya masyarakat yang tidak bersalah akan menjadi korbannya. 

Ayat-ayat dan hadis semacam ini juga menjadi sebagai penegas bahwa Islam tidak pernah menyerukan teror dalam mengajak seseorang pada suatu jalan. Di mana pada masa sekarang kerap terdengar sayup-sayup yang mengatakan bahwa Islam menyeru pada gerakan terorisme dan kegiatan ekstrim lainnya. Islam sebagai mana dasarnya adalah kedamaian, maka cara menyebar dakwahnya adalah dengan cara yang damai dan penuh hikmah. 

Berikut adalah bahasan dari larangan terorisme. Wallabua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *