Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mengungkap Nilai Pancasila dalam Islam

Mengungkap Nilai Pancasila dalam Islam

Pancasila sebagai salah satu dari pilar bangsa Indonesia akhir-akhir ini kembali diragukan oleh beberapa golongan dan Ormas. Mereka turut menyangsikan implementasi Pancasila khususnya tentang keterkaitannya dengan dengan Islam. Salah satu tuduhannya adalah nilai Pancasila tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga perlu direvisi bahkan ditolak. Padahal para pendiri bangsa secara konsensus telah menyepakati bahwa Pancasila dalam Islam eksis nilai-nilainya, dan sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Perdebatan di berbagai lini mulai dari media sosial hingga ke ranah hukum sudah pernah terjadi karena perkara ini. Salah satu usulannya adalah menggunakan syariat Islam sebagai pengganti dari ideologi Pancasila. Sebuah suvey oleh Lingkar Survey Indonesia (LSI) pada tahun 2018 menyimpulkan menurunnya klaim Pro Pancasila dan keinginan untuk negara yang bersyariah. Dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, publik yang pro-Pancasila menurun sebanyak 10%.

Padahal pada tahun 2005 masih berada di angka 85,2%, 2010 (81,7%), 2015 (79,4%), dan di 2018 anjlok kembali menjadi 75,3%. Meski masih mayoritas, namun fakta terjadinya penurunan sebesar 10% tetap perlu mendapat perhatian serius. Sedangkan publik yang pro-NKRI bersyariah justru mengalami kenaikan dari 4,6% di 2005 menjadi 7,3% di 2010. Angka tersebut kembali naik pada 2015 dengan 9,8% dan 13,2% pada 2018. Jadi dalam kurun 13 tahun ada kenaikan persetujuan publik terhadap NKRI bersyariah sebesar 9%.

Menyoal Pancasila dalam Islam

Realita data di atas tentu menjadi sebuah ironi tersendiri untuk sebuah bangsa yang telah mapan umurnya. Namun realita keadaan sosio-masyarakat Indonesia tidak dapat membohongi bahwa memang ada ketidakpercayaan atau paling tidak penurunan dari efektivitas Pancasila sebagai dasar berbangsa. Faktor semakin mundurnya ekonomi, hukum, dan HAM yang menjadi sorotan paling sering disebut oleh golongan penentang Pancasila.

Para penentang Pancasila itu menyoal efektifitas Pancasila untuk menanggulangi permasalahan bangsa. Jurang perbedaan ekonomi yang semakin menjulang, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas serta hak-hak dasar masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan pangan semakin mahal dan sulit didapat. Dari itu mereka menawarkan syariah Islam sebagai sebuah solusi atas segala permasalahan tersebut.

Dengan ini berarti terdapat sebuah stigma bahwa Pancasila menyelisihi nilai-nilai keislaman. Benarkah sangkaan ini? mari kita usut Pancasila dari sudut pandang nilai-nilai Islam:

–          Ketuhanan Yang Maha Esa

Install Takwa App

Tuhan atau kebertuhanan adalah ciri utama dalam sebuah agama. Dan Islam sendiri mengusung monoteisme sebagai dasar ajaran ketuhanannya. Sebut saja QS Al Kautsar ayat 1, “Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” Dan dengan ditempatkannya “ketuhanan yang Maha Esa” sebagai sila pertama semakin memperjelas bahwa tujuan dan landasan berkebangsaan dari bangsa Indonesia adalah menjadi bangsa yang berketuhanan.

–          Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Prof Rochmat Wahab, Guru Besar di Universitas Negeri Yogyakarta dalam sebuah artikel menyebutkan bahwa sila ke dua ini melambangkan hubungan intra-personal. Yaitu sila yang berkaitan tentang the value of person, yang menitik beratkan etika mulia seseorang. Adil dan beradab adalah sebuah nilai utama dalam Islam yang diajarkan oleh Al Quran dan Rasulullah SAW.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

–          Persatuan Indonesia

Kehidupan saat ini tidak lagi terbatas oleh suku, kultur atau bahasa tertentu, akan tetapi seluruh umat manusia berhak untuk merasakan keamanan dan kenyamanannya bersama. Semua melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak-haknya. Dari itu Persatuan dalam kedamaian adalah salah satu nilai yang tidak mungkin hilang dalam kultur yang homogen seperti masa modern ini.  

Islam pun menyadari dan mengamini nilai ini sebagai nilai universa dalam QS Al Hujurat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Di sini Al Quran secara tekstual mengakui bahwa manusia itu diciptakan secara homogen, berbeda-beda suku bahasa dan kulturnya, maka dari itu saling mengenal dan saling menjaga kondusifitas kerukunan adalah sebuah hal niscaya demi keutuhan kehidupan sosial.

Baca juga: Kesetaraan Gender dalam Islam, Wacana atau Realita?

–    Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Sila ke empat mengandung 2 susunan kalimat yang saling berhubungan, pertama, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan ke dua, dalam permusyawaratan perwakilan. Untuk poin pertama, negara ini akan dipimpin oleh para warganya yang memiliki kebijaksanaan dalam memimpin, mengutamakan kemaslahatan dan kebaikan negeri. Tidak boleh tangan besi apalagi hingga mengambil hak-hak rakyatnya secara tidak adil. Ke dua, adalah himbauan untuk melaksanakan segala hal dengan mengutamakan musyawarah warganya, dalam hal ini diwakili oleh dewan rakyat.

Dua poin di atas nyatanya memang ada dan menjadi ajaran dalam agama Islam, tentang pemimpin yang bijaksana dan adil serta perintah untuk bermusyawarah:

أهل الجنة ثلاثة : سلطان مقسط ، ورجل رحيم القلب بكل ذي قربى ومسلم ، ورجل غني عفيف متصدق ) . رواه مسلم عن عياض بن حمار

“Ahli surga tiga: pemimpin adil, seorang yang baik hati pada setiap kerabat dan umat muslim, dan seorang yang kaya harta, terhormat dan gemar bersedekah.”

وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

 Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

–          Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

keadilan adalah ajaran luhur dari agama Islam. Datangnya agama Islam adalah sebuah perintah untuk melaksanakan keadilan dalam setiap perkara. Sebaliknya, islam mengharamkan zalim yaitu lawan kata dari adil. Hal ini tertulis dalam QS An Nahl, 90:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Setelah pemaparan singkat dan perenungan sejenak tentu kita perlu memutar kembali rekam jejak perselisihan ini. Apabila bangsa Indonesia tidak mampu mengamalkan nilai ‘Islam’ yang disebut Pancasila ini, bukankah lebih baik untuk mendidik anak-anak bangsa tentang nilai tersebut daripada membuangnya dan menafikan nilai Pancasila dalam Islam?

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *