Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mengimani Malaikat Atid Sebagai Pencatat Amal Buruk Manusia

Mengimani Malaikat Atid Sebagai Pencatat Amal Buruk Manusia

Betapa merugi seorang hamba yang menyangka bahwa terdapat sebuah tempat yang luput dari pengawasan Allah Swt. Mereka dengan gencarnya berbuat hal tercela dan dosa dalam kesendirian seakan tidak ada yang melihat. Padahal langit dan bumi telah tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan Allah Swt. Tiada suatu pun luput dari pengawasannya. Bukankah telah disebutkan di dalam Al Quran, surat An Nisa ayat 78, “di manapun engkau berada, maka Allah Swt mengetahuinya.” Dan selain itu Allah Swt juga telah mengutus Malaikat ‘Atid sebagai perwakilan-Nya untuk mencatat setiap amal keburukannya.

Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam Shahihain, meriwayatkan sebuah hadis Qudsi: “Allah Swt berkata apabila seorang hamba memiliki intuisi dalam dirinya untuk berbuat sebuah keburukan maka janganlah kalian tulis, dan apabila mereka melakukan kesalahan itu maka tulislah satu dosa untuknya. Dan apabila mereka memiliki intuisi untuk berbuat kebaikan maka tulislah satu kebaikan untuknya dan apabila mereka melakukannya maka lipatkanlah menjadi 10 kebaikan.”

Hadis di atas menjelaskan bahwa dalam diri setiap hamba terdapat malaikat yang Allah Swt utus untuk mengawasi segala gerak-geriknya, apabila ia berbuat baik maka Malaikat tidak segan untuk mencatat amalannya bahkan melipatgandakannya. Begitupun sebaliknya, amalan buruk pun akan tercatat dalam sebuah kitab yang pada akhir nanti akan dipertanggungjawabkan oleh masing-masing dari umat manusia.

Malaikat Atid dalam diskursus keilmuan Islam

Kata ‘atid’ atau ‘عتيد’ dalam bahasa arab bermaknaa  ‘Yang Menyiapkan’ dan ‘Yang Keras.’ Sementara kata ‘atid’ di dalam Al Quran ditemukan dalam Q.S Qaf ayat 18, مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ . Para Ahli tafsir salah satunya adalah Imam Al Qurthubi nyatanya mengambil makna yang berdekatan dengan makna bahasanya, yaitu ‘dia yang selalu hadir dan tidak pernah gaib’ atau ‘yang menjaga dan mempersiapkan.’

Sebagaimana pengertian dari kata yang digunakan Al Quran, para ulama Islam juga telah merumuskan bahwa Malaikat Atid bertugas untuk mencatat amalan buruk yang dilakukan oleh manusia. Terdapat banyak hadis yang meriwayatkan bahwa yang dimaksud dalam QS Qaf ayat 18 adalah malaikat Atid, di antaranya adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thobari dalam tafsirnya, dari Hisyam Al Humshi.

Telah dikatakan kepadanya: apabila seseorang berlaku buruk, penulis kanan (malaikat raqib) berkata kepada penulls kiri, ‘tulislah!’, maka ia (malaikat Atid) pun ‘tidak tulislah kamu’ keduanya enggan untuk menulisnya hingga sayup-sayup terdengar ‘Hai, penunggu sebelah kiri tulislah apa yang tidak dituliskan oleh penunggu sebelah kanan.’ Dengan ini Allah telah melibatkan peran malaikat Atid sebagai penulis segala amalan buruk bagi manusia.

Baca juga: Malaikat Raqib, Antara Tugas dan Penamaan

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Murad Abdillah Al Janany, dalam karangannya Sa’adatul Ananm bisyarhi ‘Aqidatul ‘Awwam malaikat adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt dari cahaya, dan diciptakan lebih awal dari manusia, ia diberikan akal namun tidak bermaksiat pada Allah Swt, maka segala sifat yang dimilikinya berbeda dari sifat penciptaan manusia.

Mereka tidak akan mengingkari perintah, juga tidak akan khianat atas tugas yang telah dilimpahkan kepada mereka. catatan-catatan yang mereka kumpulkan akan menjadi saksi bagi setiap manusia di hadapan Tuhannya. Sebagaimana disebutkan dalam QS  Al Insyiqaq ayat 7-11 yang menyatakan bahwa seluruh umat manusia akan diberikan catatan amal. Ada yang diberikan lewat tangan kanannya, maka ia akan diberikan perhitungan mudah dan akan kembali ke keluarganya di surga dengan gembira.

Sementara sebagian manusia lainnya akan diberikan lewat belakang punggungnya dengan tangan kirinya. Golongan orang ini akan mendapatkan balasan setimpal atas berbagai dosa yang telah ia lakukan. Dia akan merintih karena mala petaka yang akan ia terima di neraka nanti. Itulah tadi sedikit gambaran golongan manusia di akhirat nanti, kewajiban seorang mausia adalah mengambil pelajaran dari kitab sucinya serta beramal saleh untuk mempersiapkan kehidupan kekalnya nanti di akhirat.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *