Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mengenal Nasab Nabi SAW yang Mulia

Mengenal Nasab Nabi SAW yang Mulia

Di antara bentuk persiapan Allah SWT untuk kedatangan nabi teragung sekaligus yang akan menutup silsilah kenabian adalah kualitas nasab. Nasab yang Rasulullah SAW berasal daripadanya merupakan pertalian keluarga terbaik yang ada pada bangsanya saat itu. Pertalian nasab nabi SAW yang menyambung hingga nabi Ibrahim AS menjadi sebuah kebanggaan, ditambah individu-individu di dalamnya terbilang menjadi tetua yang banyak dihormati oleh bangsa Arab.

Perkara nasab sendiri di dalam Islam amat lah penting. Bahkan salah satu tujuan syariah (maqashid syariah) adalah terjaganya silsilah keturunan, hifzun nasl. Bentuk penjagaan ini maka diadakanlah hukum pernikahan, siapa yang boleh dan tidak boleh dinikahi, perceraian, warisan, wasiat, hak asuh dlsb. Kejahatan yang menyentuh ranah silsilah keturunan juga dibahas mendetail seperti perzinahan, prostitusi, penyelewengan seksual dll.

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ ۚ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu berselisih tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab, 5)

Ayat di atas menjelaskan betapa pentingnya perkara nasab dengan menegaskan siapa ayah dan anak dari seseorang. Andaikan tidak diketahui asal muasalnya, maka anggaplah ia sebagai saudara seagama, jangan justru di-nasab-kan pada mereka yang tidak berhak. Sebagaimana dijelaskan di awal, kerancuan keturunan akan berimplikasi besar pada hukum-hukum yang disebutkan di awal, dan terlebih akan mempengaruhi besar pada jiwa seseorang.

Nasab nabi SAW dan pengaruhnya untuk tersebarnya Islam

Nabi Muhammad SAW lahir dari bangsa Quraisy. Nasabnya ke atas adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Fihr bin Malik bin Nudhar (Quraisy) bin Kinanah. Nasabnya terus menyambung hingga ke ‘Adnan yang merupakan keturunan dari Ismail bin Ibrahim.

Sebagaimana ditegaskan di awal jika keturunan berdampak pada segala hal yang berkaitan dengan status sosial seseorang. Nasab nabi SAW yang terlahir dari para pembesar Quraisy. Dalam hal ini Bani Quraisy, merupakan keluarga terhormat yang diagungkan oleh bangsa Arab. Selain sebagai penjaga Baitullah dan yang bertugas sebagai pemberi perbekalan bagi para peziarah, mereka juga adalah keluarga saudagar yang berdagang ke Syam dan Yaman.

Install Takwa App

Abdullah, ayah nabi SAW adalah anak kesayangan Abdul Muthallib, ia wafat dalam perjalanan dagang dan wafat di sebuah daerah dekat dengan Madinah. Sementara Abdul Muthallib adalah pembesar Quraisy, ia memiliki majlis dekat dengan Haram Mekkah, bangsa Arab dan peziarah kerap mendatanginya untuk mendengarkan nasehatnya. Ia juga memiliki unta-unta khusus untuk melayani para peziarah Baitullah.

Sementara Hasyim, kakek Rasulullah SAW ke 3 adalah seorang saudagar kaya. Ia mewarisi Iilaf quraisy dari Ayahnya Abdu Manaf yang seorang pedagang, yaitu perjalanan ekspansi dagang ke negeri Yaman pada musim dingin dan ke negeri Syam pada musim panas. Demikian terus silsilah keturunan nabi SAW adalah para pembesar terkemuka bangsa Arab, mereka memiliki jiwa kepemimpinan, kedermawanan, dan harta yang berlimpah

Tentu kita bertanya-tanya apa manfaat baiknya nasab nabi dan perannya untuk Islam? Awalnya, nasab mulia nabi Muhammad SAW berperan sebagai penopang awal munculnya Islam. Karena kemuliaan nasab nabi Muhammad SAW, para pembesar Quraisy tidak ada yang berani langsung untuk menghalangi dan memboikot. Baru ketika ada keputusan konsensus tetua kabilah bani Hasyim dapat terboikot dari interaksi kaum Arab.

Contoh lainnya dalam upaya pembunuhan nabi SAW saat peristiwa detik-detik hijrah. Para tetua Quraisy memutar otak bagaimana agar pembunuhan tidak akan menjadi malapetaka perang antar-kabilah, pasalnya hukum darah dibalas darah menjadi semacam aturan tidak tertulis bagi bangsa Arab saat itu. Maka diputuskanlah setiap kabilah akan mengirim satu orang pemuda untuk membunuh nabi, agar bani Hasyim tidak dapat membalas dendam pada seluruh bangsa Quraisy.

Namun makar itu –sebagaimana kita ketahui- gagal. Allah SWT telah mengabarkan pada nabi agar keluar Mekkah terlebih dahulu, dan mengecoh bangs Quraisy dengan menidurkan Ali bin Abi Thalib di ranjang nabi. Saat tiba di kota Madinah, karena kedudukan Rasulullah yang berasal dari keturunan terhormat dan didikan kepemimpinan yang didapat tidak sulit bagi beliau SAW untuk memimpin dua kekuatan besar Islam saat itu, Muhajirin dan Anshor.

Rasulullah SAW kemudian membangun peradaban di kota Madinah, mempersaudarakan masing-masing kaum Anshor dengan kaum Muhajirin, agar tiada perasaan asing bagi kaum Muhajirin. Sebaliknya, bagi kaum Anshor mereka mendapatkan kehormatan menerima tamu agung dari para sahabat terkemuka Rasulullah. Maka dibuatlah perjanjian antara seluruh penduduk Madinah, yang dikenal dengan Piagam Madinah, agar seluruh penduduk berjalan pada satu tujuan.

Baca juga: Hakikat Kemuliaan Wanita dalam Islam

Terakhir, sepeninggal Rasulullah SAW, keturunan beliau SAW menjadi pegangan tersendiri bagi umat muslim yang apabila seorang muslim berpegang padanya tidak akan ia tersesat, yaitu Kitabullah (Al Quran) dan ‘Itrah Alul Bait   (keturunan Rasulullah). Rasulullah dalam hadits ini sungguh menekankan agar umatnya mengambil pelajaran dari keturunan beliau, hingga mengulangi penyebutan ahlul bait hingga tiga kali.

Sampai saat ini, keturunan Rasulullah SAW masih ada dan menyebar di seluruh dunia. Keturunan Rasulullah ini berasal dari keturunan Fatimah RA dengan Ali bin Abi Thalib, melalui dua cucunya, Hasan dan Husein. Meski, tidak keseluruhannya menjadi alim ulama, namun mereka radhiyallahu ‘anhum memiliki keutamaan anugerah tersendiri. Umat muslim diimbau untuk tetap mencintai dan menghormatinya.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *