Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mengenal Imam An Nasai, Pengarang Sunan Al Mujtaba

Mengenal Imam An Nasai, Pengarang Sunan Al Mujtaba

Umat ini tidak pernah kehilangan panutan dalam Ilmu Hadis. Hilang satu tumbuh seribu. Terlebih di masa tiga periode pertama keislaman. Salah satu yang paling gemilang dalam ilmu hadis adalah Abu Abdurrahman bin Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinaan An Nasai (Imam an nasai). Beliau lahir pada tahun 215 H di Nasa, sebuah desa di kawasan Khurasan (Turkmenistan saat ini) dan wafat di Palestina tahun 303 H.

Sebagaimana para ulama sezamannya, Imam An Nasai diberkahi dua keutamaan utama: kecerdasan dan tekad yang utama dalam menuntut ilmu. Dua keutamaan itu lantas tercermin dalam ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang mulia. Sejak kecil An Nasai kecil telah memulai untuk menuntut ilmu kepada para guru di Khurasan, kemudian sebagaimana adat di masanya ia mulai merantau ke banyak tempat untuk bertemu dengan para guru guna menyambungkan sanad keilmuan dalam ilmu hadis.

Di antara kota-kota ilmu yang pernah dikunjunginya adalah, Hijaz (Mekkah dan Madinah), Baghdad, Syam dan Mesir. Khusus di Mesir, beliau tidak hanya berkunjung tapi juga menetap. Abul Husein Al Muzaffar berkata “Aku mendengar para guru kami di mesir mengakui keutamaan dan keunggulan dari Abu Abdurrahman An Nasai. Ia adalah orang yang kuat beribadah di siang dan malam hari, selalu berhaji, berhaji dan melaksanakan sunnah-sunnah, ia juga berhati-hati pada para Sultan.”

Keilmuan An Nasai yang bagai lautan itu tidak terlepas dari para guru yang telah banyak jasa mengajarinya. Di antara guru-guru yang paling berpengaruh pada Imam An Nasai: Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Abu Kuraib, Suwaid bin Nasr, Muhammad bin Nasr Al Maruzy, Mahmud bin Ghaylan, Muhammad bin Basyar Bundar, dll.

Imam Adz Dzhahaby sampai mengatakan bahwa pada 300 tahun pertama Hijriah, tiada yang lebih hafal (hadis) daripada An Nasai. Dari situ, para ulama yang sezaman dengan beliau berduyun-duyun mendatanginya untuk berguru. Sementara para muridnya tidak kalah utama, mereka adalah para ulama penerus An Nasai, diantaranya: Abul Qasim Ath Thabrany, Abu Ja’far Ath Thahawy, Ibrahim bin Muhammad bin Sinan, Abu ‘Aly An Naysabur dll.

Karangan terbaik Imam An Nasai, Sunan Al Mujtaba

Banyak karya yang dituliskan oleh Imam An Nasai namun karena keterbatasan masa, saat ini hanya Sunan An Nasai saja yang akan dibahas. Judul asli kitab ini adalah Al Mujtaba min Sunan Al Kubra, atau lebih dikenal dengan Sunan Shugra atau Sunan An Nasai. Banyak dari kalangan ulama hadis menyatakan bahwa derajat Sunan An Nasai sedikit di bawah Shahihain karya Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Mendukung pernyataan di atas, Imam Jalaluddin As Suyuthy, dalam pendahuluan kitab Zuhrur Riba ‘Alal Mujtaba mengatakan, “Kitab Sunan ini adalah yang paling sedikit hadis dhaifnya, dan paling sedikit perawy yang ter-jarh (tidak diterima kesaksiannya) dari Shahihain” dari itu kitab Sunan karya An Nasai masuk satu dalam 6 buku hadis utama rujukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Install Takwa App

Perlu diperhatikan terdapat perbedaan metode pengumpulan hadis yang dilakukan oleh Imam Nasai dan Imam Bukhari dan Muslim, juga para ulama hadis lainnya. Beliau menamakan kitabnya sebagai “sunan” yang berarti, pengumpulan hadis berdasarkan tema-tema tertentu sebagaimana yang juga dilakukan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Dawud. Dan tidak seperti kitab Shahih yang mengutamakan peniadaan hadis dhaif di dalamnya, hadis-hadis dalam kitab sunan tercampur di dalamnya hadis dhaif, hasan dan shahih.

Di antara metode yang digunakan oleh Imam An nasai dalam mengumpulkan hadis-hadis nabi dalam Sunan-nya adalah:

  • Para perawy (rijal) dalam sanad tiada yang keluar dari tsiqah (terpercaya karena kemampuan) dan udul (diridhoi kesaksiannya);
  • Hadis di dalamnya hanya seputar hukum-hukum;
  • Pengulangan hadis dengan berbagai jalur (sanad);
  • Mengulas hadis dari sisi illah (cela), dan menjelaskan perselisihan di dalamnya.

Melihat kedudukan dari kitab ini, banyak dari para ulama yang membuat penjelas (Syarh) atas kitab ini, kami sebutkan tiga di antaranya: yang disebutkan di atas, Zuhrur Riba ‘Alal Mujtaba karya As Suyuthy, Dzakhiratul ‘Uqbaa fi Sharhil Mujtaba karya Muhammad bin Ali bin Adam Al Ethiopy, dan Hasyiyatus Sanadi ‘Ala Sunan An Nasai, karya Muhammad Abdul Hady As Sanady.

Selain berkutat di ilmu hadis dan cabang-cabangya, tidak jarang sang Imam juga memberikan perlawanan dan pembelaan pada agamanya. Salah satu buktinya adalah sebuah kitab yang beliau karang berjudul Al Khashaish, yang berisi fadhilah dan keutamaan Imam Ali Karramahullah Wajhah. Kitab ini beliau karang saat melihat fenomena yang terjadi di Damaskus, saat perjalanannya menuju tanah suci untuk berhaji.

Beliau melihat para penduduknya mengurangi keutamaan dan kedudukan Imam Ali. Peristiwa ini justru menjadi sebab dari kesyahidannya. Diriwayatkan, bahwa saat beliau melihat fenomena buruk itu beliau mencoba untuk berdialog dengan para penduduk akan keutamaan Imam Ali. Akan tetapi para penduduk yang terlanjut fanatik tidak terima, dan menghujani beliau dengan kekerasan hingga keluar dari masjid dan wafat dalam kesyahidan membela agamanya. Pada akhirnya  dimakamkan di Romlah, salah satu kota di Palestina saat ini.

Baca juga: Begini 5 Cara Warga Mesir Memperingati Peristiwa Tahun Baru Islam

Peristiwa ini layaknya menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam saat ini. Penduduk Damaskus saat itu sudah layaknya umat bani Israil yang membunuh para nabinya karena ketidak sesuaian dengan hawa nafsu mereka. Imam Ali adalah sosok yang mulia dengan segala keutamaannya, membencinya juga bentuk benci pada mertuanya yaitu nabi SAW yang amat cinta padanya.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *