Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mengenal Adab Makan, Table Manner versi Islam

Mengenal Adab Makan, Table Manner versi Islam

Dalam budaya barat dikenal istilah table manner yang ternyata bila diartikan maka maknanya tidak jauh dari etika yang dilaksanakan ketika saat makan. Karena makan dan proses makan satu kaum berbeda dengan lainnya maka tentu setiap budaya memiliki table manner sendiri yang lazim diterapkan sehari-hari. Islam sebagai salah satu world-view manusia juga memiliki table manner sendiri yang dicontohkan langsung oleh Sang Pembawa risalah, nabi Muhammad SAW. Table manner ini dinamai dengan Adab Makan.

Tidak seperti ajaran budaya barat yang cenderung hanya memperhatikan aspek etika ketika proses makan, Islam memperhatikan juga aspek sebelum, ketika dan setelah makan. Ukuran kesopanan yang dibuat juga tidak semata agar enak dipandang dan tidak menjijikan, akan tetapi juga mencakup aspek kesyukuran atas rezeki dalam bentuk makanan kepada Tuhan. Dalam hal ini manusia menganggap apa yang dilimpahkan kepadanya berbentuk makanan dan minuman adalah anugerah yang perlu untuk disyukuri.

Perbandingan lain yang bisa direfleksikan adalah fleksibilitas adab makan dibanding table manner itu sendiri. Meski diajarkan oleh nabi SAW yang merupakan keturunan Arab, poin-poin umum dari adab makan sendiri dapat digunakan oleh seluruh bangsa, seperti berhenti makan sebelum kenyang, mengutamakan orang lain dalam makan, menggunakan tangan kanan, dan tidak mencemooh makanan. Nilai-nilai tersebut adalah sebagian kecil dari ajaran Islam dalam melihat makanan.

Lebih jauh tentang adab makan menurut Rasulullah SAW

Rasulullah SAW tidak pernah menolak makanan yang diberikan untuknya apalagi mencemoohnya, kecuali memang makanan itu asing dan terdapat kejanggalan di dalamnya. Karena bagi seorang muslim ada beberapa makanan yang memang diharamkan. Namun aspek utama dan universal Islam dalam melihat makanan adalah melihat segala hal yang thayyib atau baik/berkhasiat/menyehatkan adalah halal untuk dimakan.

Beliau SAW juga memposisikan diri dengan baik pada sebelum, ketika dan setelah makan. Doa sebagai bentuk syukur adalah yang diutamakan, beliau berujar pada seorang anak, “Dik, ucaplah nama Allah (sebelum makan), makan lah dengan tangan kanan mu, dan makan lah yang terdekat dari pada tempat makan mu.” Setelah mengucap bismillahirrahmanirrahim baru lah beliau makan apa yang disediakan dan terdekat dari jangkauannya tanpa mencium-cium atau meniup makanan.

Karena pada masanya tiada meja makan, maka beliau makan duduk di atas tikar bersama keluarga atau para sahabatnya. Makan bersama ini menjadi sebuah ajaran penting juga dalam adab makan. Di saat makan, sesama keluarga dapat membicarakan berbagai hal yang diperbolehkan. Kondisi seperti itu diperbolehkan bahkan juga menjadikan keluarga semakin erat dan hangat.

Perkembangan zaman saat ini menjadikan makan dapat dilakukan di mana saja. Bahkan kini terdapat ruang khusus yang digunakan untuk makan. Tentu Islam tidak melarangnya karena hal itu masih dalam koridor yang diperbolehkan selama tidak berlebihan. Perkara beliau SAW menggunakan tiga jari saat makan tentu karena kondisi mengharuskannya seperti itu. Makanan pokok bangsa Arab salah satunya adalah rerotian. Maka wajar beliau menggunakan tiga jari.

Install Takwa App

Apabila warga Indonesia melakukannya tentu akan kesulitan karena makanan pokoknya adalah nasi. Serta keragaman jenis makanan di zaman sekarang mengharuskan kita menggunakan banyak peralatan seperti sendok, garpu dan pisau. Dari itu kita perlu melihat hikmah dari yang dicontohkan Rasul SAW yaitu kerendahan hati, tidak rakus, tidak tergesa-gesa dll. Selepas makan beliau menjilati jemari mulianya, karena beliau berkata bahwa di sisa-sisa makanan itu terdapat keberkahan.

Hal itu tentu tidak akan dapat dilakukan jika hidangan yang disajikan adalah sayur sop ataupun sate kambing. Kita tidak dapat membayangkan seorang akan menjilat sendok atau tusuk sate setelah makan. Dari itu perlu dilihat sikon dan kondisi di mana Rasulullah SAW makan. Di antara adab lainnya beliau juga kerap menunggu makanan yang panas hingga hangat atau dingin, beliau juga kurang menyenangi makanan yang berbau menyengat seperti bawang putih dan bawang merah.

Perlu diketahui, bangsa Arab kerap memakan bawang-bawang itu secara utuh hanya dengan tambahan cuka dan sedikit cabai. Jika bangsa Indonesia atau melayu mempergunakan bawang-bawangan sebagai bumbu dasar yang digunakan sebagai penyedap masakan, maka jangan karena terdapat hadis pelarangan makan bawang bagi yang hendak ke masjid, lantas ia melarang istri atau asisten rumah tangganya untuk memasak menggunakan bawang.

Di antara wasiat beliau dalam makan adalah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Maka sebelum kenyang beliau akan berhenti dari makan. Hal itu demi agar seorang muslim tidak malas karena kekenyangan dan juga tidak lemas karena kekurangan makanan. Islam selalu menghimbau agar melakukan sesuatu sesuai porsi dan tidak berlebihan. Setelah makan, beliau mengajarkan agar untuk membaca doa sebagai bentuk syukur atas nikmat makanan yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Baca juga: Jagalah Amalan dari Bahaya Riya!

Pada intinya, prosesi makan dalam Islam memiliki kedudukan tersendiri dan tidak terpisahkan dari peradaban hidup yang dibawa oleh Islam. Perlu bagi generasi-generasi muslim untuk memahaminya guna untuk diterapkan agar kebaikan, kesehatan sekaligus keberkahan selalu ada dalam kehidupan. Allah SWT berfirman dalam QS An Nahl 114:

فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

 

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

 

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *