Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mengapa Siti Khadijah Begitu Spesial di Mata Rasulullah SAW?

Mengapa Siti Khadijah Begitu Spesial di Mata Rasulullah SAW?

Kisah hidup Rasulullah amat berkaitan dengan mereka yang selalu membersamainya. Terkhusus Siti Khadijah, sang istri yang selalu menemaninya dalam suka dan duka. Beliau lah yang menjadi penopang, penyemangat, penguat dan pemberi ketentraman bagi Rasulullah SAW. Pada kesempatan ini, mari kita mengenal lebih dekat tentang sosok beliau dan peran besarnya bagi suami tercinta, baginda nabi Muhammad SAW.

Profil Siti Khadijah RA dan peran besarnya untuk Islam

Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay bin Kilab, di sini nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW. Beliau dilahirkan 15 tahun sebelum kelahiran nabi SAW, seorang wanita yang amat dikagumi oleh bangsa Quraisy saat itu. Dengan kecantikan, kedewasaan dan harta yang berlimpah beliau memperoleh penghormatan dari bansanya.

Diriwayatkan beliau telah menikah 2 kali sebelum dengan Rasulullah SAW, masing-masing dengan Abu Halah Az Zaroroh dan ‘Atiq bin ‘Aidz Al Makhzumi. Dari keduanya Khadijah Al Kubra dikaruniai 3 anak. Dari suami pertama beliau mendapatkan harta peninggalan yang melimpah, dengannya beliau mengembangkan harta tersebut untuk berdagang ke Syam dan Yaman.

Beliau mempekerjakan banyak orang untuk mendagangkan barangnya, dan salah satu dari mereka adalah Rasulullah SAW. Sebelumnya, Khadijah telah merasakan bahwa terdapat hal berbeda dari Muhammad SAW, dari itu beliau menyuruh budak lelakinya, Maisarah untuk menemaninya dalam berdagang, tanpa mencampuri urusan dagangnya.

Benar saja, sepulangnya Maisarah dari berdagang, beliau menemukan bahwa Rasulullah SAW begitu dapat dipercaya, menjual barangnya dengan jujur dan amanah. Beliau membawa pulang keuntungan hingga berkali lipat. Dari sini, mulai ada ketertarikan dari Siti Khadijah untuk menjadikan Muhammad SAW sebagai suami. Singkat kata beliau pun menikah dengan nabi Muhammad SAW dan memulai kisahnya bersama manusia terbaik sepanjang masa.

Kisah selengkapnya akan para pembaca temukan di banyak buku sirah. Kali ini penulis ingin merangkum beberapa peran mendasar dan paling berperan dari Siti Khadijah kepada Rasulullah SAW dan Islam. 

–          Kesetiaan Khadijah dalam pengabdian

Dalam masa dekat turunnya wahyu, sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah bahwa Rasulullah SAW gemar menyendiri, merenung dan memikirkan kondisi umatnya di suatu tempat bernama gua hira. Tidak jarang Rasulullah SAW berada di tempat itu beberapa hari hingga terkadang kehabisan perbekalan.

Install Takwa App

Di masa itu, Siti Khadijah hadir untuk mengabdi pada suaminya, menyiapkan apa yang dibutuhkan dan tidak jarang beliau sendiri yang mengantarkan makanan untuk Rasulullah SAW sambil terus mengurusi anak-anaknya. Belum lagi beliau memiliki kewajiban untuk mengurus perniagaannya. Ibnu Hajar Al Asqalany berkata: “Ia (khadijah RA) berupaya keras untuk dapatkan ridho suaminya, dan tidak pernah ada tanda-tanda kemarahan sebagaimana ternampak pada wanita lainnya.”

–          Yang pertama mengimani dan menguatkan bahkan sebelum turunnya wahyu

Sejak memperhatikan tindak-tanduk Rasulullah SAW, Siti Khadijah telah mengetahui bahwa Muhammad suatu saat akan memiliki keutamaan bagi bangsa Arab bahkan seluruh umat manusia. Bahkan beliau meyakini bahwa suaminya akan menjadi nabi bahkan sebelum beliau diutus dan mendapatkan wahyu.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, beliau meraih tangan suaminya dan meletakkannya di atas dadanya, “demi ayah dan ibu ku, demi Allah aku tidak melakukan ini karena sesuatu, akan tetapi aku berharap engkau lah nabi yang akan diutus, andaikan dia (nabi) itu engkau, akuilah aku dan tempat ku, dan berdoalah pada Tuhan yang mengutus mu untuk ku, kemudian Rasul berkata, ‘demi Allah andaikan benar aku dia (nabi), engkau telah berbuat apa yang tidak akan aku sia-siakan, dan andai dia (nabi) itu bukan aku, maka Tuhan yang engkau berbuat ini karenanya tidak akan menyia-nyiakan mu sama sekali.”

Lihat lah betapa siti Khadijah menjadi tumpuan bahkan sebelum datangnya risalah langit. Beliau telah mendermakan jiwa dan raga sebelum turunnya wahyu, dan menyatakan keimanannnya.

–          Ketenangan dan kelembutan Siti Khadijah

Jika lelaki memiliki kekuatan, ketangkasan dan daya tahan diri lebih dari wanita, maka wanita memiliki ketenangan dan kelembutan yang menjadi fitrahnya. Dengan itu lelaki dapat bernaung dan mengisi jiwanya. Siti Khadijah sungguh memerankan hal ini dengan sempurna saat Rasulullah SAW kembali dari gua hira dengan membawa ayat pertama dari Al Quran yang turun.

Saat Rasulullah SAW tiba di rumah beliau bergidik, merinding dan ketakutan, dan berkata “zammiluuni.. zammiluuni..!” selimuti aku.. selimuti aku.. dengan ketanggapannya, beliau langsung menyelimuti Rasulullah SAW. Dalam kondisi yang menegangkan ini, diperlukan ketenangan, kelembutan sekaligus keberanian dari seorang wanita, dan itu sukses beliau perankan.  

Tidak selesai di situ, dengan kecerdikan dalam mencari solusi, beliau menggandeng Rasulullah SAW menemui anak pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang tua, buta namun memahami ajaran nabi Musa dan Isa. Rasulullah SAW pun menceritakan segalanya proses turunnya wahyu, malaikat, hingga ayat yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.  

Waraqah bin Naufal berkata, “ini lah malaikat yang Allah turunkan ke pada Musa AS, andaikan aku masih hidup, saat kaum mu mengusir mu, ‘rasul berkata, apakah mereka akan mengusir ku?’ ‘ya, tiada seorang pun yang datang padanya seperti yang datang pada mu kecuali dimusuhi, andai aku masih hidup di masa itu, akan ku bantu engkau sekuat ku,”

Dapat pembaca bayangkan, andaikan Siti Khadijah membiarkan Rasulullah kebingungan dengan kondisinya, atau membawa ke orang yang salah bisa jadi sejarah akan berubah. Dengan pengakuan pertama dari sang Istri dan motivasi dari anak paman sang istri, Rasulullah pun mantap menatap masa depannya sebagai seorang utusan, nabi terakhir umat manusia.

–          Harta dan segalanya untuk dakwah Islam

Dalam QS Ad Dhuha 8, Allah SWT berfirman, “Dia menjadikan mu dalam miskin, kemudian Dia yang membuat mu kaya,” begitu Rasulullah SAW memperistri Khadijah, beliau tentu menjadi salah seorang yang terkaya dari bangsa Arab. Dan selepas turunnya wahyu, barulah semua teruji. Harta dan kekayaan Siti Khadijah diperuntukkan bagi dakwah Rasulullah SAW.

Beliau mendermakan segalanya kepada nabi SAW dan meninggalkan kabilahnya. Pada masa embargo bani Hasyim oleh kabilah-kabilah bani Quraiys, yang berlangsung selama 3 tahun beliau memilih untuk ikut serta bersama keluarga suaminya bani Hasyim. Kabilah bani Hasyim dikucilkan dalam berbagai bentuk, tidak boleh bergaul, berniaga hingga menikahi wanitanya. Perjanjian itu digantung di Ka’bah, sebagai bentuk penolakan dakwah nabi SAW

Beliau beserta paman nabi SAW terhitung yang paling berjasa untuk melindungi jalannya dakwah. Terbukti selepas kepergian beliau pada tahun 11 kenabian, kaum kafir Quraisy semakin lancang menentang beliau, cercaan, hinaan hingga lemparan kotoran tidak jarang diterima nabi. Tahun meninggalnya siti Khadijah dan Abu Thalib dikenang dengan sebutan ‘Aamul Huzn, tahun kesedihan.

Baca juga: Taliban Adalah Gerakan Jihadis Ekstrim, Berikut Sejarah Singkatnya!

Demikian sekilas tentang wanita paling mulia di muka bumi, Khadijah bintu Khuwailid, sang istri tercinta nabi Muhammad SAW, yang namanya selalu disebut-sebut, hingga istrinya cemburu. Hendaknya, kita meneladani beliau dalam segala perangainya.

Wallahua’lam bishwowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *