Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Mengapa Kita Perlu Menghormati Ulama?

Mengapa Kita Perlu Menghormati Ulama?

Adalah sebuah nilai universal di kala manusia telah meraih suatu pencapaian maka ia akan mendapatkan sebuah perlakuan tertentu, salah satunya adalah penghormatan. Seorang arsitek misalnya, setelah mengemban pendidikan dan pelatihan yang cukup maka di dunia teknik dia akan mendapatkan sebuah keleluasaan untuk melakukan pekerjaannya; merancang, mengukur, dan membangun sesuai dengan dasar ilmu yang dia kuasai. Dan para pekerja biasa akan mengohormati serta mengikuti arahan dari sang Ahli tentunya. Analogi seperti ini bisa diterapkan dalam menghormati siapapun dengan segala spesialisasi tertentu yang dikuasai termasuk bagaiamana menghormati ulama.

Aspek agama dalam kehidupan seorang muslim adalah sebuah hal prioritas. Ia bukan hanya sebagai doktrin kepercayaan belaka, atau hakim pemutus ini halal atau haram, lebih dari itu agama Islam lebih menjadi the way of life. Dari sini kita mengenal bahwa terdapat orang-orang yang memang mengabdikan diri untuk mendalami agama, mempelajari asal muasal serta bagaimana penerapan yang tepat dalam kehidupan. Mereka adalah para ulama, yang telah menghabiskan hidupnya untuk mempelajari ilmu agama dari sumbernya, mengamalkannya dalam keseharian guna menjadi contoh bagi masyarakatnya, mereka juga diberikan hak spesial dari Allah Swt untuk meluruskan prilaku melenceng dari umat nabi Muhammad Saw.

Beberapa ulasan seputar sikap menghormati ulama

Mari mulai dari yang paling dasar, siapakah ulama itu? secara bahasa kata Ulama, dalam bahasa arab merupakan kata plural dari kata ‘Alim yang secara harfiah diartikan orang yang berilmu. Allah Swt menerangkan dalam QS Fathir ayat 28,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah Swt adalah Ulama dahi hamba-hambanya.” Jika diinterpretasikan secara lepas, ayat ini menyatakan bahwa setiap manusia yang telah memiliki ilmu, baik agama maupun sains sudah selayaknya menjadi orang yang paling takut kepada Allah. 

Perasaan takut kepada Allah Swt ini menurut Ibn Katsir dalam tafsirnya lebih diperjelas  adalah sebuah perasaan yang tumbuh dari kontemplasi mendalam akan Keagungan dan Kemaha Sempurnaan Allah Swt. Dengan begitu ayat di atas seakan berujar semakin besar ilmu seseorang tentang Allah, maka semakin dekat ia kepada Tuhannya, seluruh inderanya akan selalu awas untuk menangkap isyarat Tuhan, ia akan selalu berupaya untuk bertindak-tanduk sesuai dengan yang hanya disukai oleh Tuhannya dan beristighfar apabila mendapati melakukan sebuah kesalahan. 

Kemudian Allah Swt melimpahkan wawasan dan ilmu tentang-Nya melalui lisan para Nabi dan Rasul. Mereka diamanahkan  untuk untuk menyampaikan risalah ketuhanan lengkap dengan interpretasinya melalui perkataan, Allah Swt berfirman dalam QS Al Maidah ayat 67:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada mu dari Tuhan mu. Apabila engkau tidak melakukannya maka kau tidaklah menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah Swt menjagamu dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk bagi orang-orang yang kafir.” Melalui risalah-risalah yang diturunkan inilah manusia bisa diberikan role map, peralatan sekaligus bekal untuk menjalani kehidupan sebagai seorang hamba Allah Swt.

Install Takwa App

Kisah setelahnya adalah terputusnya masa kenabian. Nabi Muhammad Saw ditetapkan sebagai khatamul mursalin, atau penutup kenabian. Beliau telah dibekali dua wahyu sebagai petunjuk bagi umatnya, Al Quran dan Sunnah. Dengan keduanya Rasulullah Saw berjanji tidak akan ada satu pun dari umatnya yang tersesat.

عن مالك أنه بلغه أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال : تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله ، وسنة نبيه – صلى الله عليه وسلم –  

“dari Malik Ra bahwa telah sampai pardanya Rasulullah Saw berkata aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang apabila kalian berpegang kepadanya maka tidak akan tersesat. Kitabullah (Al Quran) dan sunnah nabi-Nya.

Sepeninggal para nabi, khususnya Nabi Muhammad Saw, praktis yang tersisa hanya para pengikut dari kalangan sahabat-sahabatnya. Untuk itu Rasulullah Saw berpesan para nabi dan Rasul tidak lah meninggalkan sesuatu selepas berpulang kecuali ilmu. Maka beliau bersabda: “Al ‘ulama waratsatul anbiya”, seorang ulama adalah pewaris kenabian. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan, keutamaan seorang ulama dibandingkan seorang hamba bagaikan Purnama di antara bintang-bintang di jagat raya.

Baca juga: Mengapa Kita Harus Beradab Sebelum Kita Berilmu?

Ibnu Hajar Ra menjelaskan, sebagaimana diketahui seorang ahli waris akan menempati keutamaan yang dimiliki oleh pewaris. Mereka adalah panutan dalam keilmuan, ibadah dan akhlak. Mereka juga rela mendermakan kehidupan hanya untuk memperdalam ilmu agama dan membuatnya selalu relevan dengan perkembangan zaman. Mereka juga dituntut untuk bersikap dan meneladani sifat dan sikap nabi Muhammad Saw, kedermawanan, kesalihan, kesabaran, kezuhudan dan akhlak mulia lainnya. Atas dasar inilah mereka berhak untuk diberikan sebuah penghormatan langsung dari umatnya.

Maka dari itu Rasulullah Saw berpesan dalam sebuah riwayat, “Jadilah pelayan (khadim) seorang alim, atau belajar lah dari padanya, atau dengarlah dari padanya ilmu, atau cintailah ia, dan janganlah engkau menjadi yang ke lima. Ialah orang yang membenci ilmu dan ulama.” Hadis ini diriwayatkan melalui banyak jalur dan dengan sejumlah teks berbeda. Namun keseluruhannya memiliki kesatuan makna, yaitu agar seorang umat Rasulullah dengan hormat memposisikan diri di hadapan seorang ulama. Umar bin Abdul Aziz Ra, seorang tabiin yang masyhur, turut mengucapkan syukur Alhamdulillah atas periwayatan ini. Karena dengan ini umat Rasulullah akan dapat hidup sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Bagi yang diberkahi waktu dan keluangan untuk mempelajari ilmu agama, maka ia akan menjadi pelayan atau pun pelajar ilmu-ilmu syariah. Dan mereka yang disibukan dengan hal lain bisa sesekali menjadi penyimak dari nasehat-nasehatnya. Golongan lainnya mungkin hanya bisa menjadi pecintanya, yaitu orang yang mengagumi akhlak, takwa dan kapasitas keilmuan yang dimiliki alim tersebut. Lantas Rasulullah Saw melarang bagi umatnya untuk menjadi golongan ke lima yaitu orang yang membenci ilmu dan ulama. Karena dengan membenci mereka, secara tidak langsung mereka telah membenci para nabi dan Rasul.

Kesimpulan dari uraian di atas adalah landasan menghormati ulama Islam jelas hukum dan panutannya. Sebagaimana hukum mencintai dan menghormati nabi, maka menghormati ulama dan mencintai mereka begitupun adanya. Dan Para sahabat telah menjadi contoh terbaik panutan bagaimana mereka memperlakukan Rasulullah Saw. Namun walau bagaimanapun ulama bukanlah para Nabi yang terjaga dari dosa dan kesalahan, akan tetapi hal tersebut tidak sama sekali mengurangi posisi, serta keutamaan ulama dalam sebuah entitas masyarakat. 

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *