Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Membahas Bahaya Komunisme dan Pengaruhnya

Membahas Bahaya Komunisme dan Pengaruhnya

Di antara poin penting dari bahaya komunisme adalah ideologinya dalam menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa Arab hal ini disebut alghayatu tubarrirul wasilah. Maka segala cara meskipun sampai membunuh, mengacaukan dan atau menggulingkan suatu pemerintahan akan dilakukan demi tercapainya tujuan.

Bangsa Indonesia tidak akan pernah melupakan sebuah kejadian besar yang melanda bangsanya di bulan September tahun 1965. Sampai saat ini masih terbayang pilu, haru bercampur murka karena kehilangan 6 Jenderal dan 1 Perwira ABRI diberangus sekaligus, peritiwa itu adalah G 30 S PKI, atau Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia.

Benar sekali, sampai saat ini bangsa Indonesia masih melarang ideologi komunisme melalui TAP MPRS. Namun baik kiranya bagi bangsa Indonesia dan umat muslim secara khusus untuk mengulang kembali lembaran sejarah guna mengambil pelajaran besar dari peristiwa pengkhianatan in, hingga tiada lagi generasi mendatang yang mempertanyakan mengapa ideologi ini dilarang. 

Bahaya komunisme dan pengaruh buruknya untuk bangsa

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat adil dalam menghukumi perkara. Tidak terkecuali pada sebuah hasil pemikiran manusia yang nampak menyelisihi ajarannya. Hal itu terdapat dalam (QS An Nisa, 58):

إنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah pada yang berhak, dan apabila kalian berhukum di antara manusia maka berhukum lah dengan keadilan. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Begitupun dalam melihat komunisme, kita tidak boleh untuk menghukumi tanpa dasar yang jelas. Islam mengajarkan umatnya untuk melihat perkara secara adil dan bijaksana. Nyatanya, peristiwa G 30 S PKI adalah sebuah muara dari berbagai kerancuan ideologi ini. Sebelum peristiwa itu sudah ada percobaan kudeta dari pihak Musso dkk untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno.

Install Takwa App

Ajarannya yang menafikan agama, dan menganggapnya sebagai “candu masyarakat” tambah membuatnya terasing di Indonesia. Indonesia di akhir abad 19 dan awal abad 20 sebagian besar warganya telah memeluk agama. Maka wajar saja jika muncul penolakan dari berbagai kalangan baik Islam maupun Kristen yang menolak Komunisme menjadi ajaran dan dasar dalam bernegara.

Agama tidak menjadi satu-satunya penghalang berkembangnya komunisme di Indonesia. Bagi aparat keamanan dari TNI dan Kepolisian, Komunisme dibenci karena misi mereka yang hendak membangun angkatan ke 5. Yaitu angkatan bersenjata dari kalangan buruh yang diinisiasi oleh PKI guna menanggulangi berbagai gejolak politik yang saat itu terjadi, seperti Papua Barat (Trikora) dan Ganyang Malaysia (Dwikora).

Hal itu tentu tidak disukai oleh kalangan militer khususnya Angkatan Darat, karena khawatir akan terjadinya revolusi sebagaimana yang terjadi di Rusia maupun RRC. Benar sekali, jika boleh kembali dirunut konflik G 30 S PKI lebih tepatnyan konflik antara PKI dan Militer, khususnya Angkatan Darat. Akan tetapi dampak dari konflik ini terlanjur membesar bak bola salju yang bergulir hinggal lapisan masyarakat terendah sekalipun.

Maka murka masyarakat tidak bisa lagi dihindari. Setelah terjadi peristiwa G 30 S PKI kekacauaan terjadi di mana-mana, sangat disayangkan banyak nyawa yang hilang baik dari anggota PKI atau hanya sekedar simpatisan karena pembunuhan masal. Kabarnya jumlahnya hingga jutaan. Hal ini sebetulnya tidak perlu terjadi. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berbuat berlebih-lebihan. Dan mengadili yang bersalah sesuai dengan hukum yang berlaku.

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang telah memerangimu dan jangan lah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al Baqarah: 190)

Baca juga: Meneladani Kesederhanaan dalam Islam dari Rasulullah SAW

Sejarah menyisakan pelajaran, Bangsa Indonesia yang kala itu masih berumur “remaja” yaitu 20 tahun baru belajar bagaimana menanggulangi sebuah krisis. Sekarang bangsa ini seharusnya lebih dewasa, mengutamakan masa depan dan menutup lembaran masa lalu. Lembaran-lembaran kelam boleh sesekali dibuka dengan tujuan mengambil pelajaran, bukan untuk menyulut dendam yang telah lama padam.

Kekhawatiran bangkitnya komunisme patutnya sudah tidak menjadi wacana negara. Karena bangsa Indonesia nyatanya semakin tidak bisa ditipu, yang hitam tetap lah hitam begitupun sebaliknya. Term bahaya Komunisme tetap harus dihidupkan dalam bentuk diskusi, seminar dan ruang ilmiah lain, agar bangsa mengenal dan menjaga masa depannya dari terpaan bagai yang kakek moyangnya pernah lalui.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *