Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Malaikat Raqib, Antara Tugas dan Penamaan

Malaikat Raqib, Antara Tugas dan Penamaan

Beriman kepada Malaikat adalah salah satu pondasi dari kesempurnaan iman seorang hamba Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt sebutkan dalam Al Quran, surat Al Baqarah ayat 285: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Keimanan itu meliputi eksistensi, tugas dan kewajibannya. Salah satu dari makhluk mulia Allah itu adalah Malaikat Raqib.

Allah Swt berfirman dalam Q.S Qaf ayat 18:مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tidak sekali-kali keluar sebuah perkataan dari manusia kecuali baginya ‘Raqib’ dan ‘Atid’. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ahmad Marzuqi Al Maliki, dalam Manzhumah Aqidatul Awwam di antara nama-nama para malaikat 10 yang beliau sebutkan adalah malaikat Raqib yang bertugas untuk mencatat amalan kebaikan dari seorang manusia.

Tugas dan Penamaan Malaikat Raqib

Terdapat banyak perselisihan pendapat antar para ulama terkait penamaan Malaikat Raqib. Sebagian mengatakan bahwa kata “Raqib” lebih utama ditafsirkan sebagai sifat dan bukanlah penamaan. Contohnya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya terkait Q.S Qaf ayat 18, kata “Raqib” mungkin dimaknai dengan ‘pemerhati segala perkara’, ‘penjaga’ dan ‘saksi’.

Sementara itu bagi yang berpandangan bahwa “Raqib” adalah sebuah penamaan sebagaimana yang disebutkan oleh Marzuqi, ia bersifat sebagai wakil Allah Swt yang ditugaskan untuk mencatat amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia. Pandangan ini didukung oleh beberapa ayat Al Quran dan hadis Nabi. Salah satunya adalah satu 17 surat Al Qaf, إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ  “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”

Baca juga: Mengimani Malaikat Atid Sebagai Pencatat Amal Buruk Manusia

Kaidah dalam ilmu tafsir menyebutkan bahwa setiap ayat mesti memiliki ketersinambungan interpretasi. Maka ayat 18 yang menyebutkan kata “Raqib” adalah tafsiran dari ayat 17 yang menyebutkan “malaikat yang duduk berada di sebelah kanan.” Sementara itu Nabi Saw juga turut memberikan penjelasan perkara hal ini sebagaimana yang dicatat oleh Imam Baghawy dalam tafsirnya menyangkut ayat ini:

 قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” كاتب الحسنات على يمين الرجل ، وكاتب السيئات على يسار الرجل ، وكاتب الحسنات أمير على كاتب السيئات ، فإذا عمل حسنة كتبها صاحب اليمين عشرا؛ وإذا عمل سيئة قال صاحب اليمين لصاحب الشمال : دعه سبع ساعات لعله يسبح أو يستغفر ” .

Rasulullah Saw berkata: Penulis amalan baik seseorang berada di sebelah kanan, dan penulis amalan buruk seseorang berada di sebelah kiri. Dan penulis kebaikan adalah pimpinan dari penulis keburukan. Apabila seseorang berbuat kebaikan maka malaikat penulis kebaikan akan menghitungnya sepuluh kebaikan, dan apabila seseorang berbuat kesalahan maka penulis kebaikan di sebelah kanan akan mengatakan kepada penulis keburukan, “biarkan ia hingga 7 jam. Semoga ia mengucap tasbih atau beristighfar.”

Install Takwa App

Melangkah dari keimanan menuju realita

Kewajiban seorang muslim tidak berhenti pada keharusan untuk mempercayai adanya makhluk Allah bernama ‘Malaikat Raqib’ yang berugas untuk menulis catatan kebaikan. Seorang muslim diharapkan untuk menyadari keberadaan Allah Swt yang selalu menyertainya di manapun ia berada. Dengan ini tidak akan ada waktu sia-sia yang terbuang, bahkan untuk sekedar mengerjakan pekerjaan hal tidak penting. Rasul berkata: “Di antara ciri kebaikan islamnya seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak penting untuknya.”

Lebih jauh lagi, keyakinan bahwa selalu ada Malaikat pencatatat kebaikan juga seharusnya memotivasi seorang muslim untuk sungguh-sungguh melaksanakan pekerjaannya. Hal ini didasari dengan kayakinannya kepada Allah Swt bahwa ia ingin selalu dilihat dan diperhatikan oleh Penciptanya yang ia cintai sedang tekun dan totalitas dalam menjalani seluruh aspek kehidupan. Dengan ini nilai keimanan bisa diterjemahkan pada realitas kehidupan yang akan berdampak pada kemajuan peradaban manusia.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *