Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Malaikat Munkar dan Nakir, Apa Saja Pertanyaanya?

Malaikat Munkar dan Nakir, Apa Saja Pertanyaanya?

Di saat umur manusia telah tiba di garis finis, malaikat pencabut nyawa pun hadir sebagai tamu yang telah menanti untuk menunaikan tugasnya. Wajahnya amat hitam dengan kobaran api keluar dari mulut dan lubang telinganya, Kisahnya selengkapnya dapat anda baca di sini. Kemudian sejurus kemudian manusia bagai berada dalam dunia lain, sesak, pengap dan gelap gulita dalam ruangan berukuran 2 x 0.5 meter, bingung apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak lama berselang datanglah Munkar dan Nakir.

Dia kebingungan, baru saja merasakan sakit yang tidak terkira rasanya oleh seorang dengan wajah yang amat menakutkan. Saat sadar ia sudah berada di dalam kubur. Sempat beberapa saat ia mendengar hentakan kaki dari orang-orang yang tadi menangis di kuburnya. Istri, anak dan sanak familinya satu persatu pergi meninggalkannya. Dia yang merasa kesepian pun meratap sambil memanggil mereka. Dia enggan ditinggal di tempat itu sendiri.

Tidak lama datang dua orang lainnya, matanya memincing bagai kunigan, kuku-kunya meruncing bagai tanduk sapi, suaranya menggemuruh bagai petir. Lantas keduanya bertanya, tentang sesuatu yang terkadang orang-orang bicarakan. Siapa tuhan, siapa nabi, apa amalan dan lainnya. Dia terdiam, memang sempat suatu saat ia mendengar jawaban dari pertanyaan tersebut. Tapi apalah jawaban tersebut, dia nampak tak yakin.

Kemudian pertanyaan lebih spesifik ditanyakan, siapakah Muhammad? Dia lantas berkata, “aku tidak mengetahui kecuali apa yang telah diceritakan oleh orang-orang.” Maka dikatakanlah kepadanya, “kamu tidak mengetahui dan tidak pula mengikutinya.” Lantas dengan wajah merah padam sebuah pukulan kuat dengan sekuat tenaga pun menimpanya, rintihan aduh lantas terdengar dari seantero dunia, langit dan bumi.

Meingimani Malaikat Munkar dan Nakir

Kisah di atas adalah gambaran yang tentunya tidak akan dapat mewakili kejadian serupa. Sebagian kisahnya penulis sadur dari hadis-hadis Rasulullah Saw. Penulis sendiri menilai imajinasi se-”buas” apapun tidak mungkin mampu menggambarkan setiap kejadin mulai dari sakaratul maut, datangnya malaikat Munkar dan Nakir hingga nanti hari pembangkitan, sebuah hari pembayaran di mana setiap manusia akan menuai hasil jerih payahnya di dunia.  

Kedua malaikat yang disebut di atas bernama Munkar dan Nakir, sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani di kitabnya Al Awsath bahwa dua malaikat yang akan mendatangi manusia di kubur bernama Munkar dan Nakir. Para ulama menjelaskan kata kedua nama tersebut asal katanya dari Nakarah atau pengingkaran, karena manusia kerap mengingkari pertanyaan-pertanyaan yang akan dikemukakan oleh keduanya.

Murad Abdillah Al Jinany dalam kitabnya, Sa’datul Anam Bisyarhi Aqidatul ‘Awam menjelaskan tugas keduanya adalah mempertanyakan manusia di alam kuburnya tentang ketauhidan, keagamaan dan kenabian. Apabila ia mendatangi seorang yang beriman, mereka akan datang dengan perwujudan yang indah, sebaliknya jika mendapati orang yang tidak beriman maka sebagaimana yang dijelaskan di awal sosok yang akan mendatangi mereka amatlah menakutkan.

Baca juga: Malaikat Israfil Siap Meniup Sangkakala, Bisakah Manusia Lalai?

Untuk memperdalam makna pertanyaan Munkar dan Nakir penulis menyadur sebuah hadis dari Al Baihaqi yang meriwayatkan dalam kitab ‘Adzabul Qubr dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Rasulullah Saw berkata, “bagaimana keadaanmu wahai Umar, jika telah habis masa di dunia mu. Maka digali untuk mu tiga Dzira’ dan satu Syibr) kali dua dzira’ dan syibr (sekitar 170 x 100 cm)? Kemudian datang kepada mu Munkar dan Nakir, mereka datang dengan sosok hitam, sambil menarik rambut mereka, suara mereka menggelegar bak guntur, mata mereka seperti kilatan, mereka menggali bumi dengan kuku-kuku.”

“Lantas keduanya mendudukan mu, engkau pun terkejut dan meringkuk setelahnya.” Ia (umar) berkata, “Wahai Rasululah dan bagaimana aku saat itu?” Rasulullah Saw berkata: “Ya” beliau tidak menjelaskan, Umar berkata, “Wahai Rasulullah, Aku cukupkan engkau atas mereka berdua (Munkar dan Nakir).” Seperti itulah, banyak hadis serupa yang mengisahkan tentang bagaimana bingungnya umat manusia dalam situasi seperti ini, tidak terkecuali Umar bin Khattab Ra, salah seorang sahabat terdekat Rasulullah Saw.

Umar Al Farouq Ra, bahkan tidak sanggup membayangkan kondisi tersebut, lantas ia menyerahkan nasibnya kepada Rasulullah agar beliau sendiri yang mengatasinya. Hal tersebut menandakan betapa besar peristiwa yang akan masing-masing dari umat manusia hadapi itu. Maka perbanyaklah amalan saleh dan iringilah dengan istighfar permohonan ampun atas segala kesalahan yang telah dan akan dilakukan. Semoga kita bersama dapat selamat dari azab kubur.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *