Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Lingkungan Adalah Hal Paling Berharga, Maka Jagalah!

Lingkungan Adalah Hal Paling Berharga, Maka Jagalah!

Keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, harta adalah 5 pokok tujuan dari syariat Islam (Adharuuriyyat al Khamsah) yang disepakati secara konsensus oleh para ulama. Jika ada poin ke enam dari lima hal pokok untuk dijaga dan diutamakan dalam syariat Islam maka penulis meyakini itu adalah lingkungan. Bagaimana tidak lingkungan adalah suatu hal yang paling erat berkaitan dengan lima hal di atas.

Menurut Abdul Lathif As Shaidy, lingkungan dalam sudut pandang Islam adalah segala hal yang meliputi manusia, dan segala hal yang mempengaruhinya. Ia juga mempengaruhi jiwa dan membersihkannya dari pengaruh buruk dan menyucikannya. Hal itu karena Islam tidak hanya melihat dari sisi materi akan tetapi juga menyentuh hal immateril dan membersihkannya dari keburukan.

Perintah untuk menjaga lingkungan adalah hal utama dalam Islam dan tercantum dalam banyak teks agama. Salah satunya adalah QS Al A’rof, 56:

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Dari itu para ilmuwan menggolongkan kesehatan lingkungan dalam lima hal: air, udara, pangan, pandangan dan suara. Dan keseluruhan dari lima hal di atas disinggung oleh Islam dan dihimbau agar umatnya menjaganya dari kerusakan. Karena kerusakan salah satu dari lima perkara di atas akan menimbulkan bencana bagi umat manusia.

Dalil bahwa lingkungan adalah hal esensial dalam Islam

–          Air

Install Takwa App

Air adalah sumber kehidupan bagi umat manusia. Karena amat kepentingannya para ilmuwan tengah mencari peluang planet berpenghuni dan salah satu syarat wajibnya adala air. Sebagaimana diketahui tubuh manusia sendiri terdiri dari 70% lebih air dalam tubuhnya, dan membutuhkan asupan air yang mencukupi setiap harinya. Dari itu kesehatan air dan keterjagaannya dari polusi dan kotoran adalah sebuah prioritas dalam Islam.

أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al Anbiya, 30)

Ayat di atas menegaskan bahwa sumber segala kehidupan di atas bumi ini adalah air. Maka jika kita membalikan pemahaman ayat tersebut maka, tanpa air yang baik tidak akan ada kehidupan. Dari itu Islam menegaskan bahwa menjaga kejernihan air dengan tidak mengotori, mencemari dan membuang sampah atau membuang kotoran di sana adalah hal yang wajib.

–          Udara (Oksigen)

Pencemaran udara saat ini menjadi permasalahan utama dunia. Karena pencemarannya dapat dengan mudah menyebar. Pencemaran udara dapat terjadi jika udara yang dihirup oleh manusia mengandung berbagai unsur yang akan mempengaruhi kesehatan makhluk hidup. Dari itu Islam menghimbau umat manusia agar menjaga udara dengan tidak melakukan pencemaran di dalamnya.

وَمَن يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“dan barang siapa yang mengganti nikmat Allah Setelah datang ke padanya, maka sesungguhnya Allah amatlah kejam hukumannya.” (QS Al Baqarah 211)

Udara yang bersih adalah sebuah nikmat yang telah ada sebelum umat manusia membuat kerusakan di muka bumi dengan cara pembakaran hutan, polusi pabrik, konsumsi BBM berlebih. Dari itu Allah SWT mengancam kepada hambanya akan memberikan hukuman pedih bagi yang melakukan kerusakan tersebut.

Dan untuk menjaga ketersediaan oksigen Islam melarang merubuhkan pohon dalam peperangan, kecuali untuk kebutuhan yang terbatas. Bahkan Islam menghimbau untuk menanam pohon melalui hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad RA yang artinya: “Jika datang hari kiamat, dan dalam genggaman mu terdapat benih, maka hendaklah ia menanamnya, dan ganjarannya bagi Allah amat lah besar.”

–          Pangan

Polusi makanan dapat diartikan dengan pencemaran lingkungan akibat sampah pangan. Dalam sebuah data disebutkan bahwa Indonesia memproduksi 23-48 juta ton sampah makanan pertahunnya. Dengan ini Indonesia menjadi produsen sampah makanan nomor dua di dunia.

Islam tentu melarang praktek ini. Selain menghimbau agar makan secukupnya, Islam melarang untuk membuang-buang makanan karena hal itu dianggap perilaku mubazir.

 إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا

Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

–          Pandangan

Mari kita sama-sama simak beberapa ayat dari QS Al Mulk ini:

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,

 

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

 

ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٍ ۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

 

ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.

Untaian ayat 1-4 dari surat Al Mulk ini seakan memberikan secercah cahaya bahwa betapa sempurnanya ciptaan Allah SWT dengan segala keteraturannya. Manusia diperintahkan untuk melihat secara detail ciptaannya bahwa di dalamnya tidak terdapat cacat atau alfa sedikit pun.

Dari itu, umat manusia sebagai khalifah di atas muka bumi ini dihimbau untuk mengatur bumi ini sebijak mungkin, serapih dan seindah mungkin. Karena lingkungan yang di pandangan buruk, secara tidak langsung akan membawa kesan negatif dalam jiwa seseorang. Dan lambat laun akan berbekas bahwa lingkungan yang kotor adalah hal wajar, padahal Islam jelas tidak menghendakinya.

Baca juga: Meneladani Rasul di Era Globalisasi

–          Suara

Polusi suara adalah jenis polusi yang paling sedikit diperhatikan oleh umat manusia. Padahal manusia sendiri memiliki batasan suara yang dapat diterimanya, dan untuk istirahat yang cukup manusia juga membutuhkan situasi lingkungan yang tenang dengan suara di bawah 35 desibel.

Ketidak pedulian manusia pada lingkungan suara menyebabkan suara-suara yang melebihi batasan terdengar di mana-mana. Suara musik pesta, suara klakson mobil, serta suara knalpot kendaran dan jenis suara lainnya yang tentunya di luar ambang batas kewajaran terdengar dapat dengan mudah terdengar. Padahal Islam jelas melarangnya, dan menyatakan bahwa suara-suara yang berlebih itu akan dapat menghilangkan kebaikan dan amalannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian angkat suara kaliang di atas suara nabi, dan jangan lah kalian angkat suara di hadapannya seperti kalian lakukan di antara kalian sehingga amalan kalian akan luruh dan kalian tidak merasakannya. (QS Al Hujurat, 2).

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *