Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Landasan Dilipatgandakannya Pahala di Bulan Ramadhan

Landasan Dilipatgandakannya Pahala di Bulan Ramadhan

Sudah menjadi fitrah seorang manusia yang gemar untuk mendapatkan hal yang besar dari usaha yang kecil. Dalam satu kondisi hal ini bisa berdampak negatif, seperti seorang pelajar yang berangan besar akan ilmu yang melimpah tanpa ada usaha yang maksimal. Akan tetapi di lain sisi pelipatgandaan ganjaran pahala memang menjadi sebuah hal yang ada dan wajar dalam syariat Islam. Ini adalah bentuk kasih sayang dari Allah SWT sekaligus ujian syukur pada setiap hamba-Nya. Di antara momen pelipatgandaan ganjaran amalan ada pada bulan Ramadhan.

Sebelum lebih jauh membahas tema dilipatgandakan pahala pada bulan Ramadhan penulis ingin menjabarkan bahwa Islam mengenal dua konsep pelipatgandaan amalan. Syeikh Yusri Gabr salah seorang ulama dari Al Azhar Asy Syarif mengatakan bahwa kemuliaan pelipatgandaan amalan tergantung pada kemuliaan tempat dan waktu. Untuk tempat, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa shalat di tiga masjid utama umat Islam, Masjidil Haram di kota Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al Aqsha di Al Quds Timur lebih besar pahalanya dari pada shalat di masjid lainnya.

Sementara waktu, bulan Ramadhan adalah salah satu dari banyak momen “bonus” yang Allah SWT berikan ke pada umat muslim agar memperbanyak amalan di dalamnya. Apa landasan dari pelipatgandaan ganjaran amalan ini dalam sudut pandang Islam? Dan apa hikmah dari pelipatgandaan pahala ini? Serta bagaimana seorang muslim hendaknya berbuat di masa yang penuh berkah ini? Berikut penjelasannya.

Dasar pelipatganndaan pahala pada bulan Ramadhan

Terdapat banyak sekali teks keagamaan yang menyatakan keistimewaan amalan dalam bulan ini dan dalil dilipatgandakannya pahala pada bulan ini. Salah satunya adalah QS Al Qadr:3,  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  malam Al Qad ini lebih baik dari seribu bulan”  Imam Ath Thabari mengutip perkataan Mujahid, bahwa ganjaran amalan, qiyam, puasa di dalamnya lebih baik dari ganjaran amalan selama seribu bulan. Keistimewaan malam lailatul qadr ini tidak menafikan bahwa malam-malam dan seluruh masa di bulan Ramadhan diberkahi dan dilipatgandakan di dalamnya seluruh pahala.

Selain itu dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah juga disebutkan:
 يا أيُّها النَّاسُ قد أظلَّكم شهرٌ عظيمٌ ، شهرٌ فيهِ لَيلةٌ خَيرٌ من ألفِ شهرٍ ، جعلَ اللَّهُ صيامَهُ فريضةً ، وقيامَ لَيلِهِ تطَوُّعًا ، ومَن تقرَّبَ فيهِ بخَصلةٍ منَ الخيرِكانَ كمَن أدَّى فريضةً فيما سِواهُ ، ومَن أدَّى فريضةً كانَ كمَن أدَّى سبعينَ فريضةً فيما سِواهُ ، وَهوَ شهرُ الصَّبرِ ، والصَّبرُ ثَوابُهُ الجنَّةُ ، وشهرُ المواساةِ ، وشهرٌ يُزادُ فيهِ رزقُ المؤمنِ.
“Wahai manusia kalian telah dinaungi oleh sebuah bulan yang agung, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah telah menjadikan puasa di dalamnya sebagai hal wajib, dan shalat malam di dalamnya sunnah, dan barangsiapa mendekatkan diri -pada Tuhannya- dengan sedikit kebaikan maka layaknya ia melaksanakan sebuah ibadah wajib di luar bulan itu, dan barangsiapa melaksanakan ibadah yang fardhu maka seperti ia melaksanakan kebaikan 70 kali lipat di hari selain bula itu, Ia adalah bulan kesabaran, dan sabar balasannya adalah surga, dan bulan saling menasehati, dan bulan ditambahkan di dalamnya rizki seorang mumin.”

Baca juga: Bagaimana Konsep Nuzulul Quran di Bulan Ramadhan?

Hadis ini menjadi landasan amalan mulia bagi seorang muslim khususnya di masa bulan Ramadhan. Maka dari itu amatlah merugi bagi seorang muslim yang tidak menggunakan kesempatan besar ini untuk melaksanakan kebaikan seperti sedekah, menolong orang, dan berzikir atau menambah shalat-shalat sunnah. Sebagaimana Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW adalah pribadi yang dermawan di setiap waktu, dan di masa bulan Ramadhan beliau lebih dermawan lagi.
Dari satu sisi hal ini mengindikasikan bahwa Ramadhan adalah sebuah momen bagi seorang hamba untuk berlomba-lomba menunaikan kebaikan. Baik kebaikan wajib seperti shalat dan zakat, ataupun yang bersifat sunnah seperti sedekah dan shalat sunnah.
Wallahua’lam bishowab

_

 

Install Takwa App

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *