Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Kisah Nabi Nuh As dan Anaknya Yang Durhaka Yaitu Kan’an

Kisah Nabi Nuh As dan Anaknya Yang Durhaka Yaitu Kan’an

Ibnu abbas menyatakan dalam kisah Nabi Nuh As bahwa jarak antara Nabi Ada As dan Nabi Nuh As adalah sepuluh abad lamanya. Pada saat itu semua umat patuh kepada Allah SWT. Dan mereka mulai menyembah kepada berhala pertama kali yaitu pada masa Nabi Nuh As. Nama-nama berhala yang terkenal pada zaman itu adalah Wad, Suwa, Yaqudz, Yaudz dan Nars. Nabi Nuh As hidup bersama masyarakat yang dulu pernah mendapat tuntunan dari Nabi Idris As. Namun sepeninggal Nabi Idris As, umat manusia mulai kehilangan tujuan hidup mereka serta mulai tidak memiliki keyakinan. Sehingga diutuslah Nabi Nuh As untuk menyadarkan mereka kembali.

 

Kedurhakaan Anak Nabi Nuh As

Dalam kisah Nabi Nuh As, beliau memiliki anak yang bernama Kan’an. Ia merupakan putra tertua Nabi Nuh As yang durhaka, mangapa demikian?. Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Nuh As untuk membuat kapal meskipun pada saat itu sedang kering dan tak ada hujan apalagi banjir. Namun karena ketaatan beliau kepada Allah SWT ia pun bergegas mengumpulkan kayu dan peralatan peralatan lainnya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Disamping itu banyak orang yang mencibir, mencaci, dan menganggap bodoh Nabi Nuh As atas apa yang ia kerjakan bahkan anaknya sendiri merasa malu karena perbuatan ayahnya itu. Adik-adik Kan’an bernama Yafith, Sam, dan Ham.

 

Nabi Nuh berasal dari Armenia, merupakan bagian dari Rasul Ulul Azmi. Sebagai Nabi dan rasul Nabi Nuh As diutus untuk menyadarkan kaum kaum pada zamannya yang menyembah berhala dan mendustakan Allah SWT. Dijelaskan dalam Al Qur’an Nabi Nuh As telah berdakwah selama 950 tahun lamanya, namun banyak dari mereka yang memilih untuk menutup telinga dan tidak mengikuti ajaran Nabi Nuh As, hingga pada akhirnya Nabi Nuh As memohon kepada Allah SWT untuk melimpahkan adzab kepada mereka. Dan Allah SWT memintanya untuk membuat kapal besar, Nabi Nuh As pun membuat kapal besar tersebut selama 40 tahun. Yang justru membuat nya semakin dianggap gila dan tidak dipercaya oleh kaum pada zamannya bahkan oleh istrinya dan anak tertuanya.

 

Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Nuh As, Ia mendatangkankan banjir bandang yang menenggelamkan kaum kafir pada saat itu seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya :

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Artinya : “Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”  (QS. HUD : 40)

Dan beberapa penjelasan lainnya yang termuat dalam QS. Hud ayat 40-47.

Baca Juga: Kisah Uwais Al Qorni, Dikenal di Langit Tak Dikenal di Bumi 

Nabi Nuh As dan kaumnya yang beriman selamat dari adzab tersebut dengan menaiki kapal yang dibuat olehnya, namun tidak dengan istri dan putranya Kan’an yang telah dibujuk oleh Nabi Nuh As namun tetap saja berkhianat.

وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوْحُ ابْنَهُ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ اْلكَافِرِيْنَ

Artinya: “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. (QS. HUD : 42)

Pelajaran dari kisah Nabi Nuh As

 

Dari pernyataan yang telah dijelaskan diatas dapat kita peroleh hikmah apa saja yang dapat diteladani dari kisah Nabi Nuh As, antara lain:

  1. Pentingnya pengawasan orang tua dalam hal keyakinan yang dimiliki oleh anak.
  2. Menjauhi sifat sombong dan angkuh seperti apa yang dimiliki oleh Kan’an
  3. Memahami dan mencontoh kesabaran yang dimiliki oleh Nabi Nuh As
  4. Mentaati orang tua selama apa yang ia serukan baik dan tidak menyimpang dari ajaran Allah SWT
  5. Menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya

Demikianlah sekilas tentang kisah Nabi Nuh As, semoga bermanfaat dan dapat menambah khazanah ilmu kita dan dapat meningkatkan keimanan kita. Aamiin

_

Penulis:
Yanuar Huda Assa’banna,
Alumni Fakultas Syari’ah di UNIDA GONTOR

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *