Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Kisah Nabi Hud As dan Kaum Ad yang Durhaka atas Nikmat Allah

Kisah Nabi Hud As dan Kaum Ad yang Durhaka atas Nikmat Allah

Kisah Nabi Hud As dan Kaum Ad disebut beberapa kali dalam al-qur’an. Surat Al-A’raf ayat 69 menyebutkan bahwa kaum Ad dikenal mempuyai tubuh besar dan fisik yang kuat melebihi manusia pada umumnya. Surat As-Syuara’ ayat 130 menjelaskan bahwa mereka adalah manusia yang kokoh dan memeiliki tenaga yang luar biasa. Sebelum mereka ada, Allah SWT belum pernah menciptakan suku yang hebat dengan banyak kelebihan seperti ini. Walaupun hidup di wilayah berpasir, tetapi kaum Ad mampu mengolah tanah negeri mereka menjadi sebuah negeri yang subur dan makmur.

Bermacam-macam pohon tumbuh dan berbuah ranum. Kebun-kebun jagung serta lading-ladang gandum terhampar luas. Negeri kaum Ad disebut juga negeri Al-Ahqaf atau negeri bukit-bukit pasir. Yaitu meliputi daerah padang pasir Rubkholi, Aman, sampai ke Hadramaut di Yaman. Allah SWT telah memberikan berbagai macam kenikmatan terhadap kaum Ad, mereka mereka menjadi suku terbesar diantara suku-suku lainnya. Namun mereka enggan bersyukur dan melupakan Allah SWT.

Dakwah Nabi Hud AS Terhadap Kaum Ad Untuk Menyembah Allah SWT

Kemudian Allah SWT mengutus nabi Hud AS untuk berdakwah terhadap kaum Ad agar mau kembali kepada ajaran tauhid atau menyembah kepada Allah SWT. Nabi Hud As memiliki garis keturunan dari Nabi Nuh As.  Ia termasuk keluarga yang dihormati. Kedudukannya yang istimewa ini dimanfaatkan oleh Nabi Hud As untuk menyeru kaum Ad meninggalkan berhala dan hanya menyembah Allah SWt.

Tahun 2400 sebelum masehi, Nabi Hud As diutus oleh Allah SWT sebagai Nabi. Dikisahkan dalam kisah nabi Hud As bahwa pada saat itu kaum Ad telah membuat patung berhala yang namanya Syada, Syamut dan Haba. Patung-patung ini mereka sembah karena mereka percaya bahwa patung-patung itu dapat menolong dan mendatangkan rizki. Kaum Ad merupakan umat manusia yang pertama menyembah berhala setelah oeristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh As.

Hal ini terjadi karena mereka terlena dengan kesenangan-kesenangan hidup yang melalaikan. Mereka suka menindas orang yang lemah, bersenda gurau secara berlebihan dan bermaksiat. Kaum Ad sehari-hari tinggal di tenda. Dalam surat Al-Fajr ayat 7 mereka disebut sebagai bangsa Iram yang terkenal dengan tiang-tiang tendanya. Namun mereka juga gemar membangun istina dan benteng dari tanah yang tinggi. Sesekali mereka tinggal di istana dan benteng-benteng yang mereka telah bangun itu.

Surat As-Syuara’ ayat 129 menjelaskan bahwa kaum Ad memiliki peradaban yang maju, membangun istana yang megah dan mewah, berlapis batu-batu mulia serta dikelilingi pagar-pagar yang menjulang tinggi. Mereka membangun itu semua untuk berlindung apabila ada bencana sehingga mereka dapa hidup kekal di dunia ini.

Baca Juga: Kisah Nabi Nuh As dan Anaknya Yang Durhaka Yaitu Kan’an

Install Takwa App

 

Pada saat nabi Hud As mengajak kembali terhadap ajaran Allah SWT, kaum Ad terutama tokoh masyarakatnya menolak dakwah nabi Hud As dan menganggap Nabi Hud As telah menjadi gila, bodoh, dan bohong serta telah menjadi sesat karena tidak mengikuti ajaran para pendahulunya yaiu Kaum Ad. Selain menertawakan dan memfitnah, mereka juga menantang nabi Hud As untuk segera mendatangkan azab dari Allah SWT kepada mereka.

Kesombongan telah merasuk terhadap diri kaum Ad, mereka telah menjadi durhaka. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Mukmin ayat 60 yang artinya sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke nerka Jahannam dalam keadaan hina. Rasulullah SAW juga mengingatkan dengan sabdanya yang berbunyi tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan, meski hanya seberat dzarroh. HR. Muslim

Azab Kaum Ad yang durhaka atas nikmat Allah SWT

Dalam Kisah Nabi Hud As, beliau merupakan orang yang pantang menyerah. Banyak orang yang meninggalkannya dan hanya sedikit sekali yang mau mengikuti serta mendengarkan seruannya. Perjuangan nabi Hud As sampai kepada titik akhir.

Nabi Hud As berdoa kepada Allah SWT untuk segera membuktikan kekuasaan-Nya. Allah SWT mendengar permohonan nabi Hud As ini dan akan menurunkan azab terhadap kaum Ad. Allah memberi kemarau panjang sehingga sumber air kering dan tumbuhan banyak yang mati dan ini berlangsung selama 3 tahun lamanya.  Negeri yang subur mendadak menjadi gersang. Allah SWT tidak menurunkan hujan agar kaum Ad menyadari bahwa hanya Allah lah yang patut disembah.

Berhala tidak bisa menolong maupun mendatangkan dan kenikmatan kenikmatan terhadap kaum Ad. Hanya dengan tidak menurunkan hujan saja Allah SWT telah menjadikan kehidupan kaum Ad yang semula hebat menjadi porak-poranda. Kondisi wilayah yang telah kering keronta memaksa kaum Ad melakukan tradisi lama yaitu berdoa memohon hujan. Tradisi ini selalu dilakukan di tanah haram Mekkah.

Para pemimpin kaum mengutus salah satu dari mereka yang bernama Hil untuk berdoa di Mekkah. Diperjalanan hil singgah selama 1 bulan untuk meminum khamer atau minuman yang memabukkan di rumah Muawiyah bin Bahr. Disana ia juga berbuat kemaksiatan dan dosa. Setelah itu baru ia melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Di Mekkah hil naik di bukit Tihamah dan berdoa meminta agar diturunkan hujan kepada kaum Ad. Doa tersebut tidak terkabulkan, apalagi Hil telah melakukan perbuatan dosa sebelum memanjatkan doa.

Usaha kaum Ad mengutus Hil untuk berdoa ini sia-sia belaka. Kemarau panjang masih terus berlanjut bahkan makin parah. Kaum Ad belum juga bertaubat dan mendengarkan ajaran nabi Hud As. Kaum Ad lebih senang berdoa terhadap berhala-berhala. Upacara persembahan besar-besaran kepada dewa Syamut dan dewa Al-Hattar diadakan dengan harapan para berhala dapat menurunkan hujan.

Tidak lama dari kejauhan terlihat rombongan awan mendung yang datang ke arah kaum Ad. Mereka bersorak sorai menyambutnya. Hujan sebentar lagi turun piker mereka. Dalam surat Al-Ahqaf ayat 24 disebutkan setelah tiga tahun tidak turun hujan, tiba-tiba datanglah awan yang sangat pekat. Kaum Ad mengira bahwa akan yang pekat tersebut akan menurunkan hujan yang sangat deras. Dugaan mereka ternyata salah, awan itu ternyata berisi angina dingin yang mengazab mereka.

Semua tunggang langgang untuk menyelamatkan diri, angin dingin yang terus mengguncang mereka semacam tornado berhembus selama 8 hari 7 malam. Menghancurkan tubuh-tubuh mereka yang sebelumnya dikenal kuat dan kokoh. Semua hancur lebur kecuali bangunan-bangunan mereka. Angina menerbagkan kaum Ad ke udara kemudian menjatuhkannya ke tanah.

Dalam surat Al-Haqqoh ayat 7 mereka digambarkan seperti pohon-pohon kurma yang telah lapuk. Dalam al-qur’an surat Adzariyat ayat 41 sifat angina yang diturunkan kepada kaum Ad adalah Aqim atau yang membinasakan. Sementara itu Allah SWT menyelamatkan Nabi Hud As beserta kaumnya yang sedikit menyaksikan bencana yang sedang terjadi karena mereka berdoa memohon ampun kepada Allah SWT.

Ibnu katsir meriwayatkan dalam kisah Nabi Hud As bahwa mereka berdiam di tempat yang kecil. Mereka tidak mersakan dinginnya angina, justru Allah memberikan kenyamanan di tempat tersebut. Begitulah Allah SWT menyalamatkan orang-orang yang beriman dari azab yang mematikan.

Setelah angin mereda, Nabi Hud As serta para pengikutnya keluar melihat kondisi negeri kaum Ad yang telah hancur karena azab yang mereka minta sendiri. Selanjutnya nabi Hud As beserta para pengikutnya meninggalkan puing-puing negeri Al-Ahqaf dan hijrah menuju negeri Hadramaut. Mereka membangun kehidupan yang bahagia dan tidak lupa untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Satu hal yang harus diingat dalam kisah Nabi Hud As yaitu beliau merupakan sosok yang gemar menyampaikan nikmat Allah SWT kepada orang lain. Sekecil apapun nikmat itu akan disampaikan, supaya orang lain terdorong untuk melakukan kebaikan yang sama. Dalam surat Ad-Dhuha ayat 11 nabi Muhammad SAW mendapat perintah dari Allah SWT untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Hud As yang berbunyi Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu siarkan atau sebutkan. Yang terakhir bersyukur adalah kunci utama keberkahan atas nikmat-nikmat yang kita rasakan. Allah akan menambahkan nikmat bagi hambanya yang senantiasa bersyukur. Orang yang bersyukur akan merasa bahagia dan peduli terhadap sesamanya.

Demikian kisah Nabi Hud As, atas izin Allah SWT akhirnya Nabi Hud As menetap di Hadramaut hingga wafatnya dan dimakamkan disana. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran atas kisah Nabi Hud As dan Kaum Ad yang kufur atas nikmat Allah dan senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur. Aamiin

_

Penulis:
Yanuar Huda Assa’banna,
Alumni Fakultas Syari’ah di UNIDA GONTOR

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *