Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Keutamaan Dzikir yang Harus Diketahui seorang Muslim

Keutamaan Dzikir yang Harus Diketahui seorang Muslim

Dzikir adalah salah satu jenis ibadah dalam bentuk mengingat Allah SWT, landasannya  berasal dari tuntunan Al Quran dan Sunnah. Sebagaimana yang tertera dalam QS Al Ahzab: 12, yang artinya “wahai orang-orang yang beriman berzikirlah sebanyak-banyaknya.” Keutamaan dzikir juga disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam Shahih Muslim:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ المَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عليهمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَن عِنْدَهُ.

“Tiada suatu kaum (kelompok) yang duduk kemudian berzikir mengingat Allah kecuali pada malaikat akan dikelilingi oleh malaikat, diselimuti oleh rahmat dan diturunkan kepada mereka ketenagan, dan Allah akan menyebut mereka bersama orang-orang yang dekat dengannya.”

Keutamaan Dzikir bagi seorang muslim

Sesuai tabiatnya, manusia apabila menyukai sesuatu ataupun menggemarinya maka sudah sewajarnya ia sering menyebutnya, menyatakan kebaikannya, memuji tingkah lakunya dan melakukan berbagai perlakukan baik lainnya. Mari kita coba lihat seorang penggemar klub sepakbola misalkan, mereka pasti rela untuk bangun tengah malam demi untuk melihat tim kesayangannya bertanding.

Bahkan tidak jarang hingga menghabiskan banyak harta benda hanya untuk menyaksikan langsung pertandingannya. Apabila ada yang menjelekkan timnya, maka ia selalu berada di barisan terdepan untuk membela. Penulis meyakini kondisi terbilang banyak terjadi di banyak hal lain yang digemari oleh umat manusia.

Maka dari itu, sebagai seorang muslim bukan kah seharusnya ia berada di garis terdepan untuk berdzikir kepada-Nya? bukan kah Dia yang telah menjadikannya “ada” sebelum “tiada”, bukan kah Dia pula yang memberikannya rizki, akal dan kesehatan untuk menjalani hidup ini? maka mengapa perlu untuk mempertanyakan apa keutamaan berdzikir?

Ternyata untuk hal sejelas ini saja Allah SWT turut menjelaskan kepada manusia, bahwa dzikir yang diucap tidak akan kembali pada Allah SWT, dalam QS Ar Ra’d 28 Allah SWT menjelaskan:

Install Takwa App

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Ayat di atas menjelaskan sesungguhnya faedah dari dzikir akan kembali pada hamba-Nya dalam bentuk ketenangan. Bukan hanya itu saja Rasulullah dalam sebuah hadis yang panjang menjelaskan secara mendetail apa manfaat yang akan kembali bagi seorang yang gemar berdzikir. Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah RA meriwayatkan:

إنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً، فُضُلًا يَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فيه ذِكْرٌ قَعَدُوا معهُمْ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بأَجْنِحَتِهِمْ، حتَّى يَمْلَؤُوا ما بيْنَهُمْ وبيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إلى السَّمَاءِ، قالَ: فَيَسْأَلُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَهو أَعْلَمُ بهِمْ: مِن أَيْنَ جِئْتُمْ؟ فيَقولونَ: جِئْنَا مِن عِندِ عِبَادٍ لكَ في الأرْضِ، يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ، قالَ: وَمَاذَا يَسْأَلُونِي؟ قالوا: يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ، قالَ: وَهلْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قالوا: لَا، أَيْ رَبِّ قالَ: فَكيفَ لو رَأَوْا جَنَّتِي؟ قالوا: وَيَسْتَجِيرُونَكَ، قالَ: وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي؟ قالوا: مِن نَارِكَ يا رَبِّ، قالَ: وَهلْ رَأَوْا نَارِي؟ قالوا: لَا، قالَ: فَكيفَ لو رَأَوْا نَارِي؟ قالوا: وَيَسْتَغْفِرُونَكَ، قالَ: فيَقولُ: قدْ غَفَرْتُ لهمْ فأعْطَيْتُهُمْ ما سَأَلُوا، وَأَجَرْتُهُمْ ممَّا اسْتَجَارُوا، قالَ: فيَقولونَ: رَبِّ فيهم فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ، إنَّما مَرَّ فَجَلَسَ معهُمْ، قالَ: فيَقولُ: وَلَهُ غَفَرْتُ هُمُ القَوْمُ لا يَشْقَى بهِمْ جَلِيسُهُمْ.

“sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang tidak memiliki kesibukan, kecuali untuk mengikuti majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majlis ada dzikir di dalamnya, maka mereka (malaikat) duduk bersama mereka. Mereka (malaikat) menjulurkan sayap-sayap hingga menutupi apa yang ada di antara langit dan bumi. Dan apabila mereka bubar, mereka naik ke langit, Allah menanyai mereka, dan Dia lebih mengetahui tentangnya, ‘dari mana kalian?’ mereka berkata, ‘dari hamba-hamba Mu di bumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid serta mengharap pada-Mu.

 ‘Apa yang mereka pinta?’ ‘mereka meminta surga Mu’, ‘apa mereka telah melihat surga Ku?’ ‘tidak Ya Allah’ ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya,’ ‘dan mereka meminta perlindungan pada Mu’  ‘mereka meminta perlindungan dari ku?’ ‘dari neraka-Mu wahai Allah.’ ‘apakah mereka telah melihat neraka Ku?’ tidak’ ‘bagaimana kalau mereka melihat neraka Ku’ ‘mereka akan meminta ampun pada Mu’ ‘aku telah mengampuni mereka, dan ku berikan pada mereka apa yang mereka pinta, aku lindungi mereka sesuai permintaan mereka, ‘Tuhan, di antara mereka ada hamba-Mu yang berbuat dosa-dosa, yang lewat dan duduk bersama mereka’ ‘baginya ampunan ku, mereka adalah Kaum yang tidak akan menderita disebabkan mereka orang yang membersamai mereka.”

Hadis di atas menjelaskan lebih banyak lagi keutamaan dzikir bagi seorang muslim. Pertama, para malaikat akan membersamai mereka, diberikan naungan yang luasanya adalah langit dan bumi serta memintakan ampun pada-Nya. Selanjutnya Allah SWT akan memberikan apa yang mereka pinta; diberikan surga, dijauhkan dari neraka, dan diampuni dosanya.

Bahkan hal itu tidak lah hanya diberikan untuk mereka yang memang sedang ikut berdzikir, orang yang sedang melintas dan untuk kemudian mendatangi majelis tersebut bahkan juga turut mendapatkan apa yang didapat oleh kelompok dzikir tersebtu. Maka nikmat mana lagi yang didustakan oleh para orang-orang yang selalu berdzikir mengingat Tuhannya?

Baca juga: Siapa yang Belum Membaca Ayat Kursi? Ini Keutamaannya!

Dari itu dan untuk itu, para ulama menyeru umat Islam untuk memperbanyak dzikir. Dzikir bisa dilakukan sendiri maupun berjamaah, dalam keadaan sunyi ataupun ramai, melalui lisan ataupun hati dan pada waktu pagi ataupun petang. Sumber dari dzikir pun beraneka ragam, bisa dari Al Quran maupun Sunnah nabi SAW, juga yang berasal dari kumpulan wirid para ulama yang kemudian dibacakan sesuai anjuran. Semua dapat dilakukan selama tidak menyelisihi Al Quran dan Hadis.

Selayaknya sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak terjun terlalu jauh pada masalah perselisihan ulama terkait tata cara berdzikir. Karena sesungguhnya perselisihan itu justru akan menyusutkan faedah berdzikir yang amat lah tak terhitung. Semoga kita bersama bisa menjadi hamba yang ahli dzikir.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *