Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Kesetaraan Gender dalam Islam, Wacana atau Realita?

Kesetaraan Gender dalam Islam, Wacana atau Realita?

Perbincangan soal kesetaraan gender dalam Islam adalah topik klasik yang sudah selesai pembahasannya. Sejak diutusnya nabi Muhammad Saw, wanita telah menjadi partner setara dengan menjalani kehidupan. Istri pertama Rasulullah Saw, Khadijah binti Khuwailid adalah permisalan komprehensif kontribusi wanita dalam segala aspek. Sebelum menikah dengan nabi, beliau dikenal sebagai seorang saudagar wanita kaya yang kerap menitipkan barang dagangannya untuk dijual ke Syam dan Yaman. Hal ini menandakan bahwa dari aspek ekonomi, bangsa Arab tidak membedakan peran wanita dan pria.

Selepas menikah dengan Rasulullah Saw, Khadijah berevolusi menjadi sosok penyokong tugas kepemimpinan dakwah, sosoknya yang penyayang dan perhatian terhadap Rasulullah telah berhasil menjadi tameng kuat dihadapan penolakan di masa awal dakwah. Dari sini terlihat peran sosial dari wanita mulia ini. Dalam sisi pendidikan, Rasulullah ditemani istri lainnya (selepas Khadijah) yang membantunya untuk merekam sejarah turunnya wahyu dan aktifitas rumah tangga yang tidak bisa dijangkau dengan mudah oleh para shahabatnya. Beliau adalah Aisyah binti Abu Bakar Ashiddiq, salah seorang perawi hadis terbanyak dari kalangan shahabat.

Karena sifatnya yang rahmatan lil alamin, Islam justru memberikan privilledge khusus bagi wanita. Mereka diperlakukan khusus; diberlakukan batasan aurat yang lebih besar bagi wanita demi menjaga mereka dari kejahatan, mereka mendapatkan hak waris dari sebelumnya yang sama sekali tidak mendapatkannya, mereka juga diberikan hak yang sama di hadapan hukum; berhak menuntut dan dituntut, mengutarakan pendapat dan mendapatkan hak-hak yang memang seharusnya diberikan untuk mereka. konklusinya adalah Islam telah selesai dalam upaya menyetarakan hak sosial wanita dengan lelaki.

Memahami wacana kesetaraan gender dalam Islam kekinian

Di zaman modern seperti sekarang, segala hal pokok yang nampaknya mudah jadi nampak sulit. Berbagai hal yang telah ada garisnya, sengaja dibuat berbelit dan membingungkan. Karena banyaknya praktek kekerasan dan kejahatan pada wanita ditambah peradaban materialistis yang merambah setiap aspek kehidupan menjadikan kaum wanita gusar dan kembali mempertanyakan hal prinsipil yang sebenarnya telah selesai dibahas. “Kesetaraan” yang telah dijunjung oleh Islam sejak masa awal, kini diwacanakan berlebih menjadi “kesamaan” yang justru menjauhkan wanita sendiri dari fitrah penciptaannya.

Dalam hal ini Allah Swt telah berfirman dalam QS Ali Imran 36: وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنْثَى  “Dan bukanlah lelaki seperti wanita”, meskipun ayat ini berkisah tentang perkataan Ibu dari Sayyidah Maryam saat mengandung anaknya, di mana ia tahu bahwa apa yang didambakannya dari keturunan adalah sosok yang dapat berkhidmah untuk masjid Al Aqsha. Ibunda dari sayyidah Maryam tidak menyangka anaknya dapat melakukan hal tersebut. Akan tetapi dari sisi lain dapat dimengerti bahwsa secara implisit ayat ini menyatakan terdapat perbedaan antara laki-laki dan wanita baik dari sisi fisik maupun nilai fitrah lain yang memang telah Allah Swt sematkan khusus untuk wanita.

Tidak jarang kaum feminis memelintir ayat-ayat agama demi memuluskan agendanya yaitu mengaburkan ajaran agama Islam terkait wanita. Misalnya mereka banyak menafsirkan ayat secara parsial, contohnya adalah QS An Nisa: 124

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Install Takwa App

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Ayat ini kerap digunakan oleh kalangan feminis untuk menyamaratakan posisi wanita dan pria dalam segala hal, dan yang membedakan hanya dari amal salih. Tentu hal ini menyesatkan, karena dalam ayat lain dijelaskan bagaimana peranan wanita dan pria dalam kehidupan yang lebih detail, seperti kepemimpinan lelaki dalam keluarga, pembagian harta waris, hingga permasalahan pengasuhan anak yang masih balita. Al Quran juga Hadis telah membahas perkara tersebut secara detail dengan menempatkan posisi wanita dan pria sesuai dengan porsinya.

Cara lainnya yang kerap digunakan adalah menciptakan konteks yang kerap mengabaikan penjelasan mendetail baik dari Al Quran maupun Hadis. Terkait ketaatan istri pada suami dikarenakan sang istri tidak mencari nafkah. Tentu kondisi itu bertolak belakang dengan kisah Khadijah di atas, yang mana beliau telah menjadi saudagar sebelum menikah, meskipun begitu tiada seorang pun mempertanyakan ketaatan beliau terhadap nabi Muhammad Saw.

Baca juga:Bashar, Dia Yang Memandang Segala

Demikian memang wacana Islam tentang kesetaraan gender yang kerap menjadi ladang bagi musuh-musuh Islam untuk menyerang agama yang hanif ini. Perdebatan tentang status sosial wanita yang terpuruk dalam sebuah realitas sosial, tidak jarang menyalahkan dan bahkan semena-mena menafsirkan ajaran agama dengan tanpa pencerahan. Di akhir, agama terlihat hanya sebagai pemuas intelektualitas sebagian kalangan untuk men-judge kerancuan yang terjadi dalam sebuah komunitas masyarakat. Maka tugas kita sebagai seorang muslim adalah membaca wacana-wacana Islam tentang peran wanita dalam masyarakat tadi menjadi sebuah realita yang dapat dijadikan contoh bagi umat lainnya.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *