Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Kelembutan Sebagai Pilar Islam

Kelembutan Sebagai Pilar Islam

Di antara banyak hal yang paling dibutuhkan oleh masyarakat Islam saat ini adalah kelembutan. Berbagai bentuk penyelewengan norma dan nilai mulia tidak jarang datang dari kekeliruan pola interaksi dari seseorang muslim ke pada masyarakatnya. Karenanya, banyak dari generasi muda muslim saat ini yang mengalami disorientasi hidup karena kehilangan kelembutan dalam masa pendidikannya.

Dalam realita kehidupan cukup banyak contoh kerusakan akhlak dan moral karena sebab hilangnya kelembutan. Kejahatan di jalanan berupa penjambretan, penodongan dan pembunuhan adalah di antara dampaknya seseorang tidak memiliki jiwa yang lembut hinga dapat menyakiti saudaranya. Penyalahgunaan narkotika, minuman keras, dan pergaulan bebas adalah di antara bentuk hilangnya sosok pendidik yang mengajarkan kelembutan.  

Hingga yang terkini adalah dampak dari disorientasi ajaran agama yang bertujuan pada penghancuran, pemboman dan teror, bisa jadi yang bersangkutan tidak mengenal bahwa salah satu pilar dari ajalan Islam adalah kelembutan. Andaikan para pelaku kejahatan tersebut melihat dengan lebih cermat akhlak dan moral Sang Rasul yang Agung itu tentu mereka tidak akan berani membuat keonaran dengan cara menumpahkan darah saudaranya sesama manusia.

Bagaimana memahami bahwa kelembutan adalah pilar Islam?

Pertama-tama kita perlu memahami kelembutan ini dari perspektif keilmuan Islam. Dalam islam kelembutan disebut dengan ar rifq. Secara istilah ar rifq berarti berbelas kasih dalam perkataan, perbuatan dan mengambil jalan termudah, ia adalah kebalikan dari kekerasan. Al Quran menjelaskan dalam surat Ali Imran, 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

 

Install Takwa App

Ayat ini adalah satu dari banyak ayat yang menghimbau umat Islam untuk berlemah lembut dalam berinteraksi dengan siapapun. Bahkan Al Quran menjelaskan dampak yang akan terjadi apabila sifat itu hilang dari seorang muslim, mereka akan menjauh.  Maka saling maaf dan mengampuni adalah cara lain untuk berinteraksi dengan orang lain, juga bisa dengan musyawarah dalam melihat sebuah jalan keluar.

Rasulullah SAW juga pernah berwasiat ke pada Sayyidah Aisyah RA untuk mengutamakan kelembutan dalam kehidupan melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim RA:

يا عائِشَةُ إنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، ويُعْطِي علَى الرِّفْقِ ما لا يُعْطِي علَى العُنْفِ، وما لا يُعْطِي علَى ما سِواهُ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Lembut, dan menyukai kelembutan, dan memberikan atas kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada yang berbuat keras, dan Dia tidak memberikan ke pada selainnya.”

عن أبي الدرداء -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: من أعطي حظه من الرفق، فقد أعطي حظه من الخير، ومن حرم حظه من الرفق، فقد حرم حظه من الخير

Dari Abu Darda RA Rasulullah SAW bersabda: barang siapa yang dianugerahkan kelembuatan maka ia telah dianugerahkan pasal dari kebaikan, dan barang siapa yang tidak diberikan kelembutan maka dia telah terhalang dari kebaikan. (HR Tirmidzi).   

Baca juga: Ketika Malaikat Jibril Menampakkan Wujud Aslinya

Dalam penerapannya dalam kehidupan Islam kembali mengklasifikasikannya dalam banyak hal, di antaranya adalah:

–          Kelembutan pada diri sendiri:

وعن عائشة رضي الله عنها: ((أنَّ الحولاء بنت تُوَيْتِ بن حبيب بن أسد ابن عبد العزَّى مرت بها، وعندها رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت: فقلت: هذه الحولاء بنت تويتٍ. وزعموا أنَّها لا تنام بالليل، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تنام بالليل، خذوا من العمل ما تطيقون، فو الله لا يسأم الله حتى تسأموا

 

“dari Aisyah RA: sesungguhnya Haula bint Tuwait bin Habib bin Ahad bin ibn Abd Uzza melewati Rasulullah, kemudian Aisyah berkata, ‘ini adalah Haula bin Twait, mereka meyakini bahwa ia tidak lah tidur di malam hari,’ maka Rasulullah SAW berkata, ‘kerjakan lah amalan apa yang kalian mampu, demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan (akan amalan kalian)

 

Di sini, Rasulullah SAW menghimbau umat muslim untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuannya. Termasuk dalam hal ibadah.

–          Kelembutan pada umat manusia secara keseluruhan

Terdapat sebuah riwayat doa dari Rasulullah SAW untuk para pemimpin umatnya, hadis di bawah ini diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah RA dari Imam Muslim:

اللهم من ولي من أمر أمتي شيئًا فشق عليهم فاشقق عليه، ومن ولي من أمر أمتي شيئًا فرفق بهم فارفق به

“Ya Allah, barang siapa mengurusi perkara umat ku kemudian ia mempersulitnya, maka persulit lah ia, dan barang siapa yang mengurusi perkara umat ku dengan kelembutan maka berlemah lembutlah padanya.” 

–          Kelembutan pada sesama makhluk

بينا رجل يمشي، فاشتدَّ عليه العطش، فنزل بئرًا، فشرب منها، ثُمَّ خرج فإذا هو بكلب يلهث، يأكل الثرى من العطش، فقال: لقد بلغ هذا مثل الذي بلغ بي، فملأ خفه، ثم أمسكه بفيه، ثم رقي، فسقى الكلب، فشكر الله له، فغفر له، قالوا: يا رسول الله، وإن لنا في البهائم أجرًا؟ قال: في كل كبد رطبة أجر

Seseorang sedang berjalan, kemudia ia kehausan, lantas ia turun ke sebuah sumur untuk minum dari padanya. Kemudia saan keluar, ia menemui seekor anjing yang kehausan, ia memakan tanah karena kehausan. Kemudia ia berkata, ia (anjing) ini telah melalui apa yang telah aku lalui, kemudia ia memenuhi sendalnya dan memegang mulut anjing tersebut dan memberikannya minum. Kemudia ia bersyukur ke pada Allah, dan Allah mengampuninya. Kemudia mereka berkata ‘apakah kita akan dibalas karena hewan?’ Rasul berkata, ‘dalam setiap kurma ada balasannya’.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari RA, tentang sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW di hadapan shahabat-shahabatnya.  Periwayatan ini sekaligus menjadi landasan bahwa perkara kelembutan bagi hal apa saja dan untuk siapa saja termasuk hewan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *