Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Jagalah Amalan dari Bahaya Riya!

Jagalah Amalan dari Bahaya Riya!

Dalam catatan singkat sebelumnya disebutkan salah satu syarat terterimanya amalan adalah menyerahkan niat dan maksud hanya untuk Allah Swt, yaitu ikhlas. Di kesempatan kali ini penulis ingin berbagi tentang tema akhlak lainnya yang masih berkaitan dengannya yaitu riya. Jika ikhlas dimaknai dengan menjadikan maksud dan tujuan dari sebuah amalan ibadah hanya untuk Allah, maka riya adalah berbuat suatu perbuatan demi untuk mendapatkan kesan baik dari manusia.

Jika diselami lebih dalam tentang hati dan penyakitnya, riya bisa terbilang salah satu yang paling membahayakan seorang muslim. Pasalnya sifat riya dalam diri seseorang akan menjerumuskannya pada kesyirikan “tersembunyi.” Sebagaimana kesyirikan adalah perbuatan menyekutukan Allah, yang merupakan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar, maka riya adalah jalan kecil yang mengantarkan seorang muslim ke arah kesyirikan sesungguhnya yaitu syirkul akbar atau beribadah demi selain Allah Swt.

Bahaya dan cara menjaga amalan dari riya

Dalam sebuah hadis yang cukup panjang dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra Rasulullah mengisahkan kepada sahabat tentang seorang muslim yang akan ditanya di hari kiamat tentang apa yang telah mereka kerjakan di dunia oleh malaikat. Dalam hadis tersebut Rasululullah Saw mempermisalkan seorang yang berjihad di jalan Allah, seorang Alim agama dan seorang qary atau pembaca Al Quran.

Namun hari itu bukan lah hari-hari mereka di dunia, yang mana ucapan dusta akan dapat diterima. Hari itu adalah hari di mana tiada lagi lisan yang berdusta, bahkan anggota badan sekalipun akan bersaksi untuk menunjukan hal yang sebenarnya terjadi. Kemudian Rasulullah Saw melanjutkan dan singkat kata pernyataan mereka tertolak, karena mereka melakukan perbuatan tersebut hanya demi disebut orang yang berani, alim dan Qary Al Quran, sehingga malaikat-malaikat Allah pun tidak segan untuk melemparkan mereka ke neraka.

kabar futuristik dari Nabi Muhammad Saw yang mengisahkan hari akhir semacam di atas mengantarkan kita pada sebuah pemahaman, betapa besarnya nilai niat seseorang dalam melakukan sebuah perbuatan. Dan dengan mudahnya Allah Swt menghapuskan amalan yang dihadapan manusia tentu bukan suatu hal yang kecil. Bahkan Al Quran menyatakan bahwa riya adalah salah satu di antara ciri-ciri seorang munafiq.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang sifat riya, bahwa orang-orang munafiq dalam ayat ini tidak memiliki keikhlasan dan tidak ada interaksi dengan Allah Swt di dalam beribadah. Mereka sholat dibuat-buat dan untuk berlindung dari manusia lainnya.

Install Takwa App

Baca juga: Kemuliaan Manusia Perspektif Al Quran dan Hadis

Dari itu seorang muslim perlu melatih diri untuk terhindar dari sifat riya. Penulis akan menuturkan beberapa cara yang dapat ditempuh seorang muslim agar terhindar dari riya:

–          Meluruskan niat untuk Allah Swt semata

“Innamala’malu binniyati wa innama likulli imri’in ma nawa” HR Al Bukhari

Artinya: sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niatnya masing-masing dan seseorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Dengan meluruskan niat hanya untuk mendapat keridaan Allah Swt maka kita dapat terjaga dari bahaya riya. Dalam pengamalannya, setelah berniat seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah Swt, dan menyadari bahwa Allah Swt bersama dengannya dan akan membalas segala perbuatan baik kecil atau besar sekalipun.

–          Kontinuitas beramal baik

Terkadang seorang muslim karena takut hatinya tertutupi oleh penyakit riya malah ragu untuk beramal bahkan hingga meninggalkan amalannya. Perlu ditekankan jika permasalahannya adalah niat yang kotor maka jangan pernah tinggalkan amalannya. Karena riya adalah penyakit hati, maka seorang muslim perlu untuk terus melatih hatinya agar terbiasa beramal baik dengan hati yang ikhlas.

–          Berdoa dan memohon ampunan pada Allah Swt

Sebagaimana Allah Swt telah membuat sebuah ujian dengan berbagai bentuknya, maka Allah Swt juga yang memberikan jalan untuk berlepas dari padanya. Memintalah pada Allah Swt dengan tulus agar segala amalan hanya diperuntukan untuk-Nya semata, dan mohon lah hanya pada-Nya agar godaan setan tidak serta merta menggoyahkan prinsip kita. Dan mohon dan bersimpuhlah hanya kepada-Nya agar sifat-sifat riya yang telah lalu diampuni.

Berikut adalah lafalan doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astagfiruka lima la a’lamu.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu di saat aku mengetahui dan aku mohon ampunan dari sesuatu yang aku tidak mengetahui.

Wallahua’am bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *