Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Istigfar, Bukti Betapa Murahnya Ampunan Allah SWT

Istigfar, Bukti Betapa Murahnya Ampunan Allah SWT

Islam adalah agama komprehensif yang mencakup segala hal; aturan, sistem, petunjuk, teladan hingga hukuman bagi yang melanggar. Namun kenyataannya aturan itu tidak lah kaku, Allah SWT dengan kebiijaksanaan-Nya membuka pintu yang sebesar-besarnya bagi pendosa untuk kembali pada-Nya, menerima permohonan ampun dari hamba-Nya, hal ini dinamakan istigfar.

Istigfar sendiri adalah bukti bahwa Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi beserta isinya tidak meninggalkannya begitu saja tanpa arah dan tanpa aturan sehingga manusia bisa berbuat apa saja dengan bebas. Manusia yang penuh dengan kelemahan dari seluruh aspek telah “dihukumi” sebagai pelanggar aturan, maka istigfar amat lah diperlukan manusia untuk kembali ampunan Tuhan-Nya.

كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ ، وخيرُ الخطَّائينَ التَّوَّابونَ

“setiap anak adam adalah pembuat kesalahan, dan sebaik-baiknya pembuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Anjuran istigfar dan teladan Rasulullah SAW

Secara definisi istigfar berarti permintaan ampunan. Ampunan ini pada dasarnya berarti perlindungan, grasi atas kesalahan dan permohonan untuk tidak dihukum oleh Allah SWT. Untuk menyelami lebih dalam akan makna dari istigfar hendaknya seorang muslim melihat Rasulullah SAW sebagai seorang teladan.

Sebagaimana diyakini oleh kaum muslimin bahwasanya para Nabi terjaga dari dosa, ma’shum. Maka mereka secara definitif mereka ‘alaihimus salam tidak melakukan kesalahan yang sampai perlu untuk dihukum. Dari itu tentunya permohonan ampun adalah sebuah perkara yang sia-sia, begitu hukum akal berujar. Akan tetapi apa sesungguhnya yang terjadi dan dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW berkata: “Demi Allah sesungguhnya aku benar-benar ber istigfar dan bertaubat padanya dalam sehari lebih dari 70 kali.” Tentu kaum muslimin bertanya-tanya mengapa Rasulullah SAW sampai terus memohon ampun pada Tuhannya padahal beliau telah dijamin terbebas dari dosa.

Install Takwa App

Di sini perlu difahami, bahwa Rasulullah SAW adalah teladan bagi umatnya, beliau akan menjadi contoh hingga hari akhir. Maka setiap apa yang beliau lakukan adalah demi untuk mengajarkan pada umatnya akan besar faedah istigfar. Dan sebagai juru selamat umat Islam di hari akhir, tentu beliau akan terus memohon ampun bagi umat Islam secara keseluruhan.

Istigfar adalah tanda bahwa manusia di hadapan tuhannya tidak sempurna dan tidak maksimal dalam beribadah, padahal ibadah adalah titah utama manusia di muka bumi ini. Kemudian manusia terus melakukan dosa-dosa yang akan menghitamkan hatinya, memperburuk perbuatannya, dan menjadikannya semakin jauh dari Allah SWT. maka sang hamba perlu kembali pada tuhannya dan memohon ampun.

إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ، وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat salah akan ditandai hitam di hatinya (karena pengaruh dosa), dan apabila ia meninggalkan (dosa) dan memohon ampun maka Allah akan bersihkan hatinya, dan apabila ia kembali ditambahkan (noda hitam) hingga hatinya kan tertutup. Sebagaimana disebutkan oleh Allah SWT (Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.) (al Muthaffifin 14)”

Dari itu sebagai seorang hamba, umat Islam perlu untuk terus beritigfar memohon ampun pada Allah SWT atas segala kesalahan yang dilakukan baik disengaja maupun tidak. Dan selalu meyakini bahwa Allah SWT selalu berada di dekatnya untuk mengampuni segala kesalahan.

{َمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisa: 110)

Baca juga: Taubat Nasuha dan Syarat Diterimanya Taubat

Selain itu pelajaran yang dapat diambil adalah haramnya seorang hamba untuk berputus asa, atas kelakukan dosa yang ia lakukan, sehingga beranggapan Allah SWT tidak akan mengampuninya. Dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Allah SWT berkata melalui lisan Rasulnya:

يا عبادي، إنِّي حرَّمتُ الظلمَ على نفسي، وجعلتُه بينكم مُحرَّمًا، فلا تظالموا، يا عبادي، كلُّكم ضالٌّ إلا مَن هديتُه، فاستهدوني أَهْدِكُم، يا عبادي، كلُّكم جائعٌ إلا مَن أطعمتُه، فاستطعموني أُطعِمْكم، يا عبادي، كلُّكم عارٍ إلا مَن كسوتُه، فاستكسوني أَكْسُكم، يا عبادي، إنكم تُخطِئون بالليل والنهار، وأنا أغفر الذنوب جميعًا، فاستغفروني أَغْفِرْ لكم

 

“wahai hamba-hamba Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka jangan lah saling menzalimi. Wahai hamba-hamba Ku kalian semua tersesat kecuali yang Aku berikan petunjuk, maka pinta lah petunjuk Ku, kan kuberikan kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba Ku, seluruh dari kalian kelaparan, kecuali yang Aku berikan makan, maka minta lah pada Ku, kan Aku berikan kalian makan.  Wahai hamba Ku kalian semua telanjang, kecuali yang Ku berikan pakaian, maka pinta lah pada Ku, kan Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni seluruh dosa, minta lah ampunan pada Ku, kan Ku ampuni kalian.”

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *