Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Iradat, Semua Hal atas Kehendak-Nya

Iradat, Semua Hal atas Kehendak-Nya

Saat ini belahan dunia bagian Timur Tengah, tepatnya di kawasan bernama Palestina warganya masih berada penindasan dan penjajahan. Di lain tempat, tepatnya sebuah kawasan bernama Xin Jiang yang berada di dataran Tirai Bambu, nasib mereka serupa, ditekan dan ditindas oleh otoritas setempat. Semua pasti bertanya, mengapa dengan segala penindasan ini? Siapakah yang berkehendak? Mengapa kehendak-Nya juga meliputi hal-hal memilukan dan mengiris hati? Adakah ini sesuai dengan Iradat-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang?

Jawabannya adalah “Iya”, semua yang terjadi di atas bumi ini adalah sesuai atas kehendak-Nya, baik itu hal buruk atau baik bagi seluruh ciptaan-Nya. Penjabaran tentang sifat ini dijelaskan oleh para ulama akidah ahli sunnah wal jama’ah dalam bab Iradat, yang termasuk dalam rangkaian sifat ma’any yaitu sifat-sifat Allah Swt yang eksis bersama dzat-Nya dan mengharuskan suatu hukum. Secara definisi Iradat berarti, sifat yang eksis berada pada dzat—Nya dan menyatakan sesuatu yang mungkin untuk terjadi dari berbagai hal yang saling ber-muqabalah/berbanding sesuai dengan ilmu-Nya.

Berbagai hal yang berbanding ini berjumlah enam: wujud, ukuran, waktu, sifat, arah dan tempat. Ke enam hal ini memliki pembanding satu sama lainnya, wujud dengan ketiadaan, ukuran, seperti panjang dan pendek, waktu, seperti pagi dan petang, arah, seperti barat dan timur, sifat seperti hitam atau putih, tempat seperti di rumah dan di kantor. Jadi iradah adalah ilmu Allah Swt yang berarti bahwa Dia memiliki kehendak atas apa yang “ada” dan seluruhnya berasal dari kemauan-Nya Swt.

Dalil penjelas sifat Iradat

Allah Swt berfirman:

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”(QS Al Buruj 16)

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Install Takwa App

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadi lah ia.” (QS Yasin 82)

Kedua ayat di atas selain menyatakan sifat Iradat Allah Swt, juga menyatakan bahwa kehendak Allah Swt umum mencakup segala hal yang ada di jagat raya ini. Selain itu kehendaknya juga bersifat azali dan Qadim, berkaitan untuk menentukan sesuatu yang mungkin terjadi, baik itu telah ataupun akan terjadi. Dengan kata lain, kehendak Allah Swt ini bersifat universal baik positif atau negatif dari sudut pandang manusia. Dalam detailnya sering dipertanyakan apakah Allah Swt juga berkehendak keburukan, padahal jelas tertulis di QS Al Maidah ayat 6, bahwa Allah Swt tidak menghendaki bagi manusia kesulitan?

Pengarang Syarah Aqidah Thahawiyah, menjawab kehendak Allah Swt ini tidak melazimkan keridhoan-Nya, dan mengatakan bahwa ulama ahlus sunnah sepakat bahwa Allah Swt menghendaki ke-kafiran seseorang akan tetapi ridak meridhoi dan menyukainya. Dalam diskursus ini pendapat ini menyelisihi kalangan sekte Muktazilah dan Qadariah yang menyatakan bahwa Allah Swt hanya menghendaki keimanan dan tidak menghendaki kekafiran, kekafiran bagi mereka adalah atas kehendak manusia itu sendiri.

Ulama ahlus sunnah menjawab dengan tegas bahwa bagian manusia dari penciptaan dari apa yang dia lakukan bersifat iktisabi yang berarti sebuah opsional yang diberikan Allah Swt kepada seluruh manusia untuk berbuat, baik itu perbuatan mulia atau sebaliknya. Dalam pengaplikasiannya di kehidupan, Allah Swt hendak menguji manusia dengan segala keburukan yang nampak di sekitarnya dan yang mungkin berada di dalam dirinya. Allah Swt memberikan keleluasaan bagi seorang manusia untuk memilih apakah ia hendak beriman atau kafir. Sebagaimana tertulis dalam surat Al Kahfi ayat 29, “barang siapa hendak beriman maka hendaklah beriman, dan barang siapa hendak kafir maka hendaklah ia berbuat.” Sebagai konsekuensi atas perbuatan maka diciptakanlah surga dan neraka.

Baca juga: Qiyamuhu Binafsihi, Dia Yang Tidak Membutuhkan Tempat

Perdebatan ini sampai sekarang masih terus bergulir dan menciptakan sekte-sekte akidah yang sebagiannya telah punah dan sebagiannya masih eksis. Di masanya perselisihan ini telah menciptakan perpecahan antar umat Islam itu sendiri, bahkan hingga berujung pada hukuman mati pada para ulama yang mempertahankan prinsip akidah ahlus sunnah wal jama’ah. Tentu hal ini tidak mesti terjadi di zaman ini, para ulama ahlus sunnah wal jawamaah sepakat bahwa seorang yang berbuat bid’ah dalam akidah dihukumi fasiq dan perbedaan pendapat cabang dari akidah tidak sampai menjatuhkan hukum kafir pada seseorang.

Terakhir, tentunya sebagai hamba Allah Swt kita tidak dapat menerka dan mengetahui rahasia Allah Swt tentang takdir dan kehendak-Nya yang azali. Namun untuk menjalani kehidupan Allah Swt telah membekali manusia berbagai komponen petunjuk seperti akal dan wahyu, dengannya manusia diberikan kebebasan untuk berbuat; apakah ia akan taat atau maksiat? apakah ia akan taubat atau bertambah sesat? Semoga kita semua selalu diberikan kemampuan untuk selalu merepresentasikan ketaatan kepada Allah Swt. Amin

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *