Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Imam Syafii, Penggagas Mazhab Syafii

Imam Syafii, Penggagas Mazhab Syafii

Imam Syafii, Penggagas Mazhab Syafii

Kunyah beliau adalah Abu Abdullah, dan bernama asli Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’. Salah satu julukannya adalah Nashirus Sunnah, ‘Penolong Sunnah.’ Imam Syafii lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 H, dan berasal dari nasab yang amat mulia, di mana keturunannya menyambung hingga kakek nabi Saw, Abdul Muthallib. Dan wafat pada tahun 204 H di tanah perantauan terakhirnya, Mesir.

Makamnya dapat ditemukan di kawasan pemakaman kuno, Qarafah Sughro di sebuah kawasan yang dinamai dengan namanya, kawasan Syafii. Sampai kini kompleks pemakamannya masih menjadi tujuan utama peziarah dari berbagai negara guna termasuk para pelajar Universitas Al Azhar guna mengucap salam untuk sosok Pembaharu Agama abad ke 2 hijrih ini. 

Sebagaimana banyak ulama besar mengawali hidupnya, Imam Syafii tumbuh tanpa dinaungi oleh ayah. Ayah beliau wafat di saat sang Imam masih kecil. Hal ini yang sekaligus mengawali hijrah bersama ibunya ke Mekkah, yaitu demi untuk mengekalkan nasab garis keturunan yang mulia itu dengan mendekatkan Imam Syafii pada keluarganya di kawasan Hijaz.

Meski hidup dalam kondisi miskin, sang ibu tidak patah arang dan menghalangi buah hatinya untuk mendalami ilmu di masa kecilnya. Sebagaimana jamak di kalangan anak saat itu, Imam Syafii telah mengahafal Al Quran sejak masa kecil. Ia telah dikaruniai kecerdasan, kekuatan menghafal dan tekad yang besar dalam menuntut ilmu.

Perjalanan Imam Syafii dalam menuntut ilmu

Dengan wasiat dari ibunya untuk mendalami keilmuan islam, Imam Syafii mulai mendatangi para ulama Makkah. Beliau memulai dengan mempelajari hadis Rasulullah SAW. Sang Imam tidak sungkan untuk menuliskan hadis di atas apapun yang dimilikinya; tembikar ataupun kulit.

Install Takwa App

Selain itu, demi untuk memperkuat bahasa Arab sebagai landasan keilmuan, tidak jarang beliau bertolak untuk tinggal dengan arab Badui, tepatnya suku Hudzail. Dari sana ia mempelajari syair, bahasa fusha (arab fasih), adab. Seorang ulama ahli bahasa Asmui’i kenamaan berkata, “aku memperbaiki riwayat syair kabilah Hudzail dari seorang pemuda bernama Muhammad bin Idris.”

Selain bahasa Arab fasih, Imam Syafii juga mempelajari memanah dari kabilah Huzail. Hingga dalam sebuah riwayat disebutkan, “minat ku ada dalam dua perkara, memanah dan ilmu. Jika memanah aku akan mengenai 10 sasaran dengan 10 anak panah.” Dari sini dapat difahami bagaimana tumbuh kembang sang Imam amat lah lengkap, dari sisi keilmuan dan fisik.

Saat menginjak umur 20 tahun, Imam Syafii telah menjadi seorang pemuda yang terbilang layak untuk meriwayatkan hadis dan berfatwa, para ulama di Mekkah sudah mengakuti keilmuannya. Namun minatnya untuk ilmu lebih besar dari pada bertolak untuk bekerja. Hingga ia mendengar seorang ulama besar dari Madinah dikenal dengan sebutan Imam Darul Hijrah. Di titik ini lah Imam Syafii bertemu dengan gurunya, Imam Malik.

Di antara adab seorang thalibul ilm, adalah membaca kitab yang akan diajarkan untuknya. Begitupun Imam Syafii yang telah menguasai Magnum Octopus karya Imam Malik, Al Muwatho. Al Muwatho di zamannya merupakan kitab yang sangat berpengaruh, bahkan disebutkan, khalifah Abu Ja’far Al Manshur hendak menggantungnya di Ka’bah agar menjadikannya sebagai satu-satunya rujukan umat Islam, namun Imam Malik menolak.

Singkat cerita saat bertemu pertama kali dengan gurunya, Imam Malik bin Anas. Wasiat pertama yang diberikan oleh Imam Malik untuk murid yang baru ditemuinya adalah, “Wahai Muhammad, bertakwalah pada Allah SWT. dan hindari maksiat, engkau akan menjadi ‘seseorang,’ Sesunggunya Allah SWT telah memberikan ke dalam hati mu cahaya, jangan engkau padam kan ia dengan maksiat.”

Selepas perjalanan panjang menuntut ilmu ke berbagai daerah dan menemui banyak ulama, tiba masanya untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki, Khalifah memilihnya untuk bekerja sebagai Qadhi. Yaitu jabatan sekelas Hakim Agung, yang mengurusi perkara rakyat. Khalifah memilihnya untuk bekerja di Yaman. Imam Abu Zuhrah mencatat dalam masa pekerjaannya, Imam Syafii dikenal kuat pendiriannya, karena posisi strategisnya tidak jarang seseorang mendekatinya untuk mengambil manfaat, namun sang Imam enggan untuk berbuat zalim.

Keadaan semakin buruk di saat Wali dari Yaman sendiri dikenal sebagai seorang yang Zalim. Tidak jarang pernyataan pedas ditujukan oleh sang Imam berbentuk kritik untuk sang Wali. Karena hal itu Imam Syafii pun mendapatkan ujian berupa fitnah dari sang Wali yang mendakwanya telah membantu dan menjunjung keturunan Ali untuk membuat makar. Atas dasar itu, Imam Syafii dibelenggu dan dibawa ke Baghdad untuk diadili.

Perlu diketahui sebelumnya, di masa kepemimpinan perpolitikan Daulah Abbasiah oposisi yang hadir justru dari kalangan terdekatnya yaitu keturunan Ali bin Abi Thalib. Pemerintahan takut masyarakat akan cenderung memihak mereka karena kedekatan hubungan darah nabi SAW dengan mereka. Maka dari itu apabila terdapat seruan mengenai pemberontakan kalangan keluarga nabi dari keturunan Ali bin Abi Thalib, pemerintah tidak segan untuk memberangusnya. Hal ini lah yang menimpa Imam Syafii.

Meski dikenal cinta pada Ahlu Bait, keturunan nabi Muhammad SAW. Imam Syafii tidak pernah didakwaan sebagai seorang Syiah. Hal ini didukung pernyataan dari Qadhi Daulah saat itu Muhammad bin Hasan Syaibani, yang juga adalah karib dari Imam Syafii, beliau berkata “Dia (Syafii) memiliki banyak ilmu, dan apa yang engkau perkirakan tidak lah ada padanya.” Atas pernyataan tersebut, maka Khalifah pun membebaskan sang Imam di bawah kontrol Muhammad bin Hasan.

Bisa dibilang ini adalah titik kembali Imam Syafii ke dunia keilmuan, selepas ujian tersebut sang Imam berguru pada Imam Syaibani yang memiliki otoritas tertinggi fiqih Hanafi. Dengan itu Imam Syafii telah mengumpulkan pola fikih dari Imam Malik yang mendasari teks sebagai acuan, dan Imam Abu Hanifah yang mendasari logika sebagai acuannya. Maka lengkap sudah dasar ijtihad sang Imam. Selepasnya, beliau mulai membangun madrasahnya sendiri, mengajar dan memberikan fatwa, hingga peraduan terakhirnya yaitu Mesir.

Baca juga: Jagalah Amalan dari Bahaya Riya!

Mesir adalah singgasana keilmuan Imam Syafii yang paripurna. Di tahun 199 H beliau tiba di tanah para nabi itu. Banyak dari gagasan lama diperbaharui di sini. Maka dari itu para murid beliau mengenal istilah qoul (mazhab) jadid, untuk menggambarkan fatwa dan gagasan fikih beliau di Mesir, guna menghapus gagasannya di Baghdad, yang disebut qaul (mazhab) qadim. Meski tidak lama, 4 tahun terakhir masa hidupnya di Mesir telah membawa mazhabnya kini digunakan oleh jutaan umat Islam, salah satunya adalah umat Islam di Indonesia.

Wallahu a’alam bishowab.

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *