Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Imam Malik, Penggagas Mazhab Maliki

Imam Malik, Penggagas Mazhab Maliki

Jika Masjid Kuffah di Iraq memiliki Imam bernama Abu Hanifah, maka Masjid Nabawy di Madinah memiliki Imam Darul Hijrah, dialah Imam Malik bin Anas bin Malik bin Abi ‘Amir Nafi’ Al Ashbahy. Lahir di Madinah tahun 93 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 179 H. Imam Malik lahir dari kalangan keluarga agamis, dari kakek yang juga bernama Malik seorang pembesar Tabi’in dalam keilmuan di zamannya. Keluarganya berasal dari bangsa Arab Yaman, ayahnya berasalal dari Bani Ashbah dan ibu dari Bani Azdi yang keduanya adalah kalangan bangsa arab Qahthan, salah satu kabilah arab besar di Yaman.

Berasal dari keluarga religius mengharuskan Malik kecil untuk menuntaskan hafalan Quran di masa muda. Selanjutnya, ia mulai menghafal hadis-hadis Rasulullah Saw beserta riwayatnya. Suatu saat nanti beliau akan menulis sebuah kitab termasyhur di zamannya, Al Muwatho, yang Imam Syafii mengatakan tentangnya, “tidak ada kitab yang paling banyak mengandung kebenaran setelah Al Quran dari pada Al Muwatho.” Tentu, di saat itu belum ada kitab hadis lainnya, sebagaimana diketahui kutub sittah yang merupakan rujukan fundamental dalam ilmu hadis selain Al Muwatho ditulis pada abad ke 3 H.

Selain faktor keluarga, kota Madinah di zamannya tumbuh adalah kota peradaban keilmuan. Dua khalifah pertama umat Islam mengambil Madinah sebagai pusat pemerintahan. Para sahabat nabi juga menjadikan Madinah sebagai rujukan untuk mendapatkan dan menyebarkan sunnah Nabi Saw. Abdullah bin Umar pernah mengirimkan surat ke dua sahabat laipnnya, Abdullan bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan, “jika kalian ingin bermusyawarah maka datanglah ke Darul Hijrah dan Sunnah (kota Hijrah dan Sunnah). Karena keistimewaan ini juga, Imam Malik mencatut prilaku penduduk kota Madinah sebagai salah satu kaidah dasar dalam ilmu fiqih yang beliau bangun.

Bagaimana perjalanan ilmiah Imam Malik?

Tekadna amatlah besar dalam menuntut ilmu, namun tetap diiringi dengan akhlak yang mulia. Tekadnya yang besar ini kerap melampaui kondisi buruk di sekitarnya. Pernah suatu saat beliau menunggu gurunya, Nafi’ di siang hari, tiada yang menaunginya kecuali dahan pohon. Untuk yang pernah mendiami Madinah di musim panas tentu akan mengerti kondisi ini, “aku menunggunya keluar, saat dia keluar aku menunggunya sekejap kemudian mengucapkan salam. Kemudian aku kembali menunggu sekejap hingga ku mulai bertanya tentang berbagai perkara kepadanya.”

Selain Nafi, terdapat kalangan ulama Tabi’in lainnya yang mana Malik muda berguru ke padanya. Salah satunya adalah Ibn Hurmuz. Ia  berguru padanya selama 13 tahun dan berujar tentang gurunya, “beliau adalah di antara yang paling pandai untuk membantah kalangan ahlu ahwa, (pembelajar yang mendasari hawa nafsu sebagai tujuan). Dari beliau juga Imam Malik mewarisi pernyataan bahwa seorang alim hendaknya untuk mewariskan perkataan “Tidak tahu”, hingga hal tersebut menjadi dasar dalam diri mereka. Ibnu Wahab (murid Imam Malik) meriwayatkan “dia lebih banyak mengatakan ‘tidak tahu’ tentang permasalahan yang diajukan ke padanya.

Anugrah lain dari Imam Darul Hijrah adalah dikenal sebagai pembelajar cerdas dan cerdik. Sering memanfaatkan suatu kondisi demi memuluskan niatnya untuk ilmu. Pada hari raya ‘id, jamaknya para ahlul ilm tidak lah mendatangi guru mereka. Justru hal ini yang dimanfaatkan oleh Imam Malik untuk menemui gurunya, Ibnu Syihab Az Zuhri. Saat menemui Imam Malik di rumahnya, gurunya berkata, “aku tidak melihat mu kembali ke rumah mu dulu?” “tidak” jawabnya. “apakah kau sudah makan?” sela sang guru, “aku tidak membutuhkannya” jawabnya. “lantas apa yang kau ingin kan?”, “aku ingin engkau membacakan hadis Nabi.” Maka Ibnu Syihab pun membacakan sebanyak 40 hadis ke pada Imam Malik.

Selain periwayatan hadis, beliau juga mendalami cabang Ilmu lainnya yang masyhur di zamannya seperti ilmu kalam, fatwa sahabat dan fiqih ra’yi. Beliau mendalami ilmu kalam dari tangan gurunya, Ibnu Hurmuz. Darinya ia memahami bagaimana kalangan Syiah, Mutazilah dan kelompok Islam lainnya walaupun Imam Malik sendiri tidak menyebarkan ilmu tersebut pada murid-muridnya. Sementara dari para sahabat beliau mempelajari fatwa-fatwa dari para pemimpin Islam dari kalangan sahabat seperti Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan dll.

Install Takwa App

Imam malik juga cukup mendalami fiqih ra’yi, atau fiqih logika. Sebagian kalangan menyangsikan terdapatnya fiqih jenis ini di Madinah, karena mereka mengira bahwa Imam Malik tidak menerima fiqih jenis ini. Pada hakikatnya beliau juga mempelajarinya dari beberapa ulama Madinah seperti Yahya bin Sa’id dan Rabi’ah bin Abdurrahman atau lebih dikenal dengan “Rabiatur Ra’yi”. Meskipun memang tidak dapat disamakan penggunaan logika di antara golongan ulama Madinah dan ulama Iraq.

Muhammad Abu Zuhrah menjelaskan, kalangan Ahlu Ra’yi dari Madinah lebih menekankan pada penyelarasan antar teks keagamaan. Sementara kalangan Ahlu Ra’yi dari Iraq membuat kaidah lain yang akan masyhur pada masanya yaitu kiyas. Kiyas adalah sebuah metode produksi hukum syariat dengan menyelaraskan illat atau sebab dari suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya, yang pada akhirnya akan mengambil hukum dari peristiwa pertama. Metode ini memang tidak kerap digunakan oleh Imam Malik di masa awal pembangunan mazhabnya.

Baca juga: Meresapi Makna Ikhlas Demi Kelapangan Hati

Sebagaimana di antara dasar berfikihnya adalah beliau tidak senang untuk memberikan hukum atas peristiwa yang belum terjadi (fiqhu taqdiri), hal yang berbalikan dengan apa yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah. Dengan ini landasan dari Mazhab Maliki dibangun. Para murid setelahnya adalah yang turut berjasa untuk mengekalkan ilmu dari sang Imam Darul Hijrah. Kini, mazhabnya telah berekspansi ke kawasan Maghrib Islamy, seperti Al Jazair, Tunisia, Maroko dan Libya. Sebagian dari penduduk Mesir bagian selatan juga beribadah dengan tuntunan dari Mazhab ini. Semoga Allah Swt memberikan limpahan balasan atas ilmu-ilmu yang telah ditinggalkan oleh beliau.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *