Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Imam Ibnu Majah, Sang Muhaddis Besar dari Qozwins

Imam Ibnu Majah, Sang Muhaddis Besar dari Qozwins

Pada tahun 207 H telah lahir seorang ulama hadis besar dari Qozwin. Sebuah kota yang hingga kini masih eksis, berada di 130 KM barat Teheran, Iran. Di masa Bani Abbasiah dataran eks-Persia memang dipenuhi geliat keilmuan. Ulama hadis itu bernama Muhammad bin Yazid bin Majah Ar Rub’i Al Qozwiny, atau yang lebih dikenal dengan Imam Ibnu Majah. Kelak karangannya, Sunan Ibnu Majah akan melengkapi buku ke 6 sumber hadis paling otentik bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Beliau lahir di awal abad ke tiga hijriah yang merupakan masa perkembangan pesat ilmu hadis. Para ulama sudah mulai berlomba menyusun hadis Rasulullah SAW sesuai dengan kebutuhan umat dari berbagai sisi. Ada yang menyusun sesuai dengan otoritas kekuatan sanad yang sahih, atau dengan baiknya tata cara susunannya, hingga karangan yang menjelaskan hadis-hadis yang bermasalah.

Sebagaimana para penuntut ilmu di masa itu, Ibnu Majah muda memulai pengembaraan ilmu dari para ulama setempat. Hingga beliau merasa membutuhkan perjalanan dan perpindahan tempat untuk mencari riwayat hadis, berbagai tempat seperti Madinah, Mekkah, Mesir, Bashrah, Ray, dan Baghdad telah dilalui. Dari banyak tempat itu beliau berguru pada ulama-ulama besar kenamaan.

Di antara guru-guru yang telah berjasa pada keilmuannya yaitu: Muhammad bin Mutsanna bin Dinar Al ‘Anzy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Muhammad bin Abdullah bin Numair. Total 15 tahun beliau habis kan untuk menjelajahi kota-kota ilmu tersebut. Setelahnya beliau kembali ke kota kelahirannya Qazwin untuk mulai menyebarkan ilmu dan mengarang kitabnya yang terkenal hingga saat ini, Sunan Ibnu Majah.

Imam Ibnu Majah dan Sunan-nya beserta Spesifikasinya

Sunan Ibnu Majah pernah menjadi perdebatan oleh kalangan ulama terkait masuknya sang Kitab ke dalam jajaran kutubus Sittah. Sebagian ulama berpendapat bahwa Muwatho karangan Imam Malik lebih utama dan layak diutamakan, sebagian lagi melihat Sunan Ibnu Majah lebih utama. Abdul Ghani An Nablusi (W. 1143) menjawab musykil ini dan berkata dalam pembukaan kitabnya Dzakhair Al Mawarits fi Ad Dalalah ‘ala Maudhu’il Hadis:

“Mereka berselisih tentang urutan ke enam. Para ulama dari timur (Islam)  menganggap karya Abu Abdullah Muhammad ibnu Majah lebih utama, dan bagi ulama barat (islam) menganggap Muwatho karya Imam Malik lebih utama. Akan tetapi mayoritas ulama kontemporer sepakat bahwa Sunan Ibnu Majah lebih utama dari pada Muwatha’.”

Dari sini dapat disimpulkan meski Muwatho ada terlebih dahulu daripada Sunan Ibnu Majah, akan tetapi para ulama tetap mengutamakannya. Penilaian ini tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung yang dimiliki oleh Sunan sang Imam. Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala mengatakan, Sunan Ibnu Majah terdiri dari pembukaan, dan 37 kitab, serta 1500 bab.

Install Takwa App

Hadis yang terkandung dalam Sunan ini berjumlah 4341  hadis. Dari seluruh hadis tersebut, terdapat 3002 hadis yang sama takhrij hadisnya dengan lima kitab kutubus sittah lainnya. Sementara itu terdapat 1321 hadis yang beliau men-takhrij sendiri. Dari keseluruhan itu kitab Sunan ini mengandung shahih, hasan, dan dha’if.

Imam Ibnu Majah mengatur bab-bab dalam sunan ini dengan amat apik. Imam Suyuthi berkata “beliau telah dengan baik mengatur bab-babnya, di mana beliau memulai dengan isyarat bahwa mengumpulkan hadis dalam bentuk sunan adalah perkara yang dibutuhkan, sekaligus memperingatkan bagi tholibul ilm, bahwa mempelajari kitab-kitab sunan adalah bentuk wajib dalam agama.”

“Setelahnya beliau menjelaskan perkara aqidah dari iman dan qadar karena hal itu wajib diketahui oleh seorang mukallaf, setelahnya beliau menjelaskan keutamaan para shahabat karena mereka adalah para penyampai sunnah-sunnah hingga sampai pada kita, dan apabila tidak ditetapkan ‘adaalah[1] mereka maka ilmu dari sunnah dan hukum-hukum tidak lah akan sempurna.”

Baca juga: Menjaga Pandangan, Ajaran yang Meninggikan Martabat Manusia

Di antara sanjungan yang diberikan para ulama ialah komentar dari Abu Zur’ah Ar Razy, gurunya: “Aku meyakini andai ini berada di tangan manusia, maka kitab-kitab jawamy’ akan berhenti digunakan. Aku melihat di dalamnya yang terlihat dho’if hanya sekitar 30 hadis” Sanjungan seperti itu sangat lah wajar melihat usaha yang telah ditempuh oleh sang Imam memang tidak lah mudah.

Akan tetapi pada akhirnya para ulama lainnya menentukan bahwa Sunan Ibnu Majah berada di posisi ke enam dari kitab hadis lainnya. Setelah mengembara ke berbagai tempat, Imam Ibnu Majah kembali ke kota tempat tinggalnya, mengajar, meriwayatkan hadis dan menulis kitab. Tercatat dalam berbagai sumber beliau memilliki kitab dalam tafsir, sejarah dll. Hingga pada tahun 273 H beliau berpulang haribaan Allah SWT, di kota kelahirannya Qazwin.

 

[1] ‘adaalah adalah sebuah kekhususan bagi seluruh sahabat Rasulullah SAW yang menyatakan sifat adil, amanah dan dapat dipercaya sehingga tidak dipertanyakan keshahihan hadis dari pada mereka.  

 

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *