Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Imam Bukhari dan Pengenalan tentang Shahih Bukhari

Imam Bukhari dan Pengenalan tentang Shahih Bukhari

Di abad ke 2 H, seseorang disebut ‘alim jika ia menimba ilmu hadis, kebiasaannya adalah bepergian dari satu tempat ke tempat lain, panas gurun dan terkadang para perompaknya tidak jarang menghalangi jalan mereka untuk mencari sanad riwayat hadis. Saat mendapatkan riwayat para ulama hadis tidak langsung menerima, mereka melakukan klarifikasi, identifikasi hingga menguji para perawy dari akhlak dan moral beragamanya. Di antara para pejuang hadis itu ialah Imam Bukhari, sang Amirul Mukminin dalam Ilmu hadis.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Mughirah Al Bukhari. Ia lahir di kota Bukhara, tahun 194 H yang kini menjadi salah satu provinsi di Kazakhstan. Asal bangsa Muhammad diperselisihkan oleh para ulama, sebagaian mengatakan asalnya adalah Persia, sebagaimana dikatakan Khathib Baghdady dan Nawawi, sementara yang lainnya mengatakan ia adalah seorang Arab dari bani Jiily sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqalany.  

Beliau diriwayatkan berguru pada lebih dari 1000 orang, jumlah guru yang besar itu tidak lah mengherankan karena beliau nyatanya telah menjelajahi seluruh kota-kota sumber ilmu di masa itu seperti; Baghdad, Damaskus, Kuffah, Hijaz (Mekah dan Madinah), Mesir dll. Di antara guru-guru yang paling berpengaruh pada kehidupan Imam Bukhari adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq Rohaweh, Yahya bin Ma’in dan Ali bin Madini.

Shahih Bukhari, Masterpiece dari Imam Bukhari

Penulis tidak akan berlama-lama menjelaskan tentang sosok Imam Bukhari, beliau adalah ulama agung dari kalangan ulama hadis yang biografinya dapat ditemukan di mana-mana. Kali ini penulis ingin mengenalkan sedikit lebih jauh tentang karya monumental yang diklaim oleh para ulama sebagai sumber Islam tersahih setelah Al Quran, yaitu Al Jaami’ Al Musnad Ash Shahih Al Mukhtashor min Umuuri Rasulillah SAW wa Sunanihi wa Ayyamihi, atau yang lebih dikenal dengan Shahih Bukhari.

Judul dari karangan beliau ini berarti, “Kumpulan hadis bersanad shahih inti sari dari perkara-perkara Rasulullah SAW dan sunnahnya serta kesehariannya.” Para ulama tidak sembarang dalam menggelari kitab ini sebagai yang paling sahih setelah Al Quran. terdapat beberapa hal yang menjelaskan keistimewaan pada kitab ini.

–          Masa panjang penulisan

Shahih Bukhari mengandung 7275 hadis, atau 4000 hadis tanpa pengulangan, sebagaimana diutarakan oleh ulama besar ilmu Hadis, Ibnu Shalah. Dan masa kepenulisannya adalah 16 tahun. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya sang Imam memilah-milih hadis yang jumlahnya mencapai lebih dari 600 ribu hadis dari berbagai guru dan berbagai tempat.

Install Takwa App

–           Banyaknya periwayat

Hal yang tidak bisa dinafikan adalah penisbatan shahih bukhari pada Imam Bukhari. Kitab ini sejak masa hidup sang Imam telah masyhur ke seantero tanah Islam, dari timur hingga baratnya. Banyak riwayat yang mengatakan bahwa periwayat yang langsung mendengar, mencatat, dan meriwayatkan kitab ini langsung dari Imam Bukhari tidak kurang dari 90.000 orang.

Ini mengartikan beberapa hal; pertama, ulama hadis serta tholibul ilm sezaman dengan Imam Bukhari telah mengakui keunggulan kitab ini dari berbagai aspek. kedua, keotentikan periwayatan shahih bukhari terjaga. Karena Rasulullah SAW pernah berujar yang maknanya, “umat ku tidak akan bersepakat pada kebatilan”. Ketiga, otoritas keilmuan hadis sang Imam diakui oleh umat sezamannya.

–          Persyaratan yang ketat

Meskipun sang Imam tidak menyebutkan syarat yang beliau terapkan dalam mengarang kitab Shahih Bukhari, akan tetapi para ulama mengintisarikan metode yang beliau gunakan. Abu Bakr Al Hazimi berkata: “pemegang sanadnya haruslah (tsiqah) terpercaya, (mutqin) mendetail dan teridentifikasi, (mulazamah) membersamai gurunya dalam waktu panjang baik ketika bepergian atau menetap. Sering kali beliau mengutip hadis dari yang lebih rendah sanadnya, dikarenakan terdapat keraguan dari perawi hadis, meskipun sang perawi dikenal terpercaya.”

Beliau bahkan selalu melakukan (tahdzib dan tanqih) mengevaluasi dari segala kesalahan, ataupun hal yang tidak berasal dari pada hadis, dan menguji hadis-hadis dalam kitabnya ini ke pada guru-guru yang terpercaya seperti; Yahya bin Ma’in, Ali bin Almadini, dan Ahmad bin Hanbal, mereka pun menyaksikan keshahihan hadis-hadisnya.

–          Adab keilmuan yang luhur

Meskipun tidak ada kaitannya dengan kualifikasi keilmuan hadis namun adab yang dilakukan oleh Imam Bukhari saat menulis dan menukil hadis-hadis dalam kitabnya menjadi keunggulan tersendiri. Diriwayatkan Imam Bukhari memulai menulis hadis di Mekkah Al Mukarramah, yaitu di dekat Ka’bah. Dan beliau tidak menulis sebuah hadis kecuali setelah melakukan shalat dua rakaat dan meyakini keshahihannya. Begitupun saat beliau menuliskan biografi para periwayat. Beliau melakukannya di Madinah, di antara kubur mulia Nabi SAW dan mimbarnya.

Hal semacam ini tidak jarang memang dilakukan oleh para ulama, yaitu mentirakati, mendoakan dan memohon keberkahan atas karya dan karangan mereka. Sekaligus menyatakan bahwa segalanya, termasuk ilmu yang diberikan adalah milik Allah dan akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya di hari akhir nanti.

Baca juga: Imam Syafii, Penggagas Mazhab Syafii

Demikian sekilas tentang Imam Bukhari dan keistimewaan dari kitab Shahih Bukhari. Ibnu Mubarak, seorang ulama hadis kenamaan mengatakan, “keistimewaan Islam adalah sanad, andaikan tiada sanad maka seorang bisa berkata apa saja,” demikian sang Imam adalah sosok penjaga Islam dalam bentuk mengabadikan nilai-nilai keilmuan Islam yang luhur melalui amanah keilmuan nyata yang beliau emban demi menyajikan untuk umat muslim sebuah kitab yang dapat diuji keshahihan di dalamnya.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *