Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Imam Ahmad bin Hambal, Penggagas Mazhab Hambali

Imam Ahmad bin Hambal, Penggagas Mazhab Hambali

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Beliau dilahirkan di pusat peradaban Islam saat itu, Baghdad di tahun 164 dan wafat pada tahun 241 H di kota yang sama. Imam Ahmad bin Hambal lahir dari keluarga arab yang kedua orang tuanya menyambung nasabnya ke pada kabilah Syaiban. Ayahnya, Muhammad adalah seorang tentara yang wafat sejak Ahmad kecil belum dapat mengenalinya. Sementara kakeknya yang mana namanya ternisbat ke padanya adalah mantan Wali di masa kepemimpinan Bani Umayyah.

Masa muda Ahmad bin Hambal sudah mengarah pada ilmu dengan lingkungan yang mendukung. Maka ia pun memulai menghafal Al Quran, mempelajari hadis nabi, sirah nabi, ilmu peninggalan dari para sahabat dan juga tabi’in. Namun nampak Ahmad lebih menggandrungi ilmu hadis dari pada keilmuan lainnya. Selain dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata dengan kekuatan hafalannya, Ahmad kecil juga dicintai oleh lingkungannya karena akhlaknya yang mulia seperti tekad membara, ketakwaan, kezuhudan dan sabar yang luar biasa.

Perjalanan Imam Ahmad bin Hambal dalam mencari Hadis

Di masa itu sudah jamak di masyarakat jika seorang pembelajar ilmu hadis dituntut untuk melakukan perjalanan panjang hingga ke kawasan Islam lainnya. Tercatat di umur 15 tahun Ahmad muda telah memulai pengembaraan hadisnya. Mula-mula ia menjelajahi ulama hadis di  seantero Baghdad dan guru pertama yang mengajarinya hadis adalah Abu Yusuf, murid terdepan Imam Abu Hanifah. Setelah menuntaskan Baghdad, beliau mulai melakukan perjalanan panjangnya dalam mencari riwayat hadis langsung dari para gurunya.

Beliau juga melakukan perjalan ke Hijaz (Mekah dan Madinah) sebanyak 5 kali, Bashrah 5 kali dan daerah lainnya seperti Shan’a di Yaman pun tidak luput beliau jejaki. Tidak jarang karena bekal yang kurang Imam Ahmad bin Hambal berjalan kaki untuk mencapai tujuannya. Diriwayatkan dari beliau, “aku berhaji lima kali, tiga di antaranya berjalan. Di salah satu perjalan tersebut aku menyiapkan bekal 30 dirham. Aku pernah tersesat saat aku berjalan, kemudian aku berseru, ‘wahai hamba Allah tunjukkan lah pada ku jalan’ hingga aku dapat menemukan jalan ku kembali.”

Perjalan panjang seperti itu tentu memberatkan siapapun yang melihatnya. Apalagi pabila beliau bertolak dalam sebuah perjalanan tidak lupa beliau membawa buku-buku dan alat tulis. Hal itu karena sang Imam akan menulis dan menghafal seluruh periwayatan yang didapatnya dari guru yang ditemuinya. Seseorang berkata kepadanya, “sekali kau ke Kuffah, sekali kau ke Bashrah, hingga kapan?” dari pertanyaan itu tercatat lah sebuah ungkapan masyhur di kalangan para penuntut ilmu, Imam Ahmad menjawab “ma’al mihbarah ilal maqbarah” yang artinya bersama pena hingga kubur.

Tekad yang terbilang di atas rata-rata ini nyatanya dibarengi dengan sifat ketulusan dan qanaah. Beliau enggan untuk menerima pemberian, baik itu dari teman sejawat atau khalifah sekalipun. Pernah suatu saat beliau diberikan sejumlah harta oleh khalifah, anaknya Abdullah diperintahkan untuk membagi-bagikannya di jalan yang sebagiannya diberikan ke pada anak cucu dari kalangan Anshar dan Muhajirin, karena beliau melihat bahwa mereka lebih berhak atas harta tersebut. Hal tersebut dikarenakan Imam Ahmad bin Hambal melihat harta pemberian, apalagi dari penguasa terdapat syubhat di dalamnya, dan bukan mengharamkannya.

Imam Ahmad bin Hambal dan Fiqih

Imam Ahmad mulai duduk untuk berfatwa dan meriwayatkan hadis di umurnya yang ke 40, tepatnya pada tahun 204 H. Di mana Tahun itu adalah tahun wafatnya sang guru yang cukup mempengaruhinya dari sisi fiqih, Imam Syafii. Walau di awal beliau melarang penulisan apa pun –termasuk fatwa dan pendapatnya- kecuali hadis dan Al Quran tidak berarti gagasan fiqih sang Imam begitu saja terlewat. Hal itu berkat andil murid-muridnya yang mengekalkan ilmu dan periwayatan fatwa-fatwa dari Imam Ahmad. Selepas

Install Takwa App

Meski sebagian cendekiawan Islam meragukan posisi Imam Ahmad sebagai seorang ahli fiqih, Imam Ahmad tetaplah terhitung sebagai seorang mujtahid muthlaq. Yaitu seorang yang memiliki otoritas hukum tertinggil dalam hukum Islam sejajar dengan para Imam Mazhab lainnya. Muhammad Abu Zuhrah mengatakan perkara otoritas kefaqihan Imam Ahmad bin Hambal dapat dilihat dari periwayatannya atas peninggalan ilmu dari para sahabat, bahkan Imam Ahmad menertibkan periwayatan dalam kitab Musnad-nya sesuai dengan nama Sahabat nabi SAW.

Hal ini tentunya memberikan keyakinan bahwa beliau amatlah memahami ijtihad dari para sahabat dan generasi setelahnya. Terlebih para sahabat yang masyhur akan fatwa-fatwanya seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Selain itu pertemuannya dengan dua Imam besar yaitu Abu Yusuf di Baghdad di awal masa belajarnya dan Imam Syafii di Mekkah dan Baghdad menjadi pemantik lainnya dalam ilmu fiqih. Dengan komponen tadi lengkap sudah alat bagi Imam Ahmad untuk menggeluti dunia fiqih, riwayat Hadis dan logika penyimpulan hukum.

Selain faktor di atas tentu murid-muridnya yang paling berjasa untuk memperkuat asas, membangun madrasah serta menyebarkan fiqih beliau. Tercatat dua anak beliau Abdullah dan Shalih telah berjala menyebarkan ilmu dari ayahnya, meski Abdullah lebih fokus pada periwayatan kitab Musnad karangan ayahnya. Nama-nama lainnya seperti Abu Bakr Al Atsram, Abdul Malik Al Maimuni, dan Abu Bakr Al Marudzi adalah para murid yang berjasa untuk membangun mazhab Hambali.

Baca juga: Jangan Ragu, Islam Agama Perdamaian!

Demikian tadi sekilas tentang Imam Ahmad bin Hambal dengan mazhab Hambali. Penyebaran Mazhab itu memang terbilang terbatas karena para mujtahid pendahulunya telah memiliki tanah penyebaran terlebih dahulu. Sebut saja, mazhab Hanafi di Iraq dan sekitarnya, Mazhab Syafii di Mesir dan Mazhab Maliki di kawasan barat Islam. Meskipun begitu, kini penganut mazhab ini masih bisa ditemukan di kawasan semenanjung Arab, khususnya setelah kerajaan Arab Saudi berdiri dan menjadikannya sebagai mazhab resmi negara.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *