Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Imam Abu Hanifah, Penggagas Mazhab Hanafi (bag 1)

Imam Abu Hanifah, Penggagas Mazhab Hanafi (bag 1)

Beliau adalah Nu’man bin Tsabit bin Mauzuban al Kufi, namun lebih dikenal dengan nama imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah lahir di Kufah pada tahun 80 H dan wafat pada tahun 150 H. Kakeknya Mauzuban atau Falaudzujan (terdapat perselisihan atas nama kakek beliau) merupakan seorang dari bangsa persia yang tunduk pada pemerintahan Islam, saat Islam mulai mengekspansi tanah Persia. Salah satu keutamaan Mauzuban adalah kedekatannya dengan Imam Ali bin Abi Thalib, khalifah saat itu, hingga anaknya Tsabit pernah diriwayatkan oleh Imam Ali agar diberikan keberkahan pada keturunannya.

Doa tersebut pun terijabah, salah satu anak dari Tsabit adalah Nu’man yang suatu saat nanti akan dikenal hingga pelosok bumi dengan keilmuannya. Mazhabnya yang kini telah dianut oleh sebagian besar dari umat Islam adalah sedikit bukti dari kontribusi dari keilmuan Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i, seorang pelopor mazhab fiqih lainnya mengatakan tentang Abu Hanifah “Umat Islam dalam berfikih adalah keluarga dari Abu Hanifah.” Maksud keluarga di sini adalah memiliki keterpengaruhan yang erat. Pada kesempatan yang singkat ini, penulis akan menjabarkan setetes tentang masa dan perkembangan pengembaraan ilmiah dari Imam al Iraqi ini.

Imam Abu Hanifah dan perjalanan ilmiahnya

Beliau adalah sosok yang lahir dari keluarga pedagang. Ayahnya adalah seorang pedagang sutera besar. Walau bagaimanapun, sebagaimana jamak di zamannya, seorang muslim pada zaman itu kerap mengawali perjalanan hidupnya dengan menghafal al Quran. setelah menamatkan hafalannya, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga hafalan al Qurannya. Hingga suatu riwayat menyebutkan pada bulan Ramadhan beliau amat sangat sering mengkhatamkan al Quran. Di sisi lain, karena hidup dari kalangan pedagang, tentu pada awalnya ia juga tertarik untuk melanjutkan karir seperti ayahnya yaitu berdagang.

Namun suatu saat dalam perjalanannya ke pasar, Nu’man muda berpapasan dengan Imam Sya’bi yang sedang duduk, terjadilah percakapan di antara keduanya;

“kemana engkau hendak bertolak?” Imam Sya’bi bertanya.

“aku hendak bertolak ke pasar.” Sang Imam menjawab,

“tidak, aku tidak menanyakan itu, maksud ku ulama mana engkau akan bertolak.”

Install Takwa App

“aku jarang pergi ke ulama.”

Kemudian Imam Sya’bi menjawab tegas, “jangan kau lakukan itu, hendaknya engkau pergi untuk mencari ilmu dan membersamai para ulama. Sesungguhnya aku melihat di dalam dirimu terdapat kesadaran dan gerakan.” jelas, di sini Imam Sya’bi melihat dengan firasat kuat bahwa terdapat sebuah keutamaan dari sang Imam. Dari situ hati Imam Abu Hanifah tergerak, dan memulai untuk meninggalkan pasar dan menempuh kehidupan ilmiah. Meskipun begitu, terdapat banyak riwayat menyatakan bahwa beliau tidak benar-benar meninggalkan aktifitas perdagangannya, dikatakan bahwa beliau telah memilih seseorang untuk mewakilinya dalam dunia tersebut.

Kuffah, tempat tumbuh kembang sang Imam adalah salah satu kota modern pada zamannya. Di mana terdapat di dalamnya pergolakan pemikiran yang kompleks. Berbagai kelompok keagamaan tumbuh subur di sana. Terdapat kaum Mu’tazilah yang mengutamakan akal dan menjadikannya tolak ukur utama dalam beragama, juga Syi’ah yang merupakan oposisi utama pimpinan perpolitikan saat itu, Bani Umayyah, dan Khawarij yang membelot dari kepemimpinan Ali saat peristiwa arbitrase antara Muawiyah Ra dan Ali Ra. Kondisi seperti ini yang pada akhirnya yang mengantarkan Imam Abu Hanifah mendalami ilmu Kalam lebih dahulu dari keilmuan Islam lainnya, yaitu sebuah ilmu yang membahas tentang esensi ketuhanan dari berbagai perspektif.

Setelah memahami ilmu Kalam, ditambah perjalanan dialog dan perdebatan dengan kaum Mu’tazilah dan Khawarij, imam Abu Hanifah merasakan kehampaan. Beliau menyadari bahwasanya model beragama yang didasari dengan perdebatan bukan lah yang dikehendaki oleh para sahabat (generasi pendahulu Imam Abu Hanifah). Dan perihal esensi ketuhanan sebagaiman menjadi pokok pembahasan ilmu Kalam justru yang dihindari oleh para sahabat Rasul. Mereka mengimani, namun tidak membahasnya secara detail. Dari kesadaran ini Imam Abu Hanifah mulai beranjak merambah ilmu fiqih.

Tentu sebagian bertanya, dari mana Imam Abu Hanifah mempelajari Ilmu fiqih? Jawabannya tidak berbeda dari awal, Kuffah adalah kiblat keilmuan Islam saat itu. Tidak hanya dalam ilmu akidah, Kuffah juga menjadi peradaban ilmu fikih yang mana tertinggal di sana ilmu yang telah ditinggal para sahabat utama macam Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lainnya. Generasi emas itu diikuti oleh para tabiin kenamaan lainnya seperti ‘Alqamah dan Ibrahim An Nakha’i. Selain itu, tercatat beliau juga kerap berdiskusi dan terhubung dengan para murid dari Ja’far Ash Shadiq dari sana beliau mengenal mazhab fiqih syiah seperti Imamiyyah dan Zaidiyyah.

Baca juga: Tawakal Adalah Cerminan Keimanan

Pernah beliau ditanya tentang asal muasal keilmuan yang dimilikinya, beliau menjawab: “dari para murid Umar (bin Khattab) langsung dari padanya, murid Ali (bin Abi Thalib) langsung dari Ali, dari murid Abdullah (bin Mas’ud) langsung dari padanya, dan di saat itu tiada yang lebih alim dari pada Abdulla bin Abbas.” Dengan ini Imam Abu Zuhrah mengatakan, keilmuan imam Abu hanifah terbilang komprehensif karena mengkolaborasikan corak-corak pendapat dari para pendahulunya; fiqih Umar yang berlandaskan kemaslahatan rakyat, fiqih Ali yang berlandaskan esensi pensyariatan, fiqih Abdullah bin Mas’ud yang berlandaskan pada ekstraksi hukum dari teks, dan dari Ibnu Abbas tentang eksplorasi makna Al Quran.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *