Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Ilmu Pembagian Harta dalam Islam (Faraidh)

Ilmu Pembagian Harta dalam Islam (Faraidh)

Pembagian harta merupakan masalah yang sering kita hadapi dalam kehidupan kita. Karena permasalahan pembagian harta yang kurang adil, hubungan antar keluarga menjadi renggang, bahkan bisa sampai bermusuhan. Sebenarnya, islam telah mengajarkan hal pembagian harta sesuai syariat yang terdapat dalam al-qur’an dan hadits.

Berikut ini terdapat beberapa penjelasan umum beserta dalil-dalilnya tentang Ilmu Pembagian harta dalam islam (Faraidh).

Definisi Ilmu Pembagian Harta (Faraidh)

Faraidh secara bahasa jama’ dari faridhoh yang berarti At taqdiir atau sesuatu yang telah ditentukan. Secara istilah berarti ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara pembagian harta yang ditinggalkan (Warisan) kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya.

Tujuan dari ilmu faraidh adalah menyampaikan hak-hak mereka kepada orang yang berhak mendapatkannya. Adapun landasan ilmu ini adalah Al-qur’an, Hadits, dan Ijma’ para Ulama. Adapun hukum mempelajarinya adalah Fardhu kifayah. Dan hukum pemakaian ilmu faraidh adalah Fardhu ain.

Saling mewarisi di antara kaum Muslimin hukumnya adalah wajib. Hal ini berdasarkan Al-qur’an dan As-Sunnah. Diantara dalil-dalil tentang warisan adalah sebagai berikut.

Firman Allah Ta’ala  artinya : “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian ang telah ditetapkan.” (An-Nisa’ : 7)

Adapun Sabda Rasulullah SAW adalah: “Berikan warisan kepada orang-orang yag berhak menerima dan sisanya untuk orang laki-laki yang paling berhak. (HR Bukhori)

Install Takwa App

Hak-hak yang harus dipenuhi sebelum pembagian harta warisan

Adapun hak-hak yang harus dipenuhi sebelum pembagian harta warisan adalah:

  1. Biaya penyelenggaraan jenazah berupa kain kafan, upah menggali kubur, memandikan mayit dan lain sebagainya.
  2. Hak-hak yang berkaitan dengan harta yang ditinggalkan seperti zakatnya, pegadaian, dan juga denda akibat kriminal.
  3. Hutang.
  4. Wasiat untuk orang selain kerabat yang tidak lebih dari sepertiga dari harta warisannya
  5. Irs atau harta warisan setelah 4 hak yang diatas terpenuhi semua.

Baca juga: Bagaimana Cara Menghitung Zakat Penghasilan Kita?

Rukun, Syarat, Sebab dan Penghalang orang mendapatkan warisan.

Adapun rukunnya adalah

  1. Al-Muwarris atau orang yang meninggal
  2. Al-Waris atau orang yang hidup setelah kematian Al-Muwarris.
  3. Harta warisan yang ditinggalkan.

Jadi, apabila terdapat orang yang meninggal kemudian tidak ada ahli waris, atau terdapat ahli waris namun tidak ada harta yang ditinggalkan maka tidak ada pembagian harta.

Adapun syarat-syaratnya adalah

  1. Memastikan kematian Al-Muwarris atau orang yang meninggal
  2. Memastikan kehidupan ahli waris setelah kematian Al-Muwarris meskipun hanya sebentar.
  3. Ilmu yang mencangkup tentang warisan (Faraidh)

Dan hal-hal yang menyebabkan mendapatkan warisan adalah:

  1. Nasab, yaitu kekerabatan. Artinya, ahli waris ialah ayah dari pihak yang diwarisi, atau anak-anaknya, dan jalur (nasab) sampingnya seperti saudara-saudara beserta anak-anak mereka, dan paman-paman dari jalur ayah beserta anak-anak mereka, karena Allah SWT berfirman yang artinya: “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya. (An-Nisa’ : 33)
  2. Pernikahan, yaitu akad yang sah terhadap istri, sekalipun suami belum menggauli dan berduaan dengannya, karena Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan bagi kalian (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian.” (An-Nisa : 12)

Suami-istri masih saling mewarisi dalam tala’ raj’i dan dalam talak ba’in jika suami menjatuhkan talak kepada istrinya ketika sakit yang menyebabkannya meninggal dunia.

 

  1. Wala’, yaitu seseorang memerdekakan budak bagi laki-laki atau perempuan sehingga dengan pemerdekaan tersebut kekerabatan budak tersebut menjadi miliknya. Jadi, jika budak yang ia merdekakan itu meninggal dunia tanpa meninggalkan ahli waris,maka hartanya diwarisi orang yang memerdekakannya. Rasulullah SAW bersabda: “Wala’ itu milik orang yang memerdekakannya”. (H.R. An-Nasa’i)

Dan hal-hal yang menghalangi orang mendapatkan warisan adalah:

  1. Kekafiran, kerabat yang muslim tidak bisa mewarisi orang kafir dan sebaliknya, orang kafir tidak bisa mewarisi kerabatnya yang muslim. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang artinya “Orang kafir tidak mewarisi orang muslim dan orang muslim tidak mewarisi orang kafir”. (HR. Imam Ahmad)
  2. Pembunuhan, pembunuhan tidak bisa mewarisi orang yang dibunuhnya sebagai hukuman atas pembunuhan tersebut. Ketentuan ini berlaku jika pembunuhan tersebut dilakukan dengan sengaja, karena Rasulullah SAW bersabda: “Pembunuhan tidak berhak atas sesuatu pun dari harta peninggalan orang yang dibunuhnya.” (HR. Ibnu Abdil Barr)
  3. Budak, budak tidak mewarisi dan tidak bisa diwarisi, baik perbudakannya sempurna,atau sebagian seperti budak mukatab (budak yang ingin membebaskan dirinya dengan membayar sejumlah uang kepada tuannya), dan ummu walad, karena mereka semua masih tercakup dalam hukum budak.

Demikianlah beberapa penjelasan tentang ilmu pembagian harta (Faraidh) semoga dapat menjadi tambahan khazanah ilmu kita dan semoga kita dapat mengamalkan ilmu faraidh dalam kehidupan kita.

_

 

Penulis:

Yanuar Huda Assa’banna,

Alumni Fakultas Syari’ah di UNIDA GONTOR

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *