Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Hukum Menggunakan Metode Bayi Tabung untuk Memperoleh Keturunan

Hukum Menggunakan Metode Bayi Tabung untuk Memperoleh Keturunan

Setiap orang tentu mendamba keturunan, namun kenyataannya ada saja yang merasakan kesulitan untuk mendapatkannya. Untuk menjawab itu, para ilmuwan menggunakan berbagai cara dan teknologi demi mendapatkan apa yang diharapkan umat manusia. Hadirlah di masa kekinian bayi tabung sebagai salah satu solusi bagi pasangan yang kesulitan mendapatkan keturunan. Bagaimana hukum bayi tabung dalam islam?

Dalam sudut pandang Islam sendiri, keberlangsungan umat manusia dan terjaganya keturunan adalah salah satu dari tujuan utama dari syariat Islam. Dari itu Islam amat memperhatikan perkara tersebut dengan cermat; mulai dari mengatur tata cara nikah dengan rukun dan syaratnya hingga proses bercampurnya laki-laki dan perempuan demi adanya generasi penerus.

Kini polemik terjadi di masyarakat terkait hukum menggunakan metode bayi tabung untuk memperoleh keturunan dari sudut pandang Islam. Apa yang menjadi batasan indikator yang diperbolehkannya bayi tabung dalam Islam? Bagaimana ulasan fatwa ulama terkait permasalahan ini? mari kita bahas.

Pengertian dan ulasan hukum

Bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur oleh sel sperma di luar tubuh perempuan, tepatnya di dalam sebuah tabung pembuahan. Setelah sel telur sudah berhasil dibuahi dan menghasilkan embrio, maka akan dipindahkan ke dalam rahim. Secara medis proses ini dinamakan in vitro fertilization

Hal tersebut biasanya dilakukan karena pasangan memiliki kendala tertentu dalam proses pembuahan sel telur. Kelainan itu bisa datang dari pasangan wanita ataupun pria, bisa dikarenakan faktor penyakit, genetik bahkan umur yang terlanjur senja. Karena kendala tersebut maka proses pembuahan sel telur dalam ovarium akan ditingkatkan kualitasnya, dipantau perkembangannya dan dievaluasi apabila terdapat kekurangan.

Peristiwa di atas dilaksanakan dalam sebuah tabung, karena itu dinamakan dengan bayi tabung. Metode ini pertama kali dilakukan di Amerika Serikat, tepatnya di Virginia pada tahun 1981, dengan kelahiran seorang bayi perempuan bernama Elizabeth Jordan Carr.

Ulasan hukum Islam tentang bayi tabung

Tidak sulit untuk menyatakan bahwa bayi tabung diperbolehkan oleh Islam, karena secara zahir dapat dilihat ini adalah sebuah upaya dari umat manusia untuk mendapatkan keturunan. Di Indonesia, hal ini dicatat oleh MUI dalam fatwa tanggal 13 Juni, 1979 menyatakan bahwa selama sperma dan sel telur didapatkan dari pasangan yang sah maka penggunaan bayi tabung adalah halal, karena sesuai dengan kaidah ikhtiar.

Install Takwa App

Fatwa serupa juga diaminkan oleh Darul Ifta Mishriyyah, lembaga fatwa dari Mesir. “Apabila telah dinyatakan bahwa sel telur dari istri dan mani dari suami kemudian diintegrasikan dan disuburkan di luar rahim wanita (tabung) kemudian dikembalikan ke rahim wanita tanpa ada perubahan atau penggantian sperma dan jika memang ini dilakukan dengan keadaan darurat kesehatan yang mengharuskannya, dan dilakukan oleh dokter profesional maka hal itu diperbolehkan.” 

Dengan ini dapat disimpulkan beberapa hal: bayi tabung adalah salah satu upaya untuk mendapatkan keturunan; hal ini diperbolehkan apabila memang suami-istri memiliki kendala dalam proses pembuahan; sel telur dan sperma harus dari pasangan yang sah; rahim yang digunakan harus lah rahim milik istri yang sah pemilik sel telur; dan dilakukan oleh profesional yaitu dokter spesialis.

Baca juga: Lingkungan Adalah Hal Paling Berharga, Maka Jagalah!

Demikian Allah SWT menciptakan seluruh umat manusia beserta anggota tubuhnya dengan cara sebaik-baiknya. Walau bukan berarti Allah SWT menciptakan seluruh umat manusia tanpa kekurangan. Contohnya adalah kasus bayi tabung ini. Suami atau istri yang memiliki kendala dalam tubuhnya baik itu karena penyakit atau genetik hendaknya tidak berputus asa dari karunia-Nya.

Justru dari kekurangan tersebut Allah SWT hendaknya ingin menguji umat manusia yaitu agar menggunakan kemampuan yang diberikan-Nya untuk melengkapi kekurangan tersebut dan berikhtiar sekuatnya. Di samping itu hendaknya umat muslim setelah berupaya tetap berdoa dan bertawakkal pada Allah dengan menyerahkan hasil dan upaya pada kehendak-Nya.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *