Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Hukum LGBT Jelas Haram, Apa Sebabnya?

Hukum LGBT Jelas Haram, Apa Sebabnya?

Seperti banyak hukum agama langit, dalam Islam Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender atau disingkat LGBT sudah mutlak haram. Hukum LGBT ini disandarkan pada berbagai sumber utama Islam seperti Al Quran, Hadis dan konsensus ulama (Ijma), hingga akal sehat manusia. 

Al Quran jelas mensifati perilaku seks menyimpang seperti LGBT pernah dilakukan oleh kaum dari nabi Luth AS:

 وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). (QS Al A’rof: 80) tentang ayat ini para mufasir secara keseluruhan menyatakan haramnya prilaku kaum Luth.

Lain lagi bagi para fuqaha (ahli fiqih), pada awalnya mereka bersepakat mengharamkan prilaku penyimpangan seksual. Kemudian mereka berselisih tentang hukuman apa yang perlu diberikan, apakah serupa dengan zina atau tidak, atau apakah lebih besar atau mungkin lebih kecil dari zina dlsb.

Begitulah agama ini dijaga, dengan perantara ilmu yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Sementara jika dilihat dari sudut pandang hadis Rasulullah SAW, banyak sekali hadis yang menegaskan bahwa kecenderungan seks yang menyimpang dilarang, menyelisihi norma dan agama:  

حديث ابن عباس أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ.  

Install Takwa App

“Hadis dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW berkata: barangsiapa yang kalian temukan mengerjakan perbuatan kaum Luth, maka bunuh lah kedua yang melakukan”

أخرجه البيهقي من حديث سعيد بن جبير، ومجاهد عن أبن عباس رضي الله عنهم أنه سئل عن البكر يوجد في اللواط، قال: (يرجم) وقال صلى الله عليه وسلم (اقتلوا الفاعل والمفعول به أحصنا أم لم يحصنا) رواه أبو هريرة رضي الله عنه،

“Hadis diriwayatkan oleh Baihaqi dari hadis Sa’id bin Jubair dan Mujahid dari Ibnu Abbas RA tentang seorang perjaka yang melakukan homosexual, ia berkata: “dirajam.” Dan Rasul SAW berkata: “Bunuh lah keduanya, baik sudah menikah ataupun belum menikah.”

Seorang pemikir Islam, Thaha Jabir Ulwani menjelaskan, hukuman adalah sebuah perkara, dan hukum atas perbuatan adalah perkara lain. Seorang yang melakukan seks menyimpang pada zaman ini banyak tidak dihukum di dunia (karena hukum negara tidak mengakomodir) akan tetapi hukum akhirat sungguh nyata dan lebih besar. Dan sebagaimana dijelaskan di awal, para ulama fiqih memang berselisih pendapat tentang apa hukuman yang pantas untuk pelaku LGBT.

Penentangan atas hukum LGBT yang haram oleh barat

Sementara itu di Barat, isu LGBT tidak hanya berputar bagaimana untuk mendapatkan hak hidup dan bermasyarakat sebagaimana yang banyak ditemukan di negara mayoritas Islam. Kaum pro-LGBT baik itu simpatisan, aktivis hingga penyintas berbondong-bondong mencari kelemahan teks agama Islam sehingga dapat menjadi pembenar.

Tidak tanggung-tanggung bantahan langsung ditujukan ke penafsiran-penafsiran Al Quran yang berkaitan dengan ayat kaum Luth. Seorang Imam masjid sekaligus penyandang status gay di Afrika Selatan, bernama Muhsin Hendrick menyatakan bahwa penafsiran tentang ayat kaum Luth tidak memiliki konteks. Perlu kembali pada teks yang jelas meniadakan pelarangan konsep homosexual di dalamnya.

Menurutnya, pelarangan yang tercantum dalam 8 ayat di Al Quran tentang kaum Luth yaitu adanya unsur paksaan, pemerkosaan dan semacamnya. Ia beranggapan jika hubungan antar lelaki dilakukan dengan dasar suka sama suka maka hal itu diperbolehkan. Meski tampak manis, sesungguhnya konsep penafsiran yang dilontarkan oleh tokoh gay muslim ini banyak bermasalah.

Pertama, tentu Al Quran bukan lah satu-satunya sumber hukum Islam. Sumber hukum Islam meliputi Hadis, Ijma (konsensus ulama) hingga kiyas. Tentang ayat-ayat kaum Luth bahkan nabi SAW sendiri yang melaknat perbuatan kaum Luth. Apakah bentuk pelarangan itu dikarenakan penolakan nabi atas perilaku pemaksaan atau pemerkosaan? Kemudian mengakomodir perbuatan homosexual? Sangat tidak masuk akal.

Perilaku kaum Luth bagi bangsa Arab sendiri sudah melekat dalam keseharian mereka. Kisahnya amat meluas dan dikenal oleh banyak orang. Seruan-seruan kitab suci menjadi semacam penguat atas amat buruknya perilaku yang mereka perbuat. Kedua, tidak ada satupun dari kalangan ulama Islam dari masa ke masa yang membenarkan perilaku homosexual dan semacamnya.   

Hal ini semakin menjelaskan bahwa konsepsi yang dikeluarkan oleh kaum LGBT tidak mendasar. Karena Islam dalam sudut pandang ilmu, ilmu Tafsir misalnya amat menghargai perangkat penunjang keilmuan seperti pemahaman ayat sesuai konteks, pemahaman bahasa Arab, sebab-sebab turunnya ayat, hubungan antar ayat, nasikh mansukh dan lain sebagainya.

Terakhir, dari sisi bahasa dijelaskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh kaum Luth disebut sebagai perilaku fahisyah. Kata fahisyah digunakan juga pada ayat lain,  yaitu (QS Al Isra 32) untuk mensifati perbuatan zinah. Dari itu para ulama dalam berbagai cabang keilmuan Islam tidak ragu untuk menyatakan keharaman perbuatan ini, serta membuat sistem pencegahan hingga hukuman bagi yang melakukannya.

Baca juga: Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Mendermakan Separuh Hartanya untuk Islam

Setelah pemaparan singkat ini nampaknya jelas sebab hukum (illat) dari pengharaman LGBT adalah kerusakan tatanan dunia yang akan terjadi setelahnya. Konsep ketahanan umat manusia akan hancur, mengalirnya kasih sayang dan cinta yang tidak sesuai, intensitas berbagai penyakit kelamin akan terus bertambah, hingga yang paling kita takuti adalah murka Allah SWT yang akan diturunkan bagi hambanya yang tidak berbenah.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *