Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Hari Perdamaian Dunia menurut Sudut Pandang Islam

Hari Perdamaian Dunia menurut Sudut Pandang Islam

Pada tanggal 21 September setiap tahunnya dunia memperingati hari perdamaian dunia, International Day of Peace. Menurut laman wikipedia Indonesia, peringatan ini sudah ada sejak tahun 1982, akan tetapi baru resmi dijadikan hari internasional pada tahun 2013 oleh Sekretaris Jenderal PBB untuk pendidikan perdamaian.

PBB menyatakan adanya peringatan hari perdamaian dunia semata-mata demi untuk mengurangi kekerasan dan kerusakan serta dampak buruk lainnya akibat peperangan. Selanjutnya PBB baru-baru ini juga telah menyatakan tema hari perdamaian dunia tahun ini adalah “memulihkan lebih baik untuk dunia yang adil dan berkelanjutan.”

Sebagaimana kita ketahui, sampai hari ini masih ada bangsa di belahan dunia tertentu yang belum merasakan kedamaian. Sebut saja saudara-saudara kita di Myanmar, Afganistan, Yaman hingga Palestina seluruh penduduknya masih terancam jiwanya karena perselisihan yang terjadi.

Meski banyak dari motif kekacauan dan peperangan antar umat manusia sendiri lebih banyak disebabkan oleh faktor politik, dari sudut pandang lain, Islam misalnya, bagaimana melihat makna dari hari perdamaian dunia?

Hari perdamaian dunia menurut Islam adalah rutinitas dan prioritas

Andaikan seorang muslim benar-benar memahami ajaran agamanya, niscaya dapat dipastikan ia akan selalu berada dalam situasi yang damai. Seluruh sumber dari agama menyatakan kedamaian adalah nilai utama dalam sebuah masyarakat, khususnya masyarakat yang terdapat di dalamnya umat Islam.

Al Quran, As Sunnah serta “perasan” ilmu yang lahir dari keduanya menyatakan bahwa perdamaian adalah keharusan yang perlu disebarkan, dibiasakan, dan dijaga demi berlangsungya perkembangan. Para ulama mengatakan bahwa terjaganya jiwa, hifzhun nafs adalah prioritas pertama dari ajaran tujuan adanya syariat Islam (Maqaashidus Syari’ah).

Berikut adalah salah satu ayat dalam Al Quran yang menjunjung tingga persaudaraan:

Install Takwa App

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imron, 103)

Sementara nabi Islam, nabi Muhammad SAW telah menyatakan bahwa beliau diutus oleh Allah SWT sebagai juru kasih sayang di muka bumi ini.

قِيلَ: يا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ علَى المُشْرِكِينَ قالَ: إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وإنَّما بُعِثْتُ رَحْمَةً

 “dikatakan kepada Rasulullah, ‘wahai Rasulullah, doakan (kejelekan) pada kaum musyrik,’ beliau berkata, ‘sesungguhnya aku tidak diutus sebagai seorang pelaknat, namun aku diutus sebagai rahmat (kasih sayang)’ (HR Muslim).

Islam dan Rasulnya mengajarkan umat Islam untuk mengutamakan perdamaian, saling menasehati, dan memberikan maaf yang mana itu dijadikan prinsip dalam berinteraksi dengan siapapun. Hingga apabila kondisi mengharuskan untuk melakukan kekerasan atau peperangan seorang muslim dilarang untuk melampaui batas, merampas hak orang lain, dan melakukan kekejaman.

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al Baqarah, 190)

Dengan demikian jelas sudah inti dari ajaran Islam adalah perdamaian, namun tidak menafikan perjuangan untuk melawan kekejaman dan kezaliman. Bagaimanapun, seorang muslim dihimbau untuk mempertahankan kehormatannya, menjunjung tinggi agamanya serta melawan siapapun yang hendak merampas kemerdekaannya. Hal itu yang saat ini sedang diperjuangkan oleh saudara-saudara muslim di berbagai tempat.

Selanjutnya, dengan jelas pula umat Islam akan menerima dan mendukung segala inisiatif dan proyek yang berasaskan kebaikan seperti peringatan hari perdamaian dunia yang digagas oleh PBB. Karena bagi Islam perdamaian adalah hal esensial yang menjadi syarat tumbuh kembang suatau bangsa.

Sejarah mencatat di awal masa perkembangan agama Islam, nabi SAW beserta para sahabat merasakan penindasan dan kezaliman yang dilakukan oleh bangsa Quraisy. Kaum muslimin saat itu amat lah lemah dan tidak memiliki perangkat untuk melindungi diri sendiri. Dari itu Rasul berinisiatif untuk mencari “tanah lain” untuk mengembangkan dakwah Islam, maka pada akhirnya dipilih lah kota Madinah.

Di kota Madinah, Rasulullah SAW membangun peradaban kemanusiaan yang salah satu asasnya adalah perdamaian. Kondisi majemuk penduduk kota Madinah saat itu yang terdiri dari berbagai kabilah, dan agama disatukan oleh nabi SAW dalam sebuah kesepakatan konsensus yang dinamakan Piagam Madinah. Di kota baru itu, semua menanggung nasib yang lain, bersaudara, dan melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan apa yang termaktub dalam piagam tersebut.

Baca juga: Meresapi Makna Ikhlas Demi Kelapangan Hati

Untuk menutup tulisan ini, penulis ingin mengutip sebuah hadis dari baginda Rasulullah SAW yang menjadi resep bagi setiap muslim agar selalu berada dalam kedekatan dan kasih sayang di antaranya. Rasulullah SAW berkata: “kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga saling mengasihi. Maukah kalian aku tunjukan atas apa kalian bisa saling mengasihi? Mereka berkata, ‘iya, wahai Rasulullah,’ Rasul berkata, ‘Sebarkan lah perdamaian di antara kalian.” (HR Bukhari-Muslim)

Wallahua’lam bishowab

 

_

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *