Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Hakikat Mizan, Timbangan Amal di Hari Akhir

Hakikat Mizan, Timbangan Amal di Hari Akhir

Umat Islam mengimani bahwa setiap  amalan manusia di dunia akan dibalas dengan setimpal. Untuk menghitung amalan tersebut akidah umat Islam pun menggunakan pendekatan yang dekat dengan nalar dan dapat menjadi acuan bagi logika, yaitu timbangan. Dalam diskursus agama Islam timbangan ini dinamakan Mizan. Dr Abdullah Jinany dalam kitabnya, Sa’adatul Anam bisyarhi Aqidatil ‘Awwam menjelaskan, maksud dari Mizan adalah Allah Swt  menampakan dalam catatan amalan setiap hambanya “timbangan” sesuai dengan derajat amalan menurut perhitungan Allah Swt.

Para ulama akidah menetapkan peristiwa penimbangan ini sebagai salah satu hal ghaib yang terjadi di masa setelah kebangkitan umat manusia dan wajib untuk diimani. Hal itu karena banyaknya periwayatan baik dari Al Quran maupun As Sunnah yang menyatakan kebenaran akan peristiwa Mizan. Salah satunya adalah QS Al Anbiya, 47:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ     

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”

Tiada yang dirugikan dalam Mizan

Imam Al Qurthubi dalam tafsinya menjelaskan ayat di atas bahwa di hari kiamat nanti akan diberikan pada setiap orang sebuah timbangan yang akan menimbang seluruh amalannya. Timbangan ini dijelaskan tidak akan menzalimi siapapun. Amalan baik akan diletakan dalam satu tuas, dan amalan buruk akan diletakan pada tuas lainnya. Atau bisa juga ditafsirkan dengan banyaknya timbangan bagi seorang hamba, yang akan ditimbang segala jenis amalannya.

Timbangan adalah sebuah alat untuk mengukur massa suatu benda. Dari penjelasan di atas terlihat Imam Al Qurthubi masih menggambarkan Mizan seperti sebuah neraca timbangan dengan dua buah bandul pemberat yang menentukan mana di antara keduanya yang lebih berat. Gambaran seperti ini sah saja sebenarnya terdetik dalam fikiran kita, akan tetapi tentunya hakikat dari Mizan itu sendiri hanya Allah Swt yang tahu, saat ini saja kita mengenal banyak macam timbangan, ada timbagan pegas, bandul, gantung, emas dlsb

Yang menjadi fokus tulisan ini adalah tujuan dari adanya mizan itu sendiri. Allah Swt sendiri bersifat Sariiul Hisab, atau yang diterjemahkan dengan yang paling cepat dalam menghitung. Tentu dengan kemampuan-Nya yang tiada tara bisa saja Allah Swt menentukan mana yang masuk ke dalam golongan surga atau neraka. Untuk itu, dalam kitab Irsyadus Sari bi Syarhi Shahihil Bukhari, Abul Abbas Ahmad Al Qasthalany menjelaskan bahwa adanya Mizan diperuntukan sebagai bukti bagi hamba yang tidak bisa terbantahkan.

Install Takwa App

Maksudnya, dari Mizan itu hamba akan melihat apakah ia menyiakan hidup jauh dari ketaatan atau menyempurnakan hidup dalam ketaatan. Dari sini juga beliau melanjutkan sang hamba dapat diperlihatkan betapa dermawannya dan mulianya Allah Swt atas maaf dan ampunan yang Ia berikan walau sang Hamba penuh dengan maksiat dan dosa. Dengan itu mizan tidak lah mutlak menjadi penentu dari masa depan seorang hamba apakah ia berada dalam naungan kasih sayang atau justru murka-Nya.

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahihnya:

, قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «لن يُدخل أحدًا عملُه الجنة» قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: «لا، ولا أنا، إلا أن يتغمدني الله بفضل ورحمة»

“aku mendengar Rasulullah Saw berkata seseorang tidak akan masuk surga dengan amalnya.” Mereka berkata, walaupun engkau wahai Rasulullah? “tidak, tidak pun aku, kecuali Allah yang meluaskan kemurahan dan kasih sayangnya.”

Jika dicermati, hadis di atas dan ketetapan bahwa amalan lah yang akan menyelamatkan manusia di hari akhir seperti terdapat perselisihan. Sebenarnya tidak, hadis di atas menyatakan bahwa bentuk amalan jika dalam artian luas memang tidak dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka. Diperlukan iman, ikhlas, manfaat dan piranti kebaikan lainnya untuk menjadi kan amalan bernilai di hadapan Allah Swt.

Baca juga:Mengapa Izrail Ditugaskan Sebagai Malaikat Pencabut Nyawa?

Selain itu, mizan tentunya diperuntukan bagi hamba yang beriman ke pada Allah Swt dan para rasulu-Nya. Bagi mereka yang telah sampai dakwah Islam yang benar dan murni dan masih enggan menerima kebenaran Islam sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al Kahfi ayah 105, yang artinya: “mereka adalah orang-orang yang tidak mengimani ayat-ayat Tuhan dan hari pertemuan dengan-Nya, maka gugurlah amalan mereka dan kami tidak akan menimbang bagi mereka amalan di hari kiamat nanti.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *