Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Hakikat Kemuliaan Wanita dalam Islam

Hakikat Kemuliaan Wanita dalam Islam

Tema wanita dalam sebuah sudut pandang tertentu tampaknya tidak akan pernah ada habisnya. Banyak yang berpendapat hal itu dikarenakan masih banyak realita diskriminasi terhadap wanita yang masih terus dilakukan. Tidak terkecuali agama Islam, wanita dalam Islam beserta hak dan perannya juga tidak pernah jauh dari perhatian para ulamanya. Lantas bagaimana Islam melihat posisi wanita dalam kehidupan?

Rasulullah SAW pernah bersabda jika orang yang paling utuh keimanannya dari kalian adalah yang paling melakukan kebaikan ke pada para wanitanya (istrinya). Sementara dalam posisinya sebagai ibu, Rasulullah melipat gandakan kewajiban bagi anak untuk lebih mengutamakan ibu tiga kali lebih besar dalam kebaktian dari pada ayah. Dan sebagai anak, Al Quran dan hadis telah menyatakan posisi yang tidak kalah penting.

Untuk hak hidup, anak wanita telah dijamin kehidupannya oleh QS At Takwir 7 dan 8. Dan Rasulullah SAW juga pernah menjanjikan surga bagi yang dapat mendidik anak perempuannya dengan baik. Hingga pada akhirnya yang dapat kita lihat, isu wanita dalam Islam adalah sebuah gambaran yang amat luas tentang betapa agama ini mencintai dan mengasihi wanita.

Bentuk cinta kasih kepada wanita dalam Islam

Beberapa hari sebelum wafat Rasulullah SAW sakit dan memaksakan diri untuk menemui umatnya. Dan apa yang beliau sampaikan saat itu termasuk dari pesan dan wasiat penting di akhir hayatnya. Beliau berkat, “wahai manusia, Allah.. Allah.. dalam Shalat (jagalah shalat kalian), wahai manusia bertakwalah pada Allah tentang wanita, aku wasiatkan kalian untuk berbuat baik pada wanita.”

Prinsipnya, segala apa yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah dan ajaran-Nya. ketika sampai pada umatnya, para ulama menggolongkan hadis Rasul dalam berbagai hukum. Ada yang wajib ditunaikan, sunnah baik dikerjakan dst. Jika dicermati lebih detail, tentu apa yang hendak beliau sampaikan di akhir masa kehidupannya adalah bukan perkara kecil. Sebaliknya, beliau memahami bahwa perkara wanita akan menjadi sebuah perkara tak berkesudahan di hadapan umatnya nanti.

Secara umum Islam memperlakukan dan memandang wanita dengan sudut pandang kehormatan, tidak membedakan satu sama lain dan menyetarakan hak dan kewajiban dalam banyak perkara dengan lawan jenisnya, pria.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا “(الإسراء:70).

Install Takwa App

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al Isra 70)

Keduanya, baik wanita dan pria diberikan hak untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Dari itu Islam menjamin bahwa wanita wajib juga untuk belajar. Banyak tokoh-tokoh ulama wanita Islam seperti Sayyidah Aisyah Ra dan Sayyidah Nafisah Ra. Dari bagi orang tua wajib untuk membiayai sebatas kemampuannya tanpa membedakan antara pria dan wanita. 

Dalam menjalan kan tugas hidup di dunia, wanita dan pria saling berbagi kewajiban. Rasul mengatakan bahwa wanita adalah mitra hidup bagi pria. Dengan ini keduanya adalah khalifah di muka bumi. keduanya membagi peran dalam mengisi ruang hidup, wanita dan pria bisa saling mengambil tugas apapun selama sesuai dengan kesepakatan keluarga dan tidak menyalahi norma agama dan masyarakat.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً”( البقرة:30)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Islam juga menyetarakan kewajiban melaksanakan ibadah bagi wanita dan pria, meski pada prakteknya terdapat beberapa perbedaan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

 وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “( التوبة:71)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Di depan hukum, menurut islam tiada perbedaan antara wanita dan pria. Permasalahan kesaksian, hak waris dan hak gugat cerai dari pihak wanita yang kerap dipermasalahkan kaum feminis juga sudah dibahas tuntas oleh para peneliti dan ulama Islam, hampir tiada kerancuan apabila mereka mencoba memahami dengan bijaksana.

Baca juga: Kisah Thariq bin Ziyad, Sang Penakluk Andalusia (Spanyol)

Seperti itu lah sedikit gambaran wanita dalam Islam yang coba penulis paparkan. Perbedaan antara wanita dan pria dalam sudut pandang Islam adalah tingkat ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Di masa ini sungguh tidak bijaksana melihat wanita sebagai manusia no 2 di belakang para wanita. Bahkan demi kemajuan, masyarakat perlu menjadikan dan lebih memberdayakan peran wanita dalam sektor-sektor kehidupan dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan fitrah yang telah Allah berikan kepadanya.

Wallahua’lam bishwowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *