Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Bohong untuk Kebaikan, bolehkah?

Bohong untuk Kebaikan, bolehkah?

Bohong adalah sebuah sifat tercela yang diharamkan oleh Islam. Namun benarkah ada bohong untuk kebaikan dibenarkan oleh Islam? Sebagaimana dijelaskan di awal, secara mendasar segala bentuk bohong tidak diperkenankan dalam islam.  Bahkan Ibnu Muqaffa’, seorang sastrawan arab mengatakan sebuah ujaran bahwa pangkal dari dosa adalah dusta, ra’su adz dzunuubi al Kadzib. 

Al Quran juga mencela orang-orang yang melakukan bohong, di antaranya ada di QS Ghafir; 28: إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ “Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk bagi orang yang melampaui batas dan pendusta.” Rasul bahkan dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahihain mereka menggolongkan seorang pembohong sebagai salah seorang munafik. “ciri-ciri orang munafik tiga, apabila ia berbicara berdusta, apabila ia berjanji ia ingkar dan apabila dipercaya ia berkhianat.

Bagaimana Islam mentolelir bohong untuk Kebaikan?

Dasar dari pembolehan bohong demi kebaikan adalah sebuah hadis dari Ummu Kultsum RA, seorang shahabat mulia Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, Kitab Al Iman, bab tanda-tanda orang munafiq, serta oleh Imam Muslim dalam kitab Al Iman, bab keterangan tanda-tanda munafiq.

Berikut adalah teks hadisnya: 

أَنَّ أُمَّهُ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عُقْبَةَ بْنِ أَبِى مُعَيْطٍ وَكَانَتْ مِنَ الْمُهَاجِرَاتِ الأُوَلِ اللاَّتِى بَايَعْنَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقُولُ « لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِى شَىْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

“Bahwasanya Ummu Kultsum bint ‘Uqbah bin Abi Mu’ith yang merupaka seorang muhajirah (kaum wanita dari kalangan muhajirin) adalah kalangan awal yang berbaiat pada Nabi SAW telah mendengar Rasulullah SAW berkata ‘bukan lah sebuah dusta bagi yang memperbaiki (kondisi) antar manusia, berkata baik dan menyampaikan kebaikan.’ Ibnu Syihab berkata, dan aku tidak mendengar ia mentolerir dusta/bohong yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam tiga perkara. Peperangan, memperbaikai hubungan manusia dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami.”

Hadis di atas menjelaskan toleransi Islam untuk mengecualikan tiga perkara dalam dusta atau bohong. Pertama, dalam keadaan perang. Rasulullah SAW pernah bersabda, bahwa peperangan adalah tipuan. Sebagaimana kondisi di medan perang memang mengharuskan berbagai cara untuk memenangkannya.

Install Takwa App

Terdapat sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa di saat perang Uhud, ada yang berkata ke pada Abu Sufyan, panglima perang kaum Quraisy saat itu, bahwa kaum muslimin tengah mempersiapkan pasukan besar, dan orang-orang yang telah enggan berperang sebelumnya bersama Rasul telah menyesal dan kembali siap berperang. 

Karena itu Abu Sufyan, membatalkan rencananya untuk kembali memerangi kaum muslimin. Padahal kenyataannya di saat itu kondisi pasukan kaum muslimin bertolak belakang dengan yang dikabarkan pada Abu Sufyan.

Perkara kedua adalah perkataan yang dimaksudkan untuk memperbaiki situasi dengan orang lain. Hal tersebut biasanya dilakukan dengan cara mengucapkan hal-hal baik di kepada seseorang dengan maksud menjalin silaturahim dan menuntaskan hasad dan dendam.

Sementara perkara terakhir yang diperbolehkan dustanya adalah bohong istri pada suami ataupun sebaliknya. Hal ini dikarenakan keluarga adalah salah satu komponen masyarakat terpenting dalam Islam. Untuk melanggengkan kebaikan dan keteduhan keluarga diperbolehkan bagi seorang suami atau istri memuji pasangannya, seperti memuji ketampangan atau kecantikan, kedermawanan, kesalehan dlsb.

Baca juga: Kebiasaan Mulia Rasul di Bulan Ramadhan

Demikian tadi adalah beberapa bentuk kebaikan yang syariat Islam bolehkan bagi umatnya untuk berbohong. Tentu, apabila dapat memilih sebaliknya untuk dapat tetap jujur alangkah baiknya seoang muslim untuk berterus terang akan keadaan sebenarnya. Namun, syariat Islam dengan keluwesannya mengerti bahwa keadaan seorang manusia tidak selalu tetap, terkadang ada saja hal yang mengharuskannya untuk berbohong.

Wallahua’lam bishawab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *